iTravel

Ikutan Yuk!

Ehem…ehem…

Bolehlah ya kerjaan dipromosiin di sini 😀

Promosiin apa, Dep?

Promosiin ituh…trip bareng-bareng 😀

Tapi trip ini beda. Bukan cuma sekedar jalan-jalan tapi ada nilai plusnya.

Apa nilai plusnya, Dep?

*anggap aja ada 2 orang lagi ngobrol ya Seus…*

Nilai plusnya adalah ada…sharing ilmu gitu dari Ustadz/Ustadzah Daarut Tauhiid. 🙂

*langsung benerin kerudung*

Jalan-jalannya jadi serius dong, Dep?

Ya gak serius-serius kayak pengajian. Tapi gimana kita nanti didorong untuk ngobrolin hikmah sepanjang perjalanan. Ngobrolnya juga bisa sembari makan kuaci kok. 😀

Oh jadi pulang dari jalan-jalan, bisa bersih hati ya Seus?

Aamiin…namanya juga proses, Seus. Yang penting mah gimana cara kita untuk selalu ibadah meskiii lagi jalan-jalan dan hura-hura. 😀

Siap! Sok atuh mana pilihannya?

JENG JENG JENG…*DRUM ROLL*

wisata-memanahberkuda-feb-2017
Kalo kita takut naik kuda, tenang…ada kuda poni! *taro timbangan di samping kasur*

Ada lagi gak, Dep?

Ada dong. Nih!

wh-pari-maret-2017

Wow…pake speadboat ya, Dep? Insya Allah aman ya!

Aamiin…ikhtiar maksimal Seus agar kita bisa snorkling cantik di Pari.

Terus, cuma domestik aja ya Dep?

Gak kok, ada internasyionel juga Seus. Mau kemana kamu?

Nih ya aku kasih yang internasyionelnya.

Wah…lengkap, Dep!

Iyes, tinggal bawa keluarga, pasangan, atau siapa ajalah ke destinasi ini. Karena ya…kita perlu tuh rehat sejenak dari rutinitas (ahzek!). Capek kan ya bahas Pilkada mulu. #eh

Iyes banget. Terus kalo mau ikutan, ada syarat apa?

Gak ada syarat khusus, selain bawa kelapangan hati untuk mau kenalan sama orang-orang baru ajaaaaa. Open trip kayak gini tuh seru lho. Bisa kenalan dengan teman-teman baru. Kayaknya aku pernah deh bikin tulisan tentang itu. Bisa cek di sini atau di sini.

Daftar dong, Dep! Ada no hp?

Ada banget, Sis. WA aja ke 0852-8910-2222 atau telp aja ke 021-7235255. Gampang kan?

Gampang banget!

Makasih ya Dep.

Iya sama-sama. Buruan daftar ya, sebelum kuotanya penuh! 😀

Hokeh! See ya, Dep!

See you when I see you. 😉

1303798627-travel-through-the-land-so-that-their

Deva

iTalk

Penting Gak Gabung di Komunitas

Penting gak penting sih…tergantung tujuan dan niat kita apa.

Beberapa waktu ke belakang, saya ikut Komunitas Petualang 24 yang rajin banget open trip ke membernya dengan tujuan daerah yang seru-seru. Selain berkenalan dengan teman-teman baru, keuntungan bergabung di sebuah komunitas adalah memperluas networking, yang mungkin saja akhirnya bisa jadi teman kerja atau bahkan lifetime-partner dan juga mengasah passion kita sesuai jenis komunitas tersebut.

Jika kita passionate dengan fashion, kita bisa saja bergabung dengan komunitas fashion sehingga ilmu tentang fashion bisa bertambah. Atau jika hobi memasak maka bergabung dengan komunitas memasak ya sudah pasti berguna banget. Apalagi jika dari hobi tersebut malah membuat usaha. Enak kan? 🙂

Keuntungan-keuntungan di atas bisa kita dapatkan asal kita bersedia untuk membuka diri.

Tapi…

Jangan bergabung di sebuah komunitas jika kita hanya mau pendapat kita saja yang diterima.

Kenapa?

20130914_130043[1]
Hal yang kayak gini, yang bikin betah ada di Komunitas P24 🙂
Ya karena member komunitas kan banyak, dengan karakter yang berwarna-warni. Jadi, begitu kita bergabung dengan komunitas, kita harus siap dengan segala perbedaan yang ada. Sikapi dengan bijak. 🙂

Kalau kamu, bergabung dengan komunitas apa saja?

Deva

iTravel

Tips Membuat Open Trip

Duile judulnya seakan-akan sudah pernah mengadakan open trip jutaan kali ya hahaha…tapi berhubung pernah jadi boleh lah ya bikin tulisan ini. 😀

Tapi sebelum membahas tentang tipsnya, teman-teman sudah tahu kan ya open trip itu apa? Sudah ada yang pernah coba?

Oke oke, jadi gini…

Open trip itu perjalanan yang dilakukan dengan teman-teman baru. Beneran baru. Karena biasanya berkenalan saat memutuskan untuk bergabung di perjalanan. Sekarang sudah banyak open trip semacam ini, biasanya dilakukan oleh para komunitas traveling dan dipublikasikan di media sosial. Landasan utama seseorang untuk bergabung di sebuah open trip adalah kepercayaan.  Jadi, para pembuat open trip sangat harus berusaha menjaga kepercayaan dari para membernya tuh.

Tips yang pertama untuk membuat open trip adalah pastikan bahwa kita tahu medan yang dituju. Survey is a must. Jangan sampai kita semangat banget ke Aceh tapi kita belum tahu ke sana naik apa, belum tahu ongkosnya berapa, dsb. Kecuali kalau memang dari awal jujur mengatakan bahwa belum pernah ke sana tapi bertujuan untuk berpetualang bersama. Kan ada tuh komunitas yang biasa berpetualang ke sana ke mari tanpa tahu lebih lengkap seluk beluk lokasi. Tidak salah dengan hal tersebut karena sudah diinfokan dari awal. 🙂

Kedua adalah punya kenalan yang bisa diandalkan selama di lokasi. Kenapa? Agar informasi detail tentang lokasi, yang belum tentu ada di internet, bisa kita dapatkan. Biasanya fungsi ini sangat terasa jika berada di desa terpencil, yang belum banyak dibahas di internet. Dan sangat memudahkan jika kita perlu tawar menawar harga dengan bahasa setempat.

Menjadi sosok yang komunikatif sangat diperlukan bagi teman-teman yang berniat membuat open trip. Coba bayangin, kalau kita nih tertarik ikut open trip ke sebuah negara, misalnya Thailand tapi Team Leader-nya tidak update menjelaskan kebutuhan kita selama di sana, atau tidak detail menjelaskan itinerary-nya, kan sebagai customer kita agak kurang nyaman. Nah, sosok Team Leader harus siap dihubungi kapan saja untuk ditanya-tanya itinerary, biaya, atau bahkan rekomendasi restoran selama di sana oleh customer. Meski suasana hati langsung kurang baik, tapi pelayanan harus tetap maksimal.

Selama di lokasi, pastikan itinerary berjalan semaksimal mungkin. Namanya perjalanan, tidak ada yang bisa memastikan tentang ketepatan acara. Terkadang tiba-tiba hujan, atau ban bocor, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya dapat saja terjadi. Jika hal yang di luar rencana terjadi, pastikan bahwa ada komunikasi yang lancar antara Team Leader dengan para member untuk meminamilisir complain.

Yang terakhir, siap dikritik. Seperti yang sering dikatakan Bunda Dorce, “Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT” maka kita sebagai manusia harus selalu siap dikritik. #aish. Lagian ya manalah kita mampu untuk selalu memuaskan keinginan tiap orang. Jadi, kalau tiba-tiba selama perjalanan ada aja keluhan dari member ya…bersabarlah Nak. Tanggapi dengan komunikasi yang sopan dan baik, jelaskan kondisinya seperti apa. Intinya: lakukan yang terbaik saja setiap kali melakukan open trip. 🙂

Lima tips ini semoga membantu ya bagi teman-teman yang berniat membuka open trip. Kalau pintar hitung sana-sini, biasanya dari open trip ini teman-teman bisa jalan-jalan tanpa harus mengeluarkan biaya lho. 😉

Satu lagi, selalu ingat untuk ajarkan “tempatkan sampah pada tempatnya” yow karena udah 2016 masa iya jalan-jalan masih aja ninggalin sampah di luar tempatnya. 😛

DSCN9590.JPG

See ya!

Deva

iTravel

Istana Pagaruyuang yang Maimbau

Jika tidak salah ingat, setelah 4 hari saya dan keluarga sibuk berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk berwisata keluar kampung. Hehehe…soalnya sudah hampir 10 tahun kami tidak pulang kampung, pasti banyak sekali sanak keluarga yang harus dikunjungi. Dari keluarga di Solok hingga ke Surian. Dari satu piring nasi ke piring nasi lagi. Masya Allah, saya jadi ingat reaksi teman-teman kantor saat saya masuk kembali setelah dari Padang, “Devaaa…kamu tembem banget!” Hehehe…salahkan setiap hidangan di depan mata yang rasanya sangat luar biasa! Sedikit selingan, saat di Padang, kami juga makan di restoran-restoran tapi ah, rasanya gak seenak buatan sanak keluarga sendiri. Mungkin karena cuaca yang dingin sehingga sehari saya bisa makan 4 kali dengan porsi yang banyak pula! 😀

Oke, kembali ke rencana berwisata.

Setelah browsing sana-sini dan bertanya jarak yang harus kami tempuh – kampung saya namanya Bukit Gumanti, yang letaknya jauh lah dari mana-mana sehingga masalah jarak harus sangat kami perhatikan – maka kami memutuskan untuk ke istana Pagaruyuang. Terpikat sekali dengan sejarah yang mengiringinya dan juga tergoda dengan Danau Singkarak yang akan kami lewati.

Sip, mari kita jalan.

Jalan dari rumah etek (re: tante) sekitar pukul 07.00 pagi dan perkiraan ya jam 11 insya Allah sudah tiba di lokasi. Dengan menggunakan 2 mobil, kami pun berangkat. Jalanan yang kami tempuh masya Allah berkelok-kelok tiada henti. Selain itu, driver yang kami sewa juga tidak kenal rem, kayaknya. Alhasil kakak dan keponakan-keponakan rada sedikit mabok ya.

IMG_9367
Dari generasi ke generasi. Biarpun lelah, yang penting eksis. 😀

Saya lupa berapa harga tiket yang harus dibayar. Yang saya ingat adalah pemandangan kali pertama di Istana tersebut. M E G A H!

Dan, rame.

Rame banget!

Ya…lebih kurang seperti di Taman Mini gitu jadinya…

IMG_9409

Mungkin dikarenakan jalanan yang berkelok-kelok tadi, sehingga semangat berkeliling istana Pagauruyuang agak sedikit kendor. Saya sih masih semangat tapi ya mau bagaimana kan ngikut yang mayoritas. 😀

Untuk masuk ke istana ini, tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Sehingga harus dititipkan. Kami pun bergantian masuk.

IMG_9377
Cantik ya ornamen interiornya. 🙂

Ternyata ada beberapa lantai di dalam Istana Pagaruyuang ini. Coba bayangkan, tangga yang kecil harus dilalui banyak orang.

IMG_9383
Sepakat ya kalau ini rame?

Agak sedikit kurang nyaman dan saat saya lihat wajah anggota keluarga yang lain, terlihat sekali kelelahannya. Ya sudah kami memutuskan tidak terlalu mengeksplore istana tersebut.

Setelah kami keluar dari istana, eh ternyata keponakan-keponakan lebih suka untuk bermain mobil-mobilan dong dan yang keponakan perempuan lebih suka naik kereta keliling istana. Yuk ah, tante ikut naik kereta aja. 😀

Saat berkeliling, ternyata tidak hanya 1 istana tapi juga ada istana-istana kecil lainnya.

IMG_9401

IMG_9405

IMG_9417

Sungguh disayangkan bahwa ada timbunan sampah di beberapa tempat yang pasti mengganggu kenyamanan wisatawan. 😦

***

Oh  iya, teman-teman sudah pernah dengar kan kalau istana ini pernah terbakar tahun 2007? Jadi sebenarnya Istana Pagaruyuang yang sekarang ini adalah replikanya saja tapi desain dan konstruksinya masih mempertahankan bentuk aslinya.

Lain kali mau ah balik lagi ke Istana Pagaruyuang ini. Rasanya sejarah Istana Pagaruyuang masih maimbau awak (re: maimbau=memanggil, awak=saya).

Sementara menunggu kesempatan ke sana lagi, teman-teman bisa mengenal sejarah Istana Pagaruyuang dari sini ya.

See you!

Deva

 

iLearn, iTravel

Jangan Traveling!

Iya, ini kesimpulan yang saya dapatkan setelah pengalaman kurang menyenangkan saat traveling akhir pekan kemarin di Curug Bengkok Leuwi Hejo dan untungnya ini tidak mempengaruhi keseluruhan acara jalan-jalannya.

Jadi, ketika saya dan teman-teman sedang duduk santai di warung Curug Bengkok Leuwi Hejo, ada yang ngebuang sampah bungkus rokok sembarangan gitu! Doh itu ya bikin kaget dan miris.

Ada seorang teman yang menegur si pembuang sampah sembarangan itu. Teman saya negor dengan santai banget, “Itu sampah kenapa dibuang sembarangan?” Terus dijawab, “Ya elah…ini kan sampah kertas, bisa terurai.”

Saat mendengar itu saya shok! Bisa sih tapi itu makan waktu berapa belas tahun keleus!

“Yah gak gitulah. Kalo semua orang berpikiran sama kayak lo yang ada sampah di sini numpuk. Lo jangan mau jalan-jalannya doang dong!”

“Yawda sih…gak ada tempat sampah juga di sini…” – sambil celingak-celinguk nyari tempat sampah.

“Ya elaaaah…lo kan bisa bawa dulu. Ntar kalo ada tempat sampah baru dibuang.”

“Kotor! Lagian gak bakalan banjir lah di sini”

“Masukin tas lo lah. Tas lo gede ini. Selipin satu juga gak apa-apa.”

Akhirnya si pembuang sampah sembarangan itu pun memungut sampahnya lagi dan menyimpannya di tas.

***

Kesel gak?

Saya sih kesel banget!

Salut sama kegigihan teman saya yang negor dengan santai dan bisa membuat sampah terpungut lagi.

Terus ya, saya jadi ingat ketika saya ke Kupang sama bos saya. Saat itu, kami sedang di dalam mobil. Terus sopir sewaan membuang sampah teh kotak dari dalam mobil ke jalanan. Tahukah kamu apa yang bos saya lakukan?

Bos: “Eh A [sebut dia A, daripada Mawar, kan? Ini kan sopirnya laki-laki dibahas], itu kamu kenapa buang sampah sembarangan?

A: Hehehe…kan gak apa-apa, Bos!

Bos: Berhentikan mobilnya dan tolong pungut lagi sampah tersebut.

Mobil pun berhenti dan sopir tersebut ngambil lagi sampahnya dan dia pun cari tempat sampah terdekat.

***

Dari dua contoh di atas, coba deh…geleng-geleng kepala gak sih kalau sampai sekarang…masiiiiih aja ada orang yang harus kita ingatkan untuk membuang sampah di tempatnya. Kalau pun gak ada tempatnya, bisa kan masukin tas dulu atau tenteng aja dulu kek ya!

Pengin banget bilang, “Keponakan-keponakan saya aja tau kalau sampah itu harus dibuang di tempat sampah atau kantongin dulu sampai nemu tempat sampahnya”.

Balik lagi ke kejadian yang pertama.

Tadi si pembuang sampah sembarangan bilang “gak akan banjir di sana karena di sana air terjun?”

Nih dijawab secepatnya:

Foto: Ci Evi
Foto: Ci Evi

Teman-teman lihat ada warung kan di sisi sebelah kiri foto? Nah, itu lokasi kami duduk-duduk dan si pembuang sampah sembarangan sempat membuang sampah di dekat-dekat situ. Ini terjadi lebih kurang 2 jam setelah kami ngobrol itu.

Duduk santai…hujan gerimis….hujan deras…gerimis…terus kami sempat lanjut untuk ke air terjun yang lebih jauh lagi, eh pas sampai sana tiba-tiba gledek beberapa kali. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk lanjut turun dari air terjun dan mencari kamar mandi untuk berganti pakaian tapi beberapa teman lainnya memilih untuk berada di warung dulu. Eh, tidak disangka hujan semakin deras dan banjir pun datang!

Alhamdulillah teman-teman saya selamat semua. Wah, untuk cerita lengkapnya nanti deh, Insya Allah.

Kembali ke topik, kebayang gak kalau setengah dari pengunjung berpikiran yang sama, “Ah, sampah rokok doang.” atau “Sampah plastik doang! Kan gak ada tempat sampah!”

Ya elah…sorry nih ya kalau rada galak.

Kita protes kalau tempat wisata kotor. Kesel karena itu ngerusak hasil foto kita yang mau kita share di media sosial. Bilang kalau media asing terlalu menggembar-gemborkan sampah di Kuta saat foto sampah menjadi cover majalahnya. Tapi untuk naro sampah di tempatnya aja atau membawanya kembali pulang – at least sampai menemukan tempat sampah – kita enggan. Maunya tempat wisata yang bersih, indah, dan segar tapi pernah gak nanya ke diri sendiri, jangan-jangan kita, kebiasaan, dan pola pikir kita lah yang sebenarnya membuat rusak kebersihan tempat wisata. Beneran deh, I told you one think, if you not ready to clean up your trash, better you not traveling to anywhere!

Doh…please, change your mindset and behaviour! Gak susah kan buang sampah pada tempatnya? Gak kan?

Image from here

 

R.I

iLearn

Ransel atau Koper?

Semalam di grup admin BEC, Ryan nanya ke saya apakah saya termasuk ransel atau koper? Tiba-tiba ngerasa dejavu dan akhirnya kepikiran untuk nulis hal ini lebih lengkap di sini.

***

Setiap ditanya tentang ransel atau koper, saya langsung menjawab dalam hati, “tergantung”.

Tergantung tujuan, keperluan, budget, dan keinginan. Karena pada dasarnya preferensi tiap orang itu berbeda-beda. Dan rasanya gak perlu untuk pengkotakan, “kamu ransel” atau “kamu koper”. Terus jika yang memilih backpacking (yang lebih sering diidentikan dengan ransel) nyinyirin si ransel, atau sebaliknya. Itu bikin males ngeliat, males ngebaca. 😀

Sebenarnya sih ya, rasa malas dari saya tentang pengkotakan itu, gak hanya di dunia traveling aja, tapi juga di bidang lain. Misalnya, “Kamu PC atau Mac?” Haduh kakak…kita dangdutan aja yuk!

Continue reading “Ransel atau Koper?”

iLearn

Kenapa Traveling?

Banyak orang yang sering mengerenyutkan dahi tiap kali saya berinisiatif ingin pergi ke sebuah tempat hanya untuk jalan-jalan. Tempat, yang dirasa orang “Ya ampun…ngapain sih jauh-jauh? Kayak di Jakarta gak ada aja,” misalnya jika saya bilang saya ingin mencicipi makanan Empal Gentong di Cirebon.

Atau,

“Naik gunung itu capek! Gak mau di rumah aja?” misalnya tiap kali saya bilang ingin ikut naik gunung.

Atau bahkan gelengan kepala dan muka keheranan jika saya bilang, “Mau snorkling aja di sana”.

Dan saya masih ingat sekali reaksi orang rumah begitu saya pulang dari Makassar selama 2 minggu dengan kulit yang hitam legam. Jangan tanya berapa besar pupil mata mereka saat melihat saya ketika itu.

Continue reading “Kenapa Traveling?”