Support System itu…

PENTING BANGET!

Kelar dah tulisan ini 😀

Ada yang punya opini lain?

Hal mengenai support system yang baik benar-benar saya syukuri selama hidup. Sebuah rejeki dari Allah yang ya Rabb…mahal banget! Kenapa?

Gini, pernah gak denger: “Duh, susah banget gak ada yang dukung gw, padahal niat gw tuh baik lho!”

Atau: “Gw ngerasa sendirian deh. Gak ada yang peduli maunya gw. Padahal yang gw butuhin cuma dukungan dari mereka aja. Biar yang realisasiin gw aja!”

Pernah?

Kalau kamu berada di lingkungan yang penuh dengan fully support dari keluarga, pasangan, anak, dan semuanya terus mendengar kalimat di atas keluar, put your sympathy on the first place ya. Umpetin dulu deh rasa bahagia kamu karena dapat dukungan penuh. Jangan sampai bilang: “Wah kasian, kalau aku alhamdulillah sih dapat banyak support!”

Hei…gak gitu dong marpuah cara bersimpati.

Dengarkan saja cerita mereka. Sering banget yang terjadi orang hanya butuh didengarkan daripada dikasih bombardir solusi atau membandingkan beratnya penderitaan antara kamu dengan yang lain.

Oke, balik lagi ke hal support system.

Selama lebih kurang, kerja dari rumah – banyak banget hikmah yang saya dapatkan. Satu per satu akan ditulis insyaa Allah. Salah satu lessonnya adalah mengenai menjadi dan mendapatkan support system dari keluarga dan semuanya.

Ada apa dengan menjadi dan mendapatkan?

Gini, seberapa sering diri kita menjadi penuntut atas tindakan orang lain ke kita?

Menuntut orang untuk mengerti
Menuntut orang untuk selalu ada bagi kita
Menuntut pemahaman tiada bertepi
Menuntut keluangan waktu tiada berbatas

ke KITA.

Dan seberapa sering sih kita menjadi orang yang mau:

meluangkan waktu untuk mendengarkan
menurunkan ego agar bisa lebih memahami, memberi ruang
dan…mudah memaafkan bahkan sebelum ada pengucapan maaf dari pihak lawan

Jawab sendiri-sendiri aja ya 🙂

Begitupun dengan masalah ‘support system’.

Sebelum kita menuntut orang menjadi pihak yang selalu mendukung atas semua tindakan dan mimpi kita, coba yuk introspeksi diri apakah kita sudah menjadi orang tersebut? Apakah pernah kita mendukung orang-orang tercinta untuk meraih mimpi mereka?

Seberapa sering kita menutup mulut, menahan diri untuk bilang: “itu gak mungkinlah! mimpi lo ketinggian banget!”

dan

Seberapa sering kita diam-diam mendoakan serta mencari cara agar mereka dapat mencapai mimpi mereka?

**

Bekerja dari rumah mengajarkan saya melihat hal tersebut secara lebih jelas.

Gak mungkin banget saya bisa kerja di rumah secara efektif selama 7-8 jam jika gak ada yang bantuin beberes rumah, masakin, ingetin untuk makan, dan sebagainya.

Gak mungkin bisa jika ponakan saya terus menerus maunya ditemani baik belajar atau bermainnya.

Sesederhana kalimat: “Nanti aja Cip temenin Raihannya kalau tugas Cipa udah selesai.”

Mrebes mili akutu kalau digituin…

Jadi, yuk bareng kita benahi masalah ego ini.

Sebelum nuntut ‘terciptanya support system yang mumpuni bagi semua mimpi dan aktivitas kita’ coba switch mindset kita untuk menjadi orang yang selalu mendukung mimpi orang lain.

Soon or later, ada aja hal baik yang bisa membantu meraih mimpi dan memudahkan langkah-langkah kita.

Put your faith ya!

See you!
Ladeva

Asumsi

Jakarta

3 Mei 2020, 20.50 WIB

Kamu pernah ada dalam posisi: takut akan penilaian orang lain?

Padahal…
Prestasimu bagus
Kinerjamu ndak perlu diragukan
Niatmu tulus

Namun, kamu takut melangkah hanya karena takut dinilai salah oleh orang lain.

Pertanyaan ini mengganggu saya karena di hari ini terjadi hal tersebut.

Seorang kerabat yang memiliki kinerja bagus, takut untuk mengemban amanah yang saya yakini, dapat ia emban dengan maksimal. Katanya: “gak enak klo terlihat terus”.

Asumsi diri terhadap penilaian orang lain terkadang suka mengecoh logika.

Kalau kamu di posisi tersebut bagaimana?

Karena jika saya, selama tidak ada bukti mengenai penilaian orang lain yang salah terhadap saya, mengapa harus takut melangkah?

Benar, bahwa itu bisa menjadi bahan evaluasi diri tapi bukan kemudian berhenti melangkah, kan?

when people make assumptions - Google Search | Assumption quotes ...

Share your thoughts ya.

See you!

Dua Bulan

Jakarta

2 Mei 2020, 21.48 WIB

Saking sudah lamanya tidak menulis blog dari laptop, saya sampai lupa password blog ini. Benar bahwa beberapa waktu lalu, pernah mempublish tulisan random di sini tapi itu menggunakan ponsel. Ntah kenapa – mungkin rindu – menulis di laptop untuk blog ranselijo ini.

Tanpa bermaksud mengeluh, namun masyaa Allah ya waktu berjalan relatif cukup cepat buat saya. Dua bulan saja sudah merasakan bekerja dari rumah.

Rasanya mau mengeluh juga tidak pantas. Kenapa? Ya karena memang alhamdulillah masih ada yang bisa dikerjakan dari rumah, masih ada income yang masuk, ada anggota keluarga tersayang di rumah, ada atap untuk berlindung, mampu membeli pulsa agar selalu terkoneksi dengan dunia luar, dsb. Bukankah banyak sekali nikmat yang harus disyukuri, meski memang saat ini hidup tidak semudah biasanya saja.

Saya meyakini firman Allah, semakin banyak kita mampu bersyukur maka nikmat akan Allah tambah lagi. Aamiin!

Jadi dua bulan bagaimana rasanya?

Sebagai orang yang biasa jarang menghabiskan waktu berlama-lama di rumah, saya amazed dengan diri sendiri. Alhamdulillah tidak merasakan kebosanan – yang saya pikir, sebagai orang extrovert, saya akan menderita banget karena tidak bisa bertemu orang-orang di luar.

Mungkin salah satu penyebabnya karena baru pindah rumah?

Atau karena ya memang mencoba nrimo dengan kondisi yang saat ini terjadi.

Ada sebuah pesan dari Aa Gym yang saya ingat bahwa di kondisi – yang saat ini mengharuskan diri untuk ada di rumah maka ada kemungkinan terjadi gesekan-gesekan antar keluarga, cara agar mampu menghindari hal tersebut:

  1. Hayyin – tenang.
  2. Layyin – sopan, santun, penyayang, dan lemah lembut.
  3. Qarib – akrab, hangat dan menyenangkan.
  4. Sahl – memudahkan urusan.

Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di bawah ini:

IMG_20200502_215507_029

Tidak mudah untuk berkarakter seperti itu, namun rasanya bisa dicoba pelan-pelan. Semoga Allah berikan keistiqomahan bagi siapapun yang mencoba hal baik tersebut. Aamiin…

Selama dua bulan ini, pekerjaan memang ada beberapa yang di-switching, membantu unit bisnis lainnya yang bisa dibilang jadi ujung tombak kantor saat ini. Karena jelas bahwa sebagai orang yang bekerja di travel agent maka belum bisa membuat rencana perjalanan tapi masih ada 1 program yang pekan lalu saya coba buat dan alhamdulillah diterima dengan baik. Yaitu IG Live “Ngabuburit Around the World bersama Wisata Hikmah”. Jadi, itu adalah sebuah program di IG Live-nya WH untuk sharing santai keadaan di berbagai negara saat ini. Percobaan pertama adalah interview tour guide kami di Maroco dan insyaa Allah besok akan interview teman baik di Madinah. Doakan ya agar lancar dan menarik. 😀

Selain itu, sebenarnya saya pengen banget menulis pengalaman perjalanan saya di Februari lalu ke Uzbekistan selama 8 hari 6 malam. Sudah ada draftnya tapi ntah kenapa ya kok ya maju mundur untuk posting.

Main salju di Amirsoy, Uzbekistan
Main salju bareng Mbak Tudes di Amirsoy, Uzbekistan

Samarkhan, Uzbekistan
Ciri khas bangunan di Samarkhan, Uzbekistan adalah warna-warna birunya seperti ini. Fantastic!

Pernah gak sih kalian ngerasain kayak gini? Apa karena over thingking ya?

Terus juga masih pengen nyoba inget-inget lagi perjalanan keliling Banda Aceh sampai Sabang yang dilakuin akhir tahun 2019 lalu. Doh!

Nama blog boleh ranselijo, kesannya traveling banget tapi kok ya tulisan tentang traveling jarang banget ya. Maapin, yak! 😀

Cerita apalagi ya?

Hmm..oh iya selama 1 bulan terakhir, Mbak di rumah ndak datang lagi untuk sementara – sampai epidemi ini berakhir sehingga skill saya melakukan domestic work bisa dibilang meningkat nih haha! Dari mencuci piring, ngepel, nyapu, organize barang-barang di rumah, mayan deh. Jadi challenge tersendiri jika ingin bangun agak siang dipastikan akan sulit. Apalagi kalau ada online meeting jam 8 pagi, ditambah bantu nemenin ponakan belajar. Hahaha…seru banget atur waktunya.

Terus gimana dengan bulan Ramadhan?

Dengan atau tanpa adanya epidemi ini, sebagai umat muslim, ya harus menjalani Ramadhan semaksimal mungkin. Bahkan harus harus harus lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Benar bahwa ndak bisa tarawih di masjid, tapi ya gpp juga. Kan bisa tarawih di rumah, baik berjamaah maupun sendiri. Saya sempat terharu banget saat tarawih hari kedua, abang saya (qadarullah lagi silaturahim ke rumah) jadi imam tarawih. Wah…gak inget deh kapan terakhir hal ini terjadi. Ditambah lagi saat baca doa, abang saya berasa lagi mimpi muhasabah di rumah. Jadi, rasanya haru.

Saya pernah baca tulisan seorang teman yang dulunya dia LDM dengan suaminya, namun alhamdulillah sudah ndak LDM karena ada kebijakan kantornya gitu, pas banget dengan musim epidemi yang melarang untuk keluar rumah kan. Nah, tulisannya itu berisikan rasa syukur bahwa meski benar epidemi ini challenging tapi ada sisi positifnya yaitu jadi ada quality time yang meningkat antar anggota keluarga. Sedikit banyak hal tersebut, saya rasakan juga. Maka, masyaa Allah benar bahwa tiada satu peristiwa pun yang terjadi di muka bumi ini tanpa ada hikmah di dalamnya. Dan pasti ada kebaikannya, sekecil apapun. Allah Maha Tahu, kita – hambanya – belum tahu hal tersebut.

Semoga siapapun umat muslim yang saat ini sedang menjalani Ramadhan, sendiri, berdua, bertiga, dekat atau berjauhan dengan keluarga – semoga selalu Allah jaga dan diberikan kondisi terbaik. Aamiin!

Hmm mau nulis apalagi ya kali ini?

Oh ya, bagi teman-teman yang ke ranselijo.com untuk mendapatkan berita atau informasi mengenai traveling harap bersabar ya karena mungkin beberapa waktu ke depan, saya akan nulis hal-hal random demi menyalurkan isi pikiran yang over ini hehehe…

Kalau ada ide atau cerita-cerita yang bisa dibagi, share yuk di kolom komentar.

Kita hidupkan blog lagi pelan-pelan 😀

See you!

 

Random

Gimana kabar kalian di masa pandemi ini?

Semoga baik, aman dan nyaman ya.

Saya sedang duduk di teras rumah sambil sesekali membalas chat seorang Sahabat. Kami berkontempelasi dengan kondisi saat ini yang bagi banyak orang, termasuk saya (kadang), tidak mudah. Dunia saya pun terganggu. Yup, travel agent jelas merasakan dampak dari Covid-19 ini tapi setiap saya takut membayangkan masa depan, saya teringat pesan mentor saya bahwa Allah ingin kita menjadi hamba bertaqwa, apapun kondisinya dan jadikan sabar dan syukur sebagai sebaik-baik jalan.

Sehingga, jika kita bicara pekerjaan, fase ini bisa kami jadikan sebagai fase mengisi amunisi sebelum mulai melangkah lagi, saat semua back to normal. Semoga.

Fase ini tidak mudah.

Bayangkan saja jika berita ditayangkan, isinya mengenai tingkat kriminal yang naik, phk di beberapa tempat, start up yang sedang mencari pembeli baru usaha mereka, dan belum lagi ada saja masyarakat yang menolak menerima jenazah penderita Covid-19.

Dalam hati sering berkata: suatu saat, akan selesai fase ini. Insyaa Allah, dengan ijin Allah pastinya.

“Perbanyak syukur, Dev” – ucap saya dalam hati.

Bukankah masih banyak di luar sana yang melewati fase ini dengan perbekalan yang minim dan sungguh belum terbayangkan di depan akan seperti apa.

Iya ini serandom-randomnya pikiran.

Semoga setelah fase ini berakhir, kita bisa jadi lebih memahami hidup dengan sebaik-baik pemahaman.

Ladeva

Celotehan

Saat menulis ini, aku belum tahu akan membahas tentang apa lho.

Dari tadi sore, ingin nulis tentang konsep mindfulness yang lagi pengen aku pelajari karena kurasa itu bisa sejalan dengan konsep minimalist living yang sedang aku jalani.

Terus buka laptop. Tapi malah ngerjain tugas kantor. Well…gak ada yang nyuruh juga sih padahal. Mudah ke-distract aku tuh.

Saat mau rehat, eh iseng buka IG dan yes akhirnya kedistract lagi dengan beberapa pikiran dari story beberapa orang yang saya follow. Tentang perjuangan mereka agar sehat fisik dan batin, prestasi, dan mimpi. Mostly kan isi story seperti itu ya.

Lalu, akhirnya aku saat nulis ini, aku ingat percakapanku dengan seorang sahabat tadi pagi – sepulang kami dari sebuah event.

Waktu itu berharga banget ya. Klo ndak kita isi dengan kegiatan positif, ya merugi. Dan kemungkinan besar disibukkan dengan kegiatan yang gak manfaat.

Dan itu sejalan dengan ungkapan Imam Syafii

Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka niscaya kita akan disibukkan dengan keburukan.

Buat saya, hal itu menyeramkan sih. Kita pikir mau “me time” eh gak terasa waktu udah malam aja, sedangkan kita ndak melakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain. Bersembunyi di balik kata-kata, “me time”.

Oh iya, sore tadi juga saya dapat email dan notifikasi dari WordPress bahwa hari ini, ranselijo.com ini domainnya sudah diperpanjang otomatis. Terus nyengir sendiri, wow dep sayang banget uangnya kalo kamu gak rutin nulis lagi. :’)

Jadi yah inilah ikhtiar aku menulis di sini – karena memang rasanya saya sudah butuh untuk kembali menulis seperti dulu lagi.

Ladeva