Musibah; Haruskah Membuat Kita Menjauh dariNya?

Mengawali tulisan ini, karena kemarin baru saja alhamdulillah kita memasuki Idulfitri 1441 H, mari saling bermaaf-maafan 🙂

Taqaballahu minna wa minkum. Minal Aidzin Wal Faidzin ya semuanya 🙂

Semoga Allah berkenan mempertemukan kita di bulan Ramadhan tahun depan dengan kondisi yang lebih baik lagi. Aamiin…

Di pekan ketiga kelas Martikulasi Nouman Ali Khan Indonesia, kami diminta untuk summary 3 video di 1 tulisan. So, let’s start.

Bismillah…

Selama membaca tulisan ini, Sahabat bisa klik 3 video yang terdapat dalam pembahasan ini ya 🙂

Nouman Ali Khan – ‘Juz 28 – Mengapa Musibah Menimpaku?

Nouman Ali Khan – ‘Juz 20 – Menyembuhkan Hati Yang Terluka’

Nouman Ali Khan – ‘Juz 17 – Orang Yang Paling Merugi’

Bagaimana? Sudah klik video-videonya? Masyaa Allah ya, kalau bicara tentang musibah, siapa sih ya yang gak pernah melewati fase tersebut.

Dalam video pertama, Ustadz NAK memulainya dengan membahas QS At Taghabuun; 11

Source: https://tafsirweb.com/

Di dalam ayat ini, tertulis kata “musibah” dari bahasa arab yang artinya bencana.

Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah.

Renungi deh…

Ketika mendengar ini, suara hati seperti berbisik: Iya, sebagai orang beriman, harus percaya – meski mungkin di hantaman pertama ada rasa sedihnya. Tapi, coba deh dengerin penjelasan Ustadz NAK selanjutnya di video ini.

Kata “musibah” berasal dari kata “asaba” yang dalam bahasa arab berarti “mentargetkan”.

Dari penjelasan ini, Allah ingin mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, apapun – bener-bener apapun, tanpa kecuali, segalanya memang sudah terukur, terarah dan diperuntukkan untuk kita, bukan untuk orang lain. Dan musibah itu, tidak melulu hal yang buruk, tapi memang sesuatu yang Allah inginkan terjadi kepada kita, bukan kepada orang lain.

Dan kalimat selanjutnya di dalam ayat di atas adalah “…dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya…”

Berasa gak getarannya? 🙂

Jika di hati kita percaya kepada Allah, atas apapun musibah yang Allah berikan kepada kita, Allah akan kasih hadiah – yaitu: hati kita akan selalu dibimbing Allah. Indah banget kan?

Kebayang gak sih kalau hati kita selalu dibimbing Allah? Semua keputusan kita maka akan baik, jika di dalam hati kita selalu meletakkan Allah di prioritas utama.

Contohnya kayak gimana, Dep?

Yuk, klik video ke-2. Ustadz langsung ambil contoh QS Al Qashash; 10

Source: https://tafsirweb.com/

Inhale exhale…

Bagi saya, mendengar kisah Nabi Musa selalu meninggalkan kesan yang luar biasa. Kisahnya seakan tidak pernah habis untuk digali hikmahnya. Masyaa Allah. Kali ini, di QS Al Qashash ayat 10, Allah ingin kita mengambil contoh kisah Ibunda Nabi Musa yang ketika Nabi Musa lahir, harus diletakkan ke air dan membuatnya jauh dari sang ibu, sebagai salah satu solusi agar bayi Musa tidak dibunuh oleh Firaun. 😦

Bayangkan perasaan Ibunda Nabi Musa.

Dan itu lah yang menjadi bridging hikmah kali ini. Bahwasanya setiap orang pasti pernah mengalami musibah yang berat sekali hingga meninggalkan trauma di hati, seperti kehilangan orang yang dicintai, luka karena sikap dan perbuatan orang lain, dsb.

Namun, di saat fase ini terjadi kepada kita, hati kita harus terus percaya bahwa ada Allah, beriman kepada ketetapanNya. Karena di situlah kuncinya, kunci pertolongan Allah. Seperti yakinnya ibunda Nabi Musa untuk meletakkan bayi Musa ke air, yang belum jelas nih akan aman atau tidak. Tapi karena beliau yakin sepenuhnya ke Allah (diberikan petunjuk dari Allah di hati Ibunda Nabi Musa) maka lihatlah betapa dahsyatnya kisah-kisah Nabi Musa. 🙂

Keyakinan kepada Allah itu memang terkadang terasanya ya di hati. Tetiba yakin aja mau ambil keputusan itu sembari terus bertawakal dan berdoa kepada Allah.

Karena jika Allah tidak ikut campur untuk menenangkan hati kita dalam menghadapi masalah, lalu bagaimana caranya hati kita akan tenang?

Dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada yang ketika ditimpa musibah, justru membuatnya jauh dari Allah.

Penjelasan tersebut ada di video ke-3, mengenai QS Al Hajj; 11:

Source: https://tafsirweb.com/

Ayat ini menceritakan tentang seseorang yang mau masuk Islam, hanya jika ajaran tersebut nyaman baginya. Misal ia dapat sesuatu yang baik, ia senang dan berucap Alhamdulillah, namun sebaliknya jika sedang ditimpa musibah, ia justru mempertanyakan: kenapa Allah lakuin ini ke saya? Saya gak butuh agama ini!

Na’udzubillah…

Jenis orang-orang tersebutlah yang Allah sebutkan sebagai manusia yang merugi di dunia dan di akhirat.

😦

Jika sedang ditimpa musibah, lalu kita berpaling dari Allah maka itu bukanlah keimanan.

Ustadz Nouman Ali Khan

Makanya sangat penting ya bagi kita – mahluk yang lemah ini untuk selalu berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
HR. Tirmidzi no. 3522

Menonton 3 video di atas membuat saya meyakini bahwa belajar untuk selalu meyakini Allah dan ketetapanNya adalah life learning process. Bagaimana caranya kita untuk selalu meningkatkan keimanan kepada Allah – apapun kondisinya. Karena beneran deh, ketika ada musibah dan hati langsung kosong, maka mudah bagi setan untuk membisiki nurani kita dengan hal-hal yang negatif.

Terus gimana dong kalo ada musibah?

Pasti sulit, namun coba rasakan saja dulu perasaan sedihnya, marahnya. Rasakan sambil terus ingat bahwa Allah itu melihat dan sungguh mengetahui apa yang kita rasakan. Allah itu ada. Dan musibah apapun yang terjadi pada diri kita, tidak mengurangi sedikitpun mengenai kasih sayangNya kepada kita semua. 🙂

Bukankah apa yang kita miliki saat ini, sejatinya semua adalah milik Allah?

Life learning process. Ketika hati terus merintih berdoa padaNya, kelak pasti pertolongan akan datang di waktu yang tepat. 🙂

Source: quotefancy.com

Terus berdoa dan mohon ampun padaNya ya. 🙂

Ladeva

Doa; Esensinya Ibadah?

Setelah pekan kemarin, saya menulis tentang Jatuh Cinta dengan Al Qur’an (lagi)? kali ini saya kembali memenuhi ‘challenge’ dari kelas Martikulasi-nya Komunitas Nouman Ali Khan Indonesia, yaitu resume dari dua video Ustadz NAK, yang berjudul

Allah itu Dekat – Nouman Ali Khan

Dan kisah Robert Davilla – Nouman Ali Khan

So, let’s start!

Bismillah

Di video Allah itu Dekat – Nouman Ali Khan, Ustadz memulai dengan tilawah QS Al Baqarah; 186.

QS 2; 186

Di dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “ketika” bukan “if” untuk mengantisipasi kehadiran atau pertanyaan-pertanyaan kita kepadaNya. Jelas terlihat bahwa Allah ada dekat bersama kita untuk menjawab semua doa kita. Siapapun kita.

Wait?

Orang yang sering berbuat salah, masih…boleh nganggep Allah dekat dengannya?
Yes!

Orang yang sering bermaksiat, juga masih boleh beranggapan Allah dekat dengannya?
Yes!

Pencuri, koruptor, anak durhaka, dan segala jenis kemungkinan pelaku kejahatan, masih boleh berdoa ke Allah dan beranggapan Allah dekat dengannya?
Yes!

Hah? Sebaik itukah Allah?

YES!!!

Kalau begitu kita semua, siapapun – tanpa terkecuali – punya hubungan langsung dengan Allah? *mata berbinar-binar*

Yes, my sister and brother, yes!

Allah mengatakan apabila kamu menanyakan tentangKu, itu sudah cukup bagiKu untuk ikut serta langsung denganmu dalam perbincangan. Tidak seorang pun harus bertanya-tanya tentang Allah, dan ya itulah spirit dari do’a. Terutama di bulan Ramadhan ini. Terutama di 10 hari terakhir Ramadhan ini. Ya Rabb…ampuni kami…

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii”

Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi No 3760 dan Ibnu Majah No. 3850)

Itu adalah salah satu doa yang bisa kita baca di saat-saat 10 malam terakhir Ramadhan ini.

Oh iya, Ustadz NAK juga mengingatkan kita agar saat kita membaca do’a berusahalah untuk meresapi do’a-do’a tersebut karena saat itulah kita benar-benar berkomunikasi langsung dengan Allah.

Tapi, Dep…aku gak bisa bahasa arab, terus do’anya pakai bahasa yang lain, boleh?

Silahkan, sister and brother! Ustadz NAK sampaikan bahwa boleh kok kita berdoa pakai bahasa apapun, tetapi harus diingat bahwa saat berdoa adalah saat kita berbicara kepada Allah, jadi benar-benar maksimalkan pemahaman kita terhadap doa yang kita ucapkan tersebut.

Dan juga jangan takut untuk tidak dikabulkan doa-doa kita HANYA KARENA KITA MERASA BELUM MENJADI ORANG BERTAKWA SEPENUHNYA.

Mesti banget capslock, Dep?

Iya, karena Allah itu Maha Baik. 🙂
Jadi kita rasanya tidak pantas untuk berburuk sangka padaNya, meski hanya 1 detik saja.

Ustadz NAK mengutip penggalan ayat di QS 2; 186 tadi yaitu: “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa”. Bukan “mengabulkan permohonan orang-orang yang beriman, orang muslim, orang bertaqwa, dsb”. Jadi, siapapun yang berdoa, dianggap sebagai pemohon.

Indah banget kan? 🙂

Duh nulis resume ini saya merasa gimana ya, antara mau nangis, senyum sendiri dan ya Rabb…

Bayangkan betapa sibuknya Allah, namun kapanpun kita berdoa pasti pasti pasti langsung Allah dengarkan. Fiuh…pantes ya jika kita berdoa kepada Allah dengan hati yang penuh kerendahan, langsung plong tuh seketika. Iya gak sih? :’)

Sehingga di bulan yang penuh rahmat ini, manfaatin sebanyak-banyaknya waktu untuk berdoa! Yakin, harus yakin bahwa Allah dengarkan dan akan dikabulkan. Tidak perlu mikir gimana caranya, Allah mah udah pasti Maha Mengetahui.

Satu yang perlu kita pahami bahwa kita dengan mudahnya berdoa kepada Allah, pastikan bahwa kita pun juga berusaha maksimal untuk memenuhi segala perintah Allah. Di ayat tersebut, Allah tidak berkata: “Harus menjalankan perintahKu” tapi “hendaklah mereka berusaha untuk memenuhi perintahKu”.

Dari penggalan ini jelasss banget masyaa Allah bahwa Allah itu ingin melihat usaha kita untuk selalu mendekat padaNya. Bukan hanya pada hasilnya.

ranselijo - nakquote

Selain itu, berimanlah kepada Allah.

Ya pastilah dep orang berdoa beriman ke Allah, masak ndak?

Hmm yakin? Apakah imanmu tidak akan turun jika ada doamu yang tidak langsung dikabulkan Allah?

Apapun jawaban Allah, kita harus terus beriman kepadaNya, tanpa tapi. 🙂

Runtunan ayat ini bertujuan agar kita bisa terus berada di jalan yang benar, untuk selalu diberikan petunjuk dari Allah karena apa? Karena kita sudah keep connecting dengan Allah.

Sahabat, Ustadz NAK menekankan bahwa doa adalah esensi, otaknya adalah ibadah. Doa adalah hati atau esensi saat beribadah.

Semoga Allah menjadikan kita hambaNya yang selalu berdoa, hanya padaNya. Aamiin…

Dari semua penjelasan ini, saya teringat sebuah kutipan dari Sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab: Aku tidak khawatir jika do’aku tak dikabulkan namun aku khawatir jika aku tak bisa berdo’a.

Jadi sebenarnya ada hubungan yang indah sekali antara momen berdoa dengan momen kita tilawah Qur’an yaitu:

‘Kita berkomunikasi dengan Allah melalui doa dan Allah berkomunikasi dengan kita melalui Al Quran. Jadi komunikasi ini lengkap, dua arah.’

Lalu apa hubungannya dengan video kedua Ustadz yang bercerita tentang kisah Robert Davilla?

Masyaa Allah rasanya saya tidak sanggup menceritakan seindah atau sepassionate Ustadz saat menjelaskan kisah ini detail by detail. Sila tonton langsung atau baca transkripnya di sini 🙂

Inti dari video tersebut adalah bagaimana doa seseorang dapat dikabulkan dari Allah, hidayah yang datang dari arah yang tidak diduga ke seseorang yang mungkin secara kasat mata dan kedangkalan ilmu bisa kita bilang: “Ah, mana mungkin!”

Tapi jika Allah sudah berkehendak, masyaa Allah…tidak ada yang tidak mungkin, bukan? 🙂

Tugas kita adalah berdoa, tidak boleh pesimis atas petunjuk Allah, dan ikhlas saat berdoa. Tidak perlu bingung atau khawatir bagaimana cara mendapatkan hidayah karena itu ranahnya Allah.

Dan it happen a lot to so many people.

Ketika kita doa bersungguh-sungguh, ikhlas semata untuk mendapat petunjuk dari Allah, beneran deh Allah bukakan semua pintu untuk hal tersebut, didatangilah teman, lingkungan, guru, dan sebagainya sebagai jalan kita mendekat padaNya.

Jadi bismillah yuk, pelan-pelan kita jalan kembali mendekat kepada Allah. Iya, gak mudah tapi percaya deh, bisa! Asal kita yakin, berusaha semaksimal mungkin dan terus merendah sebagai seorang hamba. 🙂

Ingat, Allah itu dekat.

Semoga Allah berkenan menuntun hati kita untuk selalu ingat padaNya ya 🙂

Aamiin…

Oh ya, selamat bergegas menjemput Lailatul Qadr dengan sebaik-baiknya usaha! 😉

Ladeva

Jatuh Cinta dengan Al Qur’an (lagi)?

Assalamualaikum Sahabat Qur’an,

Pertengahan 2015 (rasanya) adalah kali pertama saya “berkenalan” dengan ceramah-ceramah Ustadz Nouman Ali Khan (for the next, saya nulisnya hanya Ustadz NAK) via tulisan Bang Syafiq di blognya, terus berlanjut ke IG Nakindo, eh diajak gabung deh di grup WA Komunitas Nakindo (Nouman Ali Khan Indonesia).

Dari WAG tersebut berkembang banyak banget ide-ide warbiayasah yang satu per satu masyaa Allah terwujudkan karena semuanya punya visi dan misi yang gede banget untuk perkembangan Islam pada umumnya di Indonesia ini, dan Al Qur’an pada khususnya. Syariatnya ya karena anggota komunitas jatuh cinta dengan Al Qur’an via ceramah-ceramah atau tadabur kisah dari Ust NAK. Semoga Allah selalu memberkahi Ustadz NAK dan keluarganya.

Long story short, demi merapikan WAG dibuatlah sebuah sistem baru yang namanya martikulasi class, sudah berjalan hmm…hampir setelah tahun mungkin ya? Saya sebenarnya sudah tertarik dari awal ide ini muncul tapi karena merasa belum bisa berkomitmen jangka panjang, jadi ditunda mulu niatnya. Alhamdulillah ala kulli hal, saat ini mulai dibuka lagi kelas martikulasinya dan saya ngerasa: this is the right time to join. Jadi ikut deh…

Kelas martikulasi itu apa, Dep?

Gimana ya jelasin yang gampangnya. Hmm sederhananya sebuah kelas yang dibuat di dalam bentuk WAG yang akan membahas beberapa video dari Ust NAK, mengelaboratenya dan share ke media-media sosial yang kita miliki. Dari kelas ini nanti akan digabung deh dengan para anggota komunitas yang memang serius nih untuk mengembangkan kecintaan kita kepada Al Qur’an, yang lagi lagi syariatnya melalui tadabbur Al Qur’an dari Ust NAK. Mau gabung? Boleh, nanti ya kalau udah dibuka lagi 😀

Nah, karena saya lagi ikut kelas tersebut, sehingga saya mikir mau nulis hasil resume video Ust NAK ya via blog ini. Kenapa? Soalnya lagi pengen menulis panjang dan terstruktur lagi gitu dan biar bisa jadi legacy aja, siapa tahu ada yang butuh, yekan? 😀

Jadi, doakan ya agar saya istiqomah nih nulis resume video Ust NAK di sini. Bismillah!

***

Martikulasi #1

Materi diambil dari video:

Generasi memahami Quran
Nouman Ali Khan – ‘Juz 27 – Hati yang Terikat dengan Al Qur’an

Di awal video Generasi memahami Quran, Ustadz NAK menjelaskan misi Rasulullah SAW yaitu membenahi suatu masyarakat yang telah jatuh dalam kerusakan dan Rasulullah harus membawanya ke dalam cahaya keimanan, seperti yang ada di dalam QS 2; 257.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dan untuk melakukan hal ini, tidak mudah. Proses ini pun mengingatkan kita bahwa meskipun kita – muslim – tinggal di lingkungan kondusif, tidak ada jaminan iman kita akan terus di atas, tidak akan mengalami penurunan iman (futur).

Deg!

Jujur sih ini related banget sama saya.

Muslim, tinggal di Jakarta dan alhamdulillah kerja di lingkungan yang insyaa Allah kondusif tapi ya pasti ada momen kayak ngerasa jauh dari “muslim yang ideal” atau kalau lagi sholat suka ndak khusuk, suka lupa syukur, gak inget namanya sabar kalau lagi diuji, dsb.

Lalu bagaimana caranya agar futur kita tidak berkepanjangan, tidak terlena?

Ust NAK mengingatkan kita dengan QS Al Jumu’ah (62); 2

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Maknanya apa?

Bacalah ayat Al Qur’an, tadaburi masing-masing ayatnya.

Kenapa?

Karena pada dasarnya setiap kali Allah berbicara dalam Al Qur’an maka artinya Allah sedang bicara langsung padaku.

Hadiah yang paling besar yang bisa kita terima sebenarnya adalah perkataan Allah. Allah memilih untuk berbicara langsung padamu.

Masyaa Allah…

Dan ini terjadi pada saya berkali-kali, di saat bingung mau bagaimana (duileh), terus “iseng” buka Al Qur’an sambil bergumam dalam hati: “Ya Rabb, bantu Deva ya Rabb, tunjukkin…”

Dar!

Terbukalah ayat yang nyes…banget di hati. Ya Rabb…

Apakah selalu seperti itu? Ndak selalu. Tapi percaya deh, cara Allah ngasih petunjuk ke umatNya itu indah dan benar-benar menakjubkan. Ada saja caranya. 🙂

Dan di video ini, Ust NAK juga menjelaskan betapa pentingnya kita untuk memahami makna dari setiap kisah, ayat dan penjelasan di Al Qur’an. Pun jika ada yang belum memahami Al Qur’an, maka menjadi tugas kita bersama agar pemahaman Al Qur’an tidak berhenti di satu generasi saja.

Tapi dep, susah euy belajar bahasa Arab yang kayak di Al Qur’an tuh.

Iya, penuh challenge tapi bukan berarti ndak bisa (nahan diri buat gak curhat tentang proses belajar bahasa arab selama 3 tahun yang jauuuuh dari kata: udah bisa dong bahasa arab hehehe). Kita harus yakin bahwa kita bisa memahami Al Qur’an yang bertuliskan arab ini. Kenapa?

Karena Allah udah janjikan seperti di dalam QS Yusuf (12); 2.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya Al Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.”

Kalau Allah udah berfirman seperti itu, masak iya kita meragu? 😀

Selain itu, Al Qur’an juga bisa menumbuhkan atau menyegarkan kembali iman kita yang melemah. Hal ini bisa Sahabat lihat di video di bawah ini.

Ust NAK menjelaskan mengenai tafsir QS Al Hadid ayat 16-17, sebuah ayat yang erat banget kaitannya dengan kaum muslimin yang imannya masih lemah untuk menguatkan iman mereka kembali.

(16) Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(17) Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.

Analoginya bahwa ada suatu musim tertentu yang membuat bumi ini hijau, bumi seolah hidup kembali, mati sesaat namun ketika datang musim semi, semuanya kembali tumbuh, indah dan bersemi kembali. Dan bulan Ramadhan adalah musim semi untuk hati kita, sebuah bulan yang membuat hati kita kembali menjadi hidup karena terikat dengan Al Qur’an.

Dan saat ini adalah bulan Ramadhan 🙂

Bagaimana cara menjaga kedekatan kita dengan Al Qur’an?

Menurutmu bagaimana? 😀

Ya pastinya dengan membaca Al Qur’an setiap hari, sedikit demi sedikit, dengan pemahaman dan serius merenunginya. Sambil berlirih ke Allah dengan ketulusan niat yang baik.

Saat niat sudah lillahi ta’ala, pasti pasti Allah permudah pemahaman kita terhadap Al Qur’an.

Jadi, semangat yuk belajar Al Qur’an bareng-bareng!

Apalagi di bulan Ramadhan ini. 🙂

NAK

Semoga Allah hujamkan hati kita dengan Al Qur’an, mempermudah proses belajar ini dan benar-benar bisa menjadi Qur’an berjalan. Masyaa Allah.

Bismillah ya 🙂

Wassalamualaikum semuanya 🙂

Ladeva

Berbagi Pengalaman tentang Working from Home

Kali pertama saya mengenal istilah “working from home” rasanya di medio 2009, saat masih bekerja di kantor konsultan komunikasi.

Biasanya, kondisi ini dilakukan jika sedang tidak sepenuhnya fit namun pekerjaan masih ada yang harus diselesaikan. Jadi, gak full break gitu.

Kunci penting saat mengajukan diri ‘working from home’ adalah kuatnya komunikasi dan koordinasi, baik melalui WA, email, telpon, dsbnya. Jangan sampai nih, ngajuin ‘working from home’ tapi susah banget dijangkaunya. Alasannya: lagi sibuk sama anak, lagi masak, dsb. Moonmaap situ ‘working from home’ atau emang lagi cuti?

Itu dua kondisi yang berbeda.

Menjadi sosok yang amanah itu penting banget lah di dunia pekerjaan. Perusahaan berhak banget lho mendapatkan performa terbaik dari karyawannya. Pun sebaliknya, jika memang terbukti kinerja karyawannya bagus selama di kantor, maka jika sesekali ingin mengajukan ‘working from home’ pasti juga mudah dikabulkannya.

Ini kalau kondisi normal ya, bukan di kondisi force majeur dengan outbreak corona kayak sekarang.

Tapi gimana ya sis, mau banget nih nyoba ‘working from home’ tapi distraksi datang aja dari anak, ponakan, tetangga, dsbnya.

Ya udah, tinggal cari tempat yang nyaman dan aman dong.

Bukan berarti lho ‘working from home’ kita leha-leha, menunda berbagai macam deadline yang sudah ditetapkan.

Terus gimana agar pekerjaan selesai tepat waktu saat ‘working from home’?

Ya dikerjain! Hehe…

Caranya yang utama adalah mengkondisikan diri bahwa dirimu emang lagi kerja, tapi beda lokasi aja.

Kalau sudah terbiasa bangun pagi, ya tetap lakukan.

Bahkan siapa ya saya lupa, ada seorang CEO rasanya yang memang suka ‘working from home’ tapi dia tuh tetap pakai kemeja kantor lho di rumahnya agar tercipta suasana yang kondusif.

Kasih waktu istirahatnya persis kayak jam di kantor.

Dengan membuktikan diri bahwa kamu tetap produktif, mau di kantor, di pantai, di gunung atau di manapun ke pihak perusahaan maka terbuka peluang untuk dipercaya ke posisi yang lebih baik lagi. Insyaa Allah…

Bukankah big responsibility itu comes from small things?

Kalau kamu, ada cerita juga ndak tentang ‘working from home?’

Ladeva

Bahagiakan Diri Dulu atau Orang Lain?

Kemarin sore, saya mendapat kabar bahwa seorang teman kantor perempuan – senior tepatnya – mendapat musibah tempurungnya retak. Saat itu hanya kaget yang saya rasakan.

Sampai akhirnya saya sampaikan berita ini ke teman yang lain dan dia terperajat kaget luar biasa, lalu seketika ingin ikut menjenguk bersama saya dan teman-teman lainnya.

Saya bertanya: kenapa sih kok kaget banget?

Teman saya menjelaskan betapa berbahayanya kondisi tempurung retak tersebut dan saya merasa: “dep, masak begini aja lo gak paham sik!”

Singkat cerita, tibalah kami di rumahnya. Seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dengan kondisi suami dan ibu yang sakit, dan anak-anak remajanya bersekolah di Bandung yang masih belum bisa mandiri – saat ini sedang berjalan tertatih-tatih. Perih melihatnya.

“Istirahat aja dulu ya, teh. Ikuti kata-kata dokter,” pesan kami ke beliau, yang kemudian disanggah dengan warna muka sedemikian sedihnya, “gak bisa. Klo aku istirahat, di rumah gimana?”

😦

Dan ini bukan kali pertama beliau menyampaikan motivasi beliau bekerja adalah demi keluarga. Beliau harus selalu kuat. Harus selalu mampu bahagiakan keluarga. Bahkan beliau merasa malu untuk menangis.

“Gak apa-apa teh mengakui apa yang kita rasakan, senang, bahagia, marah, kecewa atau apapun. Bagaimana cara kita mampu bahagiakan orang lain, jika kita belum punya “tabungan” kebahagiaan yang bisa dibagikan ke orang lain?” Adalah sebuah pesan yang pernah saya sampaikan ke beliau, namun rasanya bagi sebagian orang pemikiran ini tidak terlalu tepat.

Ada yang berpendapat: cara aku bahagia adalah jika melihat orang di sekitarku bahagia. Gak apa-apa berkorban sedikit.

Sedikit – inilah yang rancu.

Pernah juga aku mendengar nasihat dari alim ulama: kita harus jadi muslim yang kuat agar semakin bermanfaat bagi sekeliling. Sehat itu bisa jadi ibadah jika manfaatnya bisa dirasakan orang lain.

Dan iya, saya setuju.

Sehingga hikmah yang saya dapatkan dari silaturahim semalam adalah selagi ada kesempatan, usia, atau rejeki dalam bentuk apapun – benar-benar harus kita manfaatkan untuk optimalisasi value diri. Semakin kita kuat maka ladang amal sholih untuk sekitar bisa lebih luas lagi.

Seperti hadist Rasulullah SAW,

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Hikmah kedua adalah semangat beliau yang perlu dicontoh. Meskipun kondisi tidak sehat, namun beliau masih mau untuk bekerja agar tidak menjadi beban teman-teman sejawatnya.

Semoga Allah yang Maha Menyembuhkan, bisa memberikan rejeki sehat kepada beliau dengan sebaik-baik kondisi.

Mohon doakan ya, teman-teman 🙂

Oiya, prinsip kalian sendiri bagaimana? Memastikan diri sendiri happy dulu atau berjuang demi membahagiakan orang lain dulu?

Have a good day!

Ladeva