Lakukan Lupakan

Seorang teman pernah berkata, “Hal yang sering bikin kita patah itu karena perasaan “merasa” dan “keakuan”. Padahal itu asumsi, penilaian kita semata. Faktanya kita tidak memiliki peran sebesar itu kok sampai perlu mengatakan “aku merasa udah all out, dsb” atau “aku merasa udah maafin tapi, dsb””.

Padahal yang perlu kita lakukan sesederhana: lakukan dan lupakan.

Iya, tidak mudah. Tapi perlu terus dilatih. Semisal kita melihat tim junior ternyata sudah bisa berlari kencang, kita harus support. Bukan merasa tersaingi. Atau jika ada seseorang yang meninggalkan kita setelah semua support diberikan, ya lupakan saja. Introspeksi kenapa hal itu bisa terjadi, namun bukan berarti menyalahkan diri sendiri atau orang lain.

Nilailah segala sesuatu seproporsional mungkin. Tidak kurang tidak lebih. Mendewasa dalam menilai, bijak dalam bersikap.

Pelan-pelan ya kita bertumbuh dalam pikiran, perasaan dan tindakan.

Ladeva

Masih Punya Pekerjaan? Bersyukurlah!

Beneran, harus banyak-banyak bersyukur. Hal inilah yang saya sering ucapkan ke diri sendiri setiap kali mendengar berita buruk tentang pemecatan di beberapa perusahaan, contohnya semalam saat seorang teman mengirimkan sebuah berita:

Sumber: Bloomberg Opinion

Termasuk beberapa hari lalu, saat mengetahui berita tentang Air Asia yang berubah haluan berbisnis aqiqah!

Sumber: cnbcindonesia.com

Saat membaca dan kemudian terlibat dalam sebuah diskusi mengenai perubahan haluan bisnisnya Air Asia – saya benar-benar berpikir: “Ya Rabb, bagaimana bisa sebuah perusahaan pesawat internasional berubah seperti ini?” tapi di sisi lain, saya angkat topi dengan keputusan ini.

Kenapa?

Di masa-masa ini, ya memang harus serius menyalakan survival skills mode on!

Gak bisa lagi gengsi-gengsi, apapun harus dilakukan selama itu halal dan thoyib. Sebuah tulisan singkat dari Mem Tyka mungkin bisa dibaca terkait hal ini.

Tujuh bulan sudah pandemi ini, dan jika saat ini masih ada sumber pemasukan, makanan di meja, ada atap untuk berteduh dari panas dan hujan, masih bisa bingung mau menggunakan baju apa karena terlalu banyak pilihan, masih bisa scroll marketplace dan langsung checkout, maka bersyukurlah!

Satu lagi, friendly reminder, jika masih bisa berbagi ke keluarga atau sesama – maka lakukan, jangan ditunda, sekecil apapun. Karena bahu membahu di masa ini bisa menjadi sumber pahala yang Allah sukai.

Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” [HSR Muslim (no. 2699)].

Sedikit yang kita pikir: “Ah cuma gitu aja kook” tapi saat kita membeli produk teman atau membantu mempromosikan produk teman tanpa iming-iming apapun, saya yakin itu sangat berarti untuk mereka.

Jadi, yuk bismillah kita jalan bareng-bareng. Kita tebar manfaat sekecil apapun.

Oh ya bagi teman-teman yang saat ini sedang berjuang mencari pekerjaan dan bingung harus mulai dari mana – bismillah yuk ngobrol dengan Allah. Biar bagaimanapun mau strategi secanggih apapun, jika kita tidak mendekat kepada Maha Pemilik SegalaNya maka akan sulit. Pelan-pelan kembali lagi ke jalan yang disukai Allah dan menjauhi hal yang tidak disukai Allah.

Lalu, coba di-break down skill apa saja yang dimiliki. Perbaiki CV, dan jika mempunyai produk yang bisa dijual, manfaatkan berbagai media sosial dan marketplace. Kemudian, jika mencoba menghubungi teman-teman lama untuk mencari pekerjaan, that’s good tapi jangan berharap kepada mahluk ya, khawatir nanti kecewa.

Kalo kata guru saya: mata ke mahluk, hati ke Allah. Jadi tidak apa-apa mencoba meminta pertolongan kepada mahluk tapi kembalikan harapan hanya kepada Allah. 🙂

I know this is not easy tapi selama nafas masih ada – percayalah ujian sekecil apapun, sebesar apapun pasti sudah ditakar dengan sebaik-baik ukuran oleh Allah.

Satu lagi, rejeki bukan hanya terkait mengenai uang masuk setiap bulan, tapi banyak banget hal lainnya, seperti kemampuan bernafas, kemampuan bergerak, berpikir, masih bisa melihat dengan baik, ada teman yang bisa dihubungi, keluarga untuk dipeluk, dan sebagainya.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. — Quran Surat Ibrahim Ayat 7

Bentuk bersyukur bagi yang saat ini masih mempunyai pekerjaan: berkontribusilah sebaik mungkin kepada perusahaan, lillahi ta’ala. Semata-mata berikhtiar untuk menjadi sosok yang amanah karena Allah. Insyaa Allah akan terhitung sebagai ibadah.

Semua sudah ada jatahnya. Ada bahagia, sedih, luka, tawa, semua bergulir bergantian.

Kita jalanin bareng ya. Sama-sama saling mengingatkan bahwa selalu ada Allah bersama kita, sesulit apapun fase ini. 🙂

Ladeva

Labelling

Ada gak di sini yang pernah merasa insecure karena penilaian orang lain terhadap diri sendiri?

Merasa bahwa: kok bisa sih mereka mikir aku kayak gitu? Jahat banget!

Atau merasa bahwa apa yang dilakukan sudah benar, tapi dinilai berbeda oleh orang lain. Alih-alih mengklarifikasi ke kita, mereka justru menjustifikasi negatif dengan mudahnya. Kemudian pelan-pelan berpikir: apa iya kali ya aku kayak yang mereka bilang?

Lambat laun memercayai label negatif yang orang sematkan ke kita.

Label yang awalnya tidak kita percayai.

Lalu, semalam menemukan twit Mufti Menk ini:

Never allow people who use words so irresponsibly to sabotage your self-image! – Mufti Menk

Menurut saya, yang sangat mengetahui diri sendiri ya kita sendiri. Benar, ada orang-orang terdekat yang juga mengenal kita. Penilaian mereka penting ndak? Penting, untuk kamu terus upgrade kualitas diri dan disampaikan dengan cara yang bijak. Tapi jika yang menilai buruk dirimu adalah orang di luar circle A1-mu, lalu dengan cara yang tidak arif – untuk apa dipikirkan?

Begini, orang bebas berbicara apapun tentangmu.

Tapi kamu juga bebas merespon hal tersebut.

Jangan semua penilaian orang, terutama yang sekiranya bisa mengecilkan valuemu, didengarkan. Namun, jika penilaian tersebut juga disematkan oleh orang terdekatmu, bisa jadi memang hal tersebut perlu dikoreksi dari dirimu.

Dan bagi yang terbiasa menilai orang: stop it!

Berhentilah menilai orang, berasumsi dengan karakter orang. Apalagi jika tidak terlalu mengenalnya. Tahan semua penilaian ke orang lain. Karena kamu tidak tahu apa dampak dari kata-katamu. Pernah terpikirkah bahwa kata-kata itu bisa membuat seseorang depresi?

Kita tidak pernah tahu secara pasti apa saja yang sudah dilalui seseorang. Sedekat apapun kita. Kenapa? Karena bukan kita yang menjalaninya. Bisa dari luar, mereka baik-baik saja. Tapi siapa yang bisa menebak isi hati orang lain?

Semoga kita dimudahkan Allah untuk mengamalkan hadist:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Dan bagi yang saat ini sedang berjuang untuk kembali memercayai valuemu lebih baik dari penilaian yang orang sematkan ke dirimu, “Kamu lah yang paling mengenal dirimu sendiri dan teruslah berusaha menjadi orang yang disukai Allah. Bukan disukai mahluk.”

L

Legacy

Hidup tuh gitu ya, ups and down.

Di waktu yang gak bisa kita tebak, prediksi dan asumsikan.

Tiba-tiba, langsung saja terjadi.

Seperti kemarin, mendengar kabar yang tidak menyenangkan.

Merasa bahwa: berat untuk dijalani.

Kemudian setelah tenang, mencoba melanjutkan kegiatan seperti biasanya. Lalu terucaplah: “Ya, kalo aku sih mikirnya legacy apa yang ingin kita tinggalkan di dunia ini, bagi orang-orang yang akan nerusin langkah kita ini” – ucap seorang partner kerja, yang memang sedang dalam ranah diskusi pekerjaan.

I mean – saya lagi gak minta dinasihati, memang benar-benar fokus kerja, lalu tetiba ada kata-kata itu yang pas sekali dengan kesedihan sebelumnya.

Saya langsung mikir: “Apa ini cara Allah ngasih tau saya sesuatu ya? Membuat saya sadar bahwa kita ndak bisa hanya berfokus ke satu puzzle, ke goal yang dekat. Tapi perlu sering-sering mengingatkan diri kepada goal yang lebih jauh dan utama.

Kalau kamu pernah ndak merasa Allah bicara dengan cara yang unik?

L

Si Extrovert dan Pandemi

Pastinya ini tidak mewakili para ekstrovert di seluruh dunia. Ini hanya mengenai si extrovert, yang punya blog ranselijo.com saja🙃

Bulan ke berapa sih pandemi ini?

Bulan ke-7 ya?

Alhamdulillah fisik sehat, jiwa psikologi dan nalar diusahakan untuk selalu sehat karena harus yakin bahwa fase yang sedang dilalui saat ini adalah ketetapan yang terbaik dari Allah.

Apakah langsung nrimo?

Oh tentu tydac.

Ada masa muncul pertanyaan: separah ini ya?

Tapi alhamdulillah dipertemukan di momen dan orang-orang sholih dan sholihah yang selalu mengingatkan bahwa “apapun yang dari Allah, pasti baik”.

Di awal pandemi, saya pernah menulis mengenai hal serupa saat 2 bulan #dirumahaja.

Dan layaknya dunia saat ini, ada aja situasi di kantor yang membuat diri menghela nafas. Alhamdulillah saya masih bisa terus berkontribusi di kantor.

Pastinya ada beberapa bidang pekerjaan yang belum bisa running dulu, yaitu travel agent di kantor. Namun alhamdulillah ada usaha lain yang bisa dikerjakan dan cukup menghasilkan, semoga juga bermanfaat bagi pendapatan tim, yaitu membuat berbagai macam pelatihan online, diawali dengan english course, kemudian arabic course, coding class, dan sebagainya.

Doain ya agar Allah ridho dan berkahi. Aamiin…

Karena alhamdulillah banyak hal yang dikerjakan, sisi ekstrovert saya tidak banyak mengeluh. Bahkan bisa dibilang ada beberapa momen ya saya pengennya sendirian aja. Di kamar, bikin ini itu. Apakah saya sudah beralih menjadi ambivert ya? Hmm…

ranselijo.comSemoga kita bisa kembali makan di luar dengan aman ya

Apalagi ya yang mau diceritain?

Pelan-pelan ya akan kembali menulis di sini.

Semoga bermanfaat!

Ladeva