Bahagiakan Diri Dulu atau Orang Lain?

Kemarin sore, saya mendapat kabar bahwa seorang teman kantor perempuan – senior tepatnya – mendapat musibah tempurungnya retak. Saat itu hanya kaget yang saya rasakan.

Sampai akhirnya saya sampaikan berita ini ke teman yang lain dan dia terperajat kaget luar biasa, lalu seketika ingin ikut menjenguk bersama saya dan teman-teman lainnya.

Saya bertanya: kenapa sih kok kaget banget?

Teman saya menjelaskan betapa berbahayanya kondisi tempurung retak tersebut dan saya merasa: “dep, masak begini aja lo gak paham sik!”

Singkat cerita, tibalah kami di rumahnya. Seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dengan kondisi suami dan ibu yang sakit, dan anak-anak remajanya bersekolah di Bandung yang masih belum bisa mandiri – saat ini sedang berjalan tertatih-tatih. Perih melihatnya.

“Istirahat aja dulu ya, teh. Ikuti kata-kata dokter,” pesan kami ke beliau, yang kemudian disanggah dengan warna muka sedemikian sedihnya, “gak bisa. Klo aku istirahat, di rumah gimana?”

😦

Dan ini bukan kali pertama beliau menyampaikan motivasi beliau bekerja adalah demi keluarga. Beliau harus selalu kuat. Harus selalu mampu bahagiakan keluarga. Bahkan beliau merasa malu untuk menangis.

“Gak apa-apa teh mengakui apa yang kita rasakan, senang, bahagia, marah, kecewa atau apapun. Bagaimana cara kita mampu bahagiakan orang lain, jika kita belum punya “tabungan” kebahagiaan yang bisa dibagikan ke orang lain?” Adalah sebuah pesan yang pernah saya sampaikan ke beliau, namun rasanya bagi sebagian orang pemikiran ini tidak terlalu tepat.

Ada yang berpendapat: cara aku bahagia adalah jika melihat orang di sekitarku bahagia. Gak apa-apa berkorban sedikit.

Sedikit – inilah yang rancu.

Pernah juga aku mendengar nasihat dari alim ulama: kita harus jadi muslim yang kuat agar semakin bermanfaat bagi sekeliling. Sehat itu bisa jadi ibadah jika manfaatnya bisa dirasakan orang lain.

Dan iya, saya setuju.

Sehingga hikmah yang saya dapatkan dari silaturahim semalam adalah selagi ada kesempatan, usia, atau rejeki dalam bentuk apapun – benar-benar harus kita manfaatkan untuk optimalisasi value diri. Semakin kita kuat maka ladang amal sholih untuk sekitar bisa lebih luas lagi.

Seperti hadist Rasulullah SAW,

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Hikmah kedua adalah semangat beliau yang perlu dicontoh. Meskipun kondisi tidak sehat, namun beliau masih mau untuk bekerja agar tidak menjadi beban teman-teman sejawatnya.

Semoga Allah yang Maha Menyembuhkan, bisa memberikan rejeki sehat kepada beliau dengan sebaik-baik kondisi.

Mohon doakan ya, teman-teman πŸ™‚

Oiya, prinsip kalian sendiri bagaimana? Memastikan diri sendiri happy dulu atau berjuang demi membahagiakan orang lain dulu?

Have a good day!

Ladeva

Advertisements

Celotehan

Saat menulis ini, aku belum tahu akan membahas tentang apa lho.

Dari tadi sore, ingin nulis tentang konsep mindfulness yang lagi pengen aku pelajari karena kurasa itu bisa sejalan dengan konsep minimalist living yang sedang aku jalani.

Terus buka laptop. Tapi malah ngerjain tugas kantor. Well…gak ada yang nyuruh juga sih padahal. Mudah ke-distract aku tuh.

Saat mau rehat, eh iseng buka IG dan yes akhirnya kedistract lagi dengan beberapa pikiran dari story beberapa orang yang saya follow. Tentang perjuangan mereka agar sehat fisik dan batin, prestasi, dan mimpi. Mostly kan isi story seperti itu ya.

Lalu, akhirnya aku saat nulis ini, aku ingat percakapanku dengan seorang sahabat tadi pagi – sepulang kami dari sebuah event.

Waktu itu berharga banget ya. Klo ndak kita isi dengan kegiatan positif, ya merugi. Dan kemungkinan besar disibukkan dengan kegiatan yang gak manfaat.

Dan itu sejalan dengan ungkapan Imam Syafii

Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka niscaya kita akan disibukkan dengan keburukan.

Buat saya, hal itu menyeramkan sih. Kita pikir mau “me time” eh gak terasa waktu udah malam aja, sedangkan kita ndak melakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain. Bersembunyi di balik kata-kata, “me time”.

Oh iya, sore tadi juga saya dapat email dan notifikasi dari WordPress bahwa hari ini, ranselijo.com ini domainnya sudah diperpanjang otomatis. Terus nyengir sendiri, wow dep sayang banget uangnya kalo kamu gak rutin nulis lagi. :’)

Jadi yah inilah ikhtiar aku menulis di sini – karena memang rasanya saya sudah butuh untuk kembali menulis seperti dulu lagi.

Ladeva

Jelang Akhir 2019

Sudah sejauh apa dream list kamu tercapai?

Buatku, 9 bulan di 2019 ini berjalan sangat cepat. Tau-tau sudah September 2019. Sebentar lagi Desember 2019.

Kalo hitungan kalendar Hijriah sih, baru bulan lalu kami merayakan tahun baru Islam.

Nah, oleh karena itu, aku kepikir untuk re-design dream listku.

DREAM LIST 2019

Saat tadi re-design dream list di Trello (ada yang pake Trello juga gak, duhai teman blogku…), aku mikir: ada gak ya yang sungguh-sungguh membuat dream list dan ikhtiar maksimal untuk mewujudkannya? Karena jika ada, aku ingin sekali mendengarkan kisah mereka. Kalo kalian ada cerita, boleh dong dishare. πŸ™‚

Di sisi lain, ada sebagian jenis orang yang ku tahu – merasa takut dalam membuat dream list.

“Takut gak kesampaian, Dev. Nanti kecewa. Jadi let it flow aja semuanya,” alasannya demikian.

Saat mendengar itu sih, aku hanya mencoba menempatkan posisi: “Iya sih, kadang punya ketakutan juga akan kecewa jika sudah set the target tapi gak tercapai.”

Tapi jauh di diriku, aku ingin belajar mempunyai target sedikit demi sedikit agar bisa melihat sejauh apa sih ikhtiar aku meraihnya.

My simple dream list: bisa terus nulis di ranselijo.com ini. Haha…konsistensi itu ndak mudah, Sahabat!

Doain yaaaa πŸ˜€

Share yuk cerita kalian tentang dream list 2019 ini. Bismillah, bisa jadi jalan inspirasi yang membaca πŸ˜‰

Ladeva

Tentang Hijrah

Kemarin alhamdulillah saya mendapat kesempatan mendampingi seorang perempuan yang hendak menjadi mualaf.

Kisaran 23 tahun dan merantau dari Medan ke Jakarta.

Saat ditanya kenapa ingin masuk Islam, ia menjawab: saya punya teman sekosan, saya liat dia sholat – hati saya tenang.

Alhamdulillah prosesi syahadatnya mudah dan lancar, biidznillah.

Tapi, yang agak menarik adalah saat selepas prosesi, beberapa jamaah masjid memberikan sejumlah infak via kami untuk beliau.

Bahkan seorang teman – yang qadarullah Mualaf juga – langsung menghampiri saya dan memberikan sedekah saat itu juga, dengan nominal yang cukup banyak. Masya Allah.

Seketika pikiran saya kembali ke kata-kata abang saat ada fenomena artis yang sudah hijrah namun kembali ke jalan sebelumnya.

“Kemana kita saat ia membutuhkan pertolongan saat hijrah? Jika seseorang hijrah, jangan lepaskan tangannya. Bantu ia dalam ekonominya.”

Allahu ya kariim.

Jadi, saat seseorang hijrah, tidak cukup hanya ucapkan doa dan pelukan. Tapi juga perlu dibantu dari segi materi dan psikologinya.

“Mereka hijrah, pasti mulai semuanya dari nol,” ujar teman saya.

Lagi, lagi hati saya berucap: betapa manfaatnya muslim yang kuat. Bisa selalu menebarkan manfaat kapan dan dimana saja.

Semoga Allah mampukan kita untuk terus bermanfaat ke sesama. Aamiin…

Jkt, 10 Agustus 2019

Ladeva

Let’s Talk

Beberapa waktu belakangan ini, hati dan pikiran saya sedang riuh sekali. Terlalu banyak berpikir terhadap berbagai kemungkinan – yang belum pasti akan terjadi.

Takut terlalu awal – menjadi tidak sehat dalam cara berpikir.

Perlahan dikeluarkan, mungkin ringan (sesaat), namun rasanya belum sampai ke orang yang tepat.

Seorang teman memberikan saran, “Tidurlah. Beristirahat sejenak” tapi bagaimana bisa masalah selesai dengan tidur? Padahal mungkin itu saran yang ia berikan agar saya ambil jarak sejenak dengan kekhawatiran yang tidak berlandaskan apapun.

Saya pun meengikuti saran tersebut.

Seeketika terbangun, memang masalah belum langsung selesai namun istirahat yang cukup membuat mood lebih baik sehingga bisa lebih jernih dalam berpikir.

Dan alhamdulillah, setelah bicara dengan orang yang insyaa Allah tepat – rasanya langsung plong. Mengeluarkan semuanya dengan tanpa rasa takut akan disalahkan atau alih-alih diacuhkan.

Just focus on yourself. Don’t take any decision just because peer pressure – anykind of pressure.

Thank you, Kakak – for always be here. Lagi-lagi diyakini bahwa jarak tinggal hanya tentang hitungan angka di atas kertas, tapi hati yang terpaut pasti akan dapat melalui itu semua.

Sometimes, all you need is just talking to the right person.

Ladeva