iLearn, iTalk

Be Original

Pernah gak sih kalian punya sebuah ide, namun karena menyunjung rasa “taat peraturan”, kalian kemukakan ide tersebut dengan cara yang prosedural?

Pasti pernah lah ya.

Terus, tetiba ide tersebut diambil oleh orang lain dengan cara potong kompas, bagaimana coba rasanya?

Ya namanya juga ruang kreasi ya. Diubah sedikit, langsung mengaku bahwa itu idenya.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh kita – yang merasa idenya diambil?

Bersabar 😀

Dan teruslah berkreasi.

Karena berlian akan selalu bersinar, meskipun di dalam tumpukan jerami dan orang yang benar-benar kreatif, tidak akan pernah kehabisan ide untuk berkreasi secara original.

Hanya tinggal terus memompa semangat agar tidak ngos-ngosan di tengah jalan dan menyerah.

Quote - Ladeva

Yuk ah, be original!

Ladeva

Advertisements
iTalk, Tauhid

Pernah Gak?

Pernah gak kamu datang ke sebuah tempat yang sama beberapa kali tapi dengan perasaan dan kondisi yang berbeda?

Aku pernah.

Kondisi ini sering membuat aku berpikir, “Sudah sejauh mana aku melangkah dari hari terakhir aku datang ke tempat ini? Apakah sudah lebih baik atau bahkan lebih buruk?”

Tapi ternyata yang lebih mendominasi hati adalah rasa syukur.

Ransel Ijo

Untuk kesekian kalinya, aku jatuh cinta padaNya.

🙂

Alhamdulillah.

 

 

iTalk

Breaking a Habit

Rasanya dua minggu lalu, load kerjaan terasa begitu tinggi – jika tidak mau dikatakan ‘over’ atau ‘too much’. Teman-teman kantor mengajak nonton film yang katanya ditunggu-tunggu reborn-nya. Saya meragu. Kemudian diyakini, “Udah…ikut aja. Ketawa-ketawa”.

Well…saya pun ikut nonton.

Sepanjang film diputar, tawa penonton meledak. Tawa teman-teman saya meledak.

Saya?

Mengerenyutkan dahi, tertawa sinis, dan berpikir, “Is it really funny? Or am the one who do not have humour sense in this cinema?”

***

Breaking the habit

Paling tidak malam dua minggu lalu, saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan, yaitu menonton film yang saya nilai dari awal tidak menarik.

Paling tidak, mencoba.

Easy for the others, may be it would be hard for me.

Deva

 

iTalk

Penting Gak Gabung di Komunitas

Penting gak penting sih…tergantung tujuan dan niat kita apa.

Beberapa waktu ke belakang, saya ikut Komunitas Petualang 24 yang rajin banget open trip ke membernya dengan tujuan daerah yang seru-seru. Selain berkenalan dengan teman-teman baru, keuntungan bergabung di sebuah komunitas adalah memperluas networking, yang mungkin saja akhirnya bisa jadi teman kerja atau bahkan lifetime-partner dan juga mengasah passion kita sesuai jenis komunitas tersebut.

Jika kita passionate dengan fashion, kita bisa saja bergabung dengan komunitas fashion sehingga ilmu tentang fashion bisa bertambah. Atau jika hobi memasak maka bergabung dengan komunitas memasak ya sudah pasti berguna banget. Apalagi jika dari hobi tersebut malah membuat usaha. Enak kan? 🙂

Keuntungan-keuntungan di atas bisa kita dapatkan asal kita bersedia untuk membuka diri.

Tapi…

Jangan bergabung di sebuah komunitas jika kita hanya mau pendapat kita saja yang diterima.

Kenapa?

20130914_130043[1]
Hal yang kayak gini, yang bikin betah ada di Komunitas P24 🙂
Ya karena member komunitas kan banyak, dengan karakter yang berwarna-warni. Jadi, begitu kita bergabung dengan komunitas, kita harus siap dengan segala perbedaan yang ada. Sikapi dengan bijak. 🙂

Kalau kamu, bergabung dengan komunitas apa saja?

Deva

iLearn, iTalk

The Old Friend Say Hi!

Hi!

Pagi ini saya mendengarkan surat Ar Rahman saat menuju kantor dan tiba-tiba sebuah ingatan menghantam pikiran saya. Sebuah ingatan tentang betapa lamanya saya tidak membiarkan jari menari di keyboard demi mempublish sebuah tulisan di sini. Jadi, inilah tulisan pertama saya setelah sekian lama tidak menulis.

***

Banyak hal yang terjadi setelah saya pindah kantor. Suasana baru, job desk baru, tantangan baru, kehebohan baru dan semuanya berujung kepada rasa syukur yang memang tidak bisa dipungkiri. Alhamdulillah, lahir batin merasa cukup. 😀

Kemana saja ransel ijo melangkah selama vakum di blog?

Well…gak banyak sih. Paling ngehits adalah ke Padang. YES…akhirnya mudik setelah 10 tahun tidak mudik! Sekeluarga pula! Dadakan pula!

Oh ya, sudah pernah kah saya bercerita bahwa tiket saya ke Flores yang telah dibeli setahun lalu terpaksa harus dihanguskan? Iya, saya tidak jadi ke Flores karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan saat itu tapi yawdalah ya…insya Allah akan ke Flores in the best time! Dan Alhamdulillah pekerjaannya juga membuahkan hasil yang memuaskan.

Yes, pekerjaan baru cukup menyita waktu dan pikiran saya. Sampai pernah saking lupanya dengan blog, ada email yang masuk mengenai pertanyaan dan tawaran kerjasama yang cukup menggiurkan [dapat tiket domestik kemanapun saya mau] membuat saya mikir “Wow…masih ada yang ingat ransel ijo” tapi ya akhirnya gak sempat saya menulis ‘ads’ tersebut.

*mendadak langsung nyesel* xD

***

Yang teranyar dari hidup saya adalah keterlibatan saya di acara Muslim Youth Camp di awal Agustus ini. Di mana saya bertugas mendampingi anak-anak Indonesia yang tinggal di luar negeri dan jarang banget yang bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya tahu rasanya menjadi seorang ibu….hahaha…susah ya bagi waktu antara diri sendiri dengan keperluan anak.

Well…bukan hidup namanya jika selalu happy. Sh*t always happen. Tapi tinggal bagaimana kita mau mengambil hikmah dari sebuah kejadian atau gak. And I am still learning to always see the things from positive side.

***

Blog English Club apa kabar?

Bwhahaha…doakan kami – para admin – bisa segera ngumpul bareng untuk membuat hal yang segar di komunitas ini. Adakan yang merindukan kami? *celingak-celinguk*

***

Last but not least, I am not sure if I will always write about travelling in this blog. Kayaknya akan banyak hal random yang akan ditulis. If you like it, good. But if you don’t like it…gak apa-apa. Semoga se-random apapun tulisan di sini bisa ada manfaatnya. 😉

***

Hi From Istana Pagaruyuang
Hi From Istana Pagaruyuang

Jadi…inilah sapaan pagi saya, seorang teman lama kalian.

Hi!

Ransel Ijo

iTalk

Four Women Travelers

Halo semuanya!

Komitmen nulis setiap hari sembari nunggu masuk kerja di tempat baru, buyar! Karena keenakan santai sambil tetap mengerjakan beberapa freelance. XD

Nah, kali ini saya mau share tentang 3 orang teman perempuan yang juga penyuka jalan-jalan. Kami, berempat karena kesamaan hobi tersebut memutuskan untuk membuat blog bareng. Yup, topiknya tentang jalan-jalan. Yang menariknya adalah blog kami ditulis oleh kami berempat yang pastinya punya gaya traveling dan bercerita masing-masing. 

Yuk kenalan sama mereka.

Yang pertama, Saad. Ah kayaknya saya sudah sering menulis tentangnya. Teman sedari SMA sampai sekarang! Berapa tahun tuh 😀

Dengan kesibukannya sebagai Ibu Guru mata pelajaran Fisika, dia selaluuuu aja bisa meluangkan waktu untuk traveling. Dan hebatnya, anak-anak didiknya tetap berprestasi lho! Saad ini lebih sering naik gunung daripada saya hahaha…

Nah, selain Saad, Ani juga suka banget naik gunung. Cocoklah mereka berdua kalau udah ngebahas gunung. Saya mah tim hore saja! Ani berprofesi sebagai sekretaris di Production House. Jadi dia hafal banget deh tanggal-tanggal merah yang bisa dipakai untuk traveling. 😛

Selain naik gunung, Ani juga jago free dive! Sebelas dua belas dengan Ani, ada Tella yang penyuka snorkling, pantai, dan trip-trip cantik lainnya. Gak mau susah lah kalo jalan-jalan. 😀 

Dan terakhir saya deh. Tim hore saja. *diulang lagi* 

***

Terus seberapa seriusnya sih kita sama blog keroyokan ini? Ya serius banget tapi santai. Intinya sih pengin lebih tahu dunia perblog-an itu kayak gimana. 

Kurang serius apa coba ngurus blog Four Women Travelers sampai muka Ani dan Tella kayak gini:

  

 😀

Kayaknya segitu aja dulu perkenalan tentang kami, Four Women Traveler. Main-main yuk di blog kami fourwomentraveler.com dan colek kami di twitter ya. 🙂

  

Semoga aja tulisan-tulisan kami bisa memberikan warna segar bagi blog traveling saat ini. 

See you!

R.I

iTalk

Pilih Kenyamanan atau Kelezatan?

Selera saya ini selera orang Indonesia kebanyakan. Suka masakan yang pedas, porsi masakan yang cukup di perut, ada nasinya, dan yang paling penting bisa ngobrol dengan lama.

Tapi sekarang untuk mendapatkan hal-hal di atas, harus dibarengi dengan harga yang mahal. Karena…iya, harga dolar lagi naik gila-gilaan. Merembet ke kenaikan harga beras, harga bawang juga. Apalagi…cabe. Wajar juga kalau semua pihak yang terkait makan-makanan kayak pemilik restoran dan pedagang kaki lima menaikkan harga dagangannya mereka.

Sedihnya, kenaikan harga ini gak serta merta menaikkan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus pintar-pintar banget jika mau membuat keputusan yang terkait sama uang. Kayak misalnya mau makan di luar. Harus banget tuh tanya ke diri sendiri: cari tempat yang nyaman banget dengan risiko harga menu yang (sering banget) di luar nalar dan rasa masakannya yang mungkin biasa-biasa aja. Atau mau makan di kaki lima dengan rasa masakan yang biasanya cocok dengan lidah, tapi gak bisa ngobrol lama dan kadang lokasinya harus di pinggir jalan, yang mana debu dan asap berebutan minta disapa.

Ya, perbedaan sederhananya gini deh: mau makan di restoran yang mengutamakan kenyamanan tapi rasa biasa atau kaki lima yang mengutamakan rasa tapi kita makan harus buru-buru?

Malah ya, yang saya dengar dari Ryan semalam bahwa restoran di bilangan Jakarta sonoan dikit, setiap 2-3 bulan sekali, silih datang berganti. Dekorasi oke banget tapi rasa masakan yang biasa banget sehingga gak ada customer yang setia untuk datang berkali-kali. Dan teman-teman, pernah dengan ZMOT? Zero Moment of Truth. Biasanya istilah ini dipakai dalam bidang marketing, di mana jaman sekarang orang-orang gampang banget bikin keputusan jadi makan di restoran A atau gak, hanya dengan cari referensi di media sosial, tanpa merasa perlu untuk mencobanya sendiri dulu.

Kebayang ya, betapa keras usaha para pelaku usaha restoran atau kaki lima untuk mempertahankan bisnis mereka.

Sembari nulis ini, hati kecil saya kayak ngomong: “Masih mending kita punya pilihan mau makan di mana? Coba liat bapak yang jualan tissue di lampu merah, apa beliau punya pilihan mau makan di mana? Mereka (kemungkinan besar) lebih berpikir mau makan apa hari ini!”

Gak tau sih, ini perasaan saya aja atau memang kenyataannya di lapangan seperti ini. Tapi yang ingin saya tulis, harga memang udah gila-gilaan naik. Dan beberapa kali menerima laporan klien tentang pendapatan mereka, pada bilang lesu. Padahal mereka bergerak di bidang yang sering kita bilang “basah banget kalau kerja di situ”.

Maaf ya kalau pembahasannya ruwet. Kalau dolar terus naik, saya rasa semakin banyak lagi konsumen yang lebih mementingkan rasa daripada kenyamanan di sebuah restoran. Dan para pelaku usaha restoran harus benar-benar membuat strategi yang tepat agar para konsumen tetap mau datang ke restoran mereka berkali-kali meski harga yang mereka tetapkan jauh lebih tinggi dibandingkan di kaki lima.

R.I