Jatuh Cinta dengan Al Qur’an (lagi)?

Assalamualaikum Sahabat Qur’an,

Pertengahan 2015 (rasanya) adalah kali pertama saya “berkenalan” dengan ceramah-ceramah Ustadz Nouman Ali Khan (for the next, saya nulisnya hanya Ustadz NAK) via tulisan Bang Syafiq di blognya, terus berlanjut ke IG Nakindo, eh diajak gabung deh di grup WA Komunitas Nakindo (Nouman Ali Khan Indonesia).

Dari WAG tersebut berkembang banyak banget ide-ide warbiayasah yang satu per satu masyaa Allah terwujudkan karena semuanya punya visi dan misi yang gede banget untuk perkembangan Islam pada umumnya di Indonesia ini, dan Al Qur’an pada khususnya. Syariatnya ya karena anggota komunitas jatuh cinta dengan Al Qur’an via ceramah-ceramah atau tadabur kisah dari Ust NAK. Semoga Allah selalu memberkahi Ustadz NAK dan keluarganya.

Long story short, demi merapikan WAG dibuatlah sebuah sistem baru yang namanya martikulasi class, sudah berjalan hmm…hampir setelah tahun mungkin ya? Saya sebenarnya sudah tertarik dari awal ide ini muncul tapi karena merasa belum bisa berkomitmen jangka panjang, jadi ditunda mulu niatnya. Alhamdulillah ala kulli hal, saat ini mulai dibuka lagi kelas martikulasinya dan saya ngerasa: this is the right time to join. Jadi ikut deh…

Kelas martikulasi itu apa, Dep?

Gimana ya jelasin yang gampangnya. Hmm sederhananya sebuah kelas yang dibuat di dalam bentuk WAG yang akan membahas beberapa video dari Ust NAK, mengelaboratenya dan share ke media-media sosial yang kita miliki. Dari kelas ini nanti akan digabung deh dengan para anggota komunitas yang memang serius nih untuk mengembangkan kecintaan kita kepada Al Qur’an, yang lagi lagi syariatnya melalui tadabbur Al Qur’an dari Ust NAK. Mau gabung? Boleh, nanti ya kalau udah dibuka lagi 😀

Nah, karena saya lagi ikut kelas tersebut, sehingga saya mikir mau nulis hasil resume video Ust NAK ya via blog ini. Kenapa? Soalnya lagi pengen menulis panjang dan terstruktur lagi gitu dan biar bisa jadi legacy aja, siapa tahu ada yang butuh, yekan? 😀

Jadi, doakan ya agar saya istiqomah nih nulis resume video Ust NAK di sini. Bismillah!

***

Martikulasi #1

Materi diambil dari video:

Generasi memahami Quran
Nouman Ali Khan – ‘Juz 27 – Hati yang Terikat dengan Al Qur’an

Di awal video Generasi memahami Quran, Ustadz NAK menjelaskan misi Rasulullah SAW yaitu membenahi suatu masyarakat yang telah jatuh dalam kerusakan dan Rasulullah harus membawanya ke dalam cahaya keimanan, seperti yang ada di dalam QS 2; 257.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Dan untuk melakukan hal ini, tidak mudah. Proses ini pun mengingatkan kita bahwa meskipun kita – muslim – tinggal di lingkungan kondusif, tidak ada jaminan iman kita akan terus di atas, tidak akan mengalami penurunan iman (futur).

Deg!

Jujur sih ini related banget sama saya.

Muslim, tinggal di Jakarta dan alhamdulillah kerja di lingkungan yang insyaa Allah kondusif tapi ya pasti ada momen kayak ngerasa jauh dari “muslim yang ideal” atau kalau lagi sholat suka ndak khusuk, suka lupa syukur, gak inget namanya sabar kalau lagi diuji, dsb.

Lalu bagaimana caranya agar futur kita tidak berkepanjangan, tidak terlena?

Ust NAK mengingatkan kita dengan QS Al Jumu’ah (62); 2

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Maknanya apa?

Bacalah ayat Al Qur’an, tadaburi masing-masing ayatnya.

Kenapa?

Karena pada dasarnya setiap kali Allah berbicara dalam Al Qur’an maka artinya Allah sedang bicara langsung padaku.

Hadiah yang paling besar yang bisa kita terima sebenarnya adalah perkataan Allah. Allah memilih untuk berbicara langsung padamu.

Masyaa Allah…

Dan ini terjadi pada saya berkali-kali, di saat bingung mau bagaimana (duileh), terus “iseng” buka Al Qur’an sambil bergumam dalam hati: “Ya Rabb, bantu Deva ya Rabb, tunjukkin…”

Dar!

Terbukalah ayat yang nyes…banget di hati. Ya Rabb…

Apakah selalu seperti itu? Ndak selalu. Tapi percaya deh, cara Allah ngasih petunjuk ke umatNya itu indah dan benar-benar menakjubkan. Ada saja caranya. 🙂

Dan di video ini, Ust NAK juga menjelaskan betapa pentingnya kita untuk memahami makna dari setiap kisah, ayat dan penjelasan di Al Qur’an. Pun jika ada yang belum memahami Al Qur’an, maka menjadi tugas kita bersama agar pemahaman Al Qur’an tidak berhenti di satu generasi saja.

Tapi dep, susah euy belajar bahasa Arab yang kayak di Al Qur’an tuh.

Iya, penuh challenge tapi bukan berarti ndak bisa (nahan diri buat gak curhat tentang proses belajar bahasa arab selama 3 tahun yang jauuuuh dari kata: udah bisa dong bahasa arab hehehe). Kita harus yakin bahwa kita bisa memahami Al Qur’an yang bertuliskan arab ini. Kenapa?

Karena Allah udah janjikan seperti di dalam QS Yusuf (12); 2.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya Al Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.”

Kalau Allah udah berfirman seperti itu, masak iya kita meragu? 😀

Selain itu, Al Qur’an juga bisa menumbuhkan atau menyegarkan kembali iman kita yang melemah. Hal ini bisa Sahabat lihat di video di bawah ini.

Ust NAK menjelaskan mengenai tafsir QS Al Hadid ayat 16-17, sebuah ayat yang erat banget kaitannya dengan kaum muslimin yang imannya masih lemah untuk menguatkan iman mereka kembali.

(16) Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

(17) Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.

Analoginya bahwa ada suatu musim tertentu yang membuat bumi ini hijau, bumi seolah hidup kembali, mati sesaat namun ketika datang musim semi, semuanya kembali tumbuh, indah dan bersemi kembali. Dan bulan Ramadhan adalah musim semi untuk hati kita, sebuah bulan yang membuat hati kita kembali menjadi hidup karena terikat dengan Al Qur’an.

Dan saat ini adalah bulan Ramadhan 🙂

Bagaimana cara menjaga kedekatan kita dengan Al Qur’an?

Menurutmu bagaimana? 😀

Ya pastinya dengan membaca Al Qur’an setiap hari, sedikit demi sedikit, dengan pemahaman dan serius merenunginya. Sambil berlirih ke Allah dengan ketulusan niat yang baik.

Saat niat sudah lillahi ta’ala, pasti pasti Allah permudah pemahaman kita terhadap Al Qur’an.

Jadi, semangat yuk belajar Al Qur’an bareng-bareng!

Apalagi di bulan Ramadhan ini. 🙂

NAK

Semoga Allah hujamkan hati kita dengan Al Qur’an, mempermudah proses belajar ini dan benar-benar bisa menjadi Qur’an berjalan. Masyaa Allah.

Bismillah ya 🙂

Wassalamualaikum semuanya 🙂

Ladeva

Berbagi Pengalaman tentang Working from Home

Kali pertama saya mengenal istilah “working from home” rasanya di medio 2009, saat masih bekerja di kantor konsultan komunikasi.

Biasanya, kondisi ini dilakukan jika sedang tidak sepenuhnya fit namun pekerjaan masih ada yang harus diselesaikan. Jadi, gak full break gitu.

Kunci penting saat mengajukan diri ‘working from home’ adalah kuatnya komunikasi dan koordinasi, baik melalui WA, email, telpon, dsbnya. Jangan sampai nih, ngajuin ‘working from home’ tapi susah banget dijangkaunya. Alasannya: lagi sibuk sama anak, lagi masak, dsb. Moonmaap situ ‘working from home’ atau emang lagi cuti?

Itu dua kondisi yang berbeda.

Menjadi sosok yang amanah itu penting banget lah di dunia pekerjaan. Perusahaan berhak banget lho mendapatkan performa terbaik dari karyawannya. Pun sebaliknya, jika memang terbukti kinerja karyawannya bagus selama di kantor, maka jika sesekali ingin mengajukan ‘working from home’ pasti juga mudah dikabulkannya.

Ini kalau kondisi normal ya, bukan di kondisi force majeur dengan outbreak corona kayak sekarang.

Tapi gimana ya sis, mau banget nih nyoba ‘working from home’ tapi distraksi datang aja dari anak, ponakan, tetangga, dsbnya.

Ya udah, tinggal cari tempat yang nyaman dan aman dong.

Bukan berarti lho ‘working from home’ kita leha-leha, menunda berbagai macam deadline yang sudah ditetapkan.

Terus gimana agar pekerjaan selesai tepat waktu saat ‘working from home’?

Ya dikerjain! Hehe…

Caranya yang utama adalah mengkondisikan diri bahwa dirimu emang lagi kerja, tapi beda lokasi aja.

Kalau sudah terbiasa bangun pagi, ya tetap lakukan.

Bahkan siapa ya saya lupa, ada seorang CEO rasanya yang memang suka ‘working from home’ tapi dia tuh tetap pakai kemeja kantor lho di rumahnya agar tercipta suasana yang kondusif.

Kasih waktu istirahatnya persis kayak jam di kantor.

Dengan membuktikan diri bahwa kamu tetap produktif, mau di kantor, di pantai, di gunung atau di manapun ke pihak perusahaan maka terbuka peluang untuk dipercaya ke posisi yang lebih baik lagi. Insyaa Allah…

Bukankah big responsibility itu comes from small things?

Kalau kamu, ada cerita juga ndak tentang ‘working from home?’

Ladeva

Bahagiakan Diri Dulu atau Orang Lain?

Kemarin sore, saya mendapat kabar bahwa seorang teman kantor perempuan – senior tepatnya – mendapat musibah tempurungnya retak. Saat itu hanya kaget yang saya rasakan.

Sampai akhirnya saya sampaikan berita ini ke teman yang lain dan dia terperajat kaget luar biasa, lalu seketika ingin ikut menjenguk bersama saya dan teman-teman lainnya.

Saya bertanya: kenapa sih kok kaget banget?

Teman saya menjelaskan betapa berbahayanya kondisi tempurung retak tersebut dan saya merasa: “dep, masak begini aja lo gak paham sik!”

Singkat cerita, tibalah kami di rumahnya. Seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dengan kondisi suami dan ibu yang sakit, dan anak-anak remajanya bersekolah di Bandung yang masih belum bisa mandiri – saat ini sedang berjalan tertatih-tatih. Perih melihatnya.

“Istirahat aja dulu ya, teh. Ikuti kata-kata dokter,” pesan kami ke beliau, yang kemudian disanggah dengan warna muka sedemikian sedihnya, “gak bisa. Klo aku istirahat, di rumah gimana?”

😦

Dan ini bukan kali pertama beliau menyampaikan motivasi beliau bekerja adalah demi keluarga. Beliau harus selalu kuat. Harus selalu mampu bahagiakan keluarga. Bahkan beliau merasa malu untuk menangis.

“Gak apa-apa teh mengakui apa yang kita rasakan, senang, bahagia, marah, kecewa atau apapun. Bagaimana cara kita mampu bahagiakan orang lain, jika kita belum punya “tabungan” kebahagiaan yang bisa dibagikan ke orang lain?” Adalah sebuah pesan yang pernah saya sampaikan ke beliau, namun rasanya bagi sebagian orang pemikiran ini tidak terlalu tepat.

Ada yang berpendapat: cara aku bahagia adalah jika melihat orang di sekitarku bahagia. Gak apa-apa berkorban sedikit.

Sedikit – inilah yang rancu.

Pernah juga aku mendengar nasihat dari alim ulama: kita harus jadi muslim yang kuat agar semakin bermanfaat bagi sekeliling. Sehat itu bisa jadi ibadah jika manfaatnya bisa dirasakan orang lain.

Dan iya, saya setuju.

Sehingga hikmah yang saya dapatkan dari silaturahim semalam adalah selagi ada kesempatan, usia, atau rejeki dalam bentuk apapun – benar-benar harus kita manfaatkan untuk optimalisasi value diri. Semakin kita kuat maka ladang amal sholih untuk sekitar bisa lebih luas lagi.

Seperti hadist Rasulullah SAW,

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Hikmah kedua adalah semangat beliau yang perlu dicontoh. Meskipun kondisi tidak sehat, namun beliau masih mau untuk bekerja agar tidak menjadi beban teman-teman sejawatnya.

Semoga Allah yang Maha Menyembuhkan, bisa memberikan rejeki sehat kepada beliau dengan sebaik-baik kondisi.

Mohon doakan ya, teman-teman 🙂

Oiya, prinsip kalian sendiri bagaimana? Memastikan diri sendiri happy dulu atau berjuang demi membahagiakan orang lain dulu?

Have a good day!

Ladeva

Jelang Akhir 2019

Sudah sejauh apa dream list kamu tercapai?

Buatku, 9 bulan di 2019 ini berjalan sangat cepat. Tau-tau sudah September 2019. Sebentar lagi Desember 2019.

Kalo hitungan kalendar Hijriah sih, baru bulan lalu kami merayakan tahun baru Islam.

Nah, oleh karena itu, aku kepikir untuk re-design dream listku.

DREAM LIST 2019

Saat tadi re-design dream list di Trello (ada yang pake Trello juga gak, duhai teman blogku…), aku mikir: ada gak ya yang sungguh-sungguh membuat dream list dan ikhtiar maksimal untuk mewujudkannya? Karena jika ada, aku ingin sekali mendengarkan kisah mereka. Kalo kalian ada cerita, boleh dong dishare. 🙂

Di sisi lain, ada sebagian jenis orang yang ku tahu – merasa takut dalam membuat dream list.

“Takut gak kesampaian, Dev. Nanti kecewa. Jadi let it flow aja semuanya,” alasannya demikian.

Saat mendengar itu sih, aku hanya mencoba menempatkan posisi: “Iya sih, kadang punya ketakutan juga akan kecewa jika sudah set the target tapi gak tercapai.”

Tapi jauh di diriku, aku ingin belajar mempunyai target sedikit demi sedikit agar bisa melihat sejauh apa sih ikhtiar aku meraihnya.

My simple dream list: bisa terus nulis di ranselijo.com ini. Haha…konsistensi itu ndak mudah, Sahabat!

Doain yaaaa 😀

Share yuk cerita kalian tentang dream list 2019 ini. Bismillah, bisa jadi jalan inspirasi yang membaca 😉

Ladeva

Inget Safa dan Marwah, kak…

Kemarin siang, saya sedang buntu ide dalam mengerjakan tugas. Serasa butuh break sejenak tapi paham banget bahwa harus ada solusi segera dalam tugas ini.

Akhirnya iseng aja ngajak ngbrol teman sebelah kubikel. Namanya Tamtam – anaknya ceria dan komunikatif. Jadi saya pikir, bisa release the stress deh barang sejenak.

Masalahnya, ternyata pertanyaan yang saya ajuin mengundang cerita hikmah yang panjang dan sayang untuk dipotong dari si Tamtam ini.

Tam, kalo kamu ngerasa ikhtiar kamu udah maksimal banget, doa juga udah optimal, tapi hasil ternyata jauh dari keinginan kita, apa yang kamu lakuin?

Sebenarnya mah udah tau jawabannya apa, tapi emang dasar pengen ngbrol dan siapa tau ada insight lain yang bisa saya dapatkan. Lagipula, bukankah masing-masing dari kita perlu direscharge ya – dari sumber pikiran yang positif.

Saat mendengar pertanyaan saya, Tamtam langsung terlihat “curhatable” dan matanya berbinar – padahal dia juga sedang sakit kepala haha…hapunten ya neng!

“Wah kak, aku pernah tuh kak ngalamin hal kayak gitu,” katanya bersemangat.

Saya pun mulai mendengarkan kisahnya.

Ternyata Tamtam dulu pernah berharap sekali bisa masuk ke Universitas negeri yang memang favorit anak-anak SMA lah. Bahkan dari segi nilai, kelayakan dan “green card” dari kampus tsb, sudah Tamtam dapatkan. Intinya mah, tinggal masuk doang.

Tapi qadarullah ada kebijakan lain ketika itu dari Dinas Pendidikan, yang membuat jalan hidup Tamtam gak semudah impian.

Tamtam gagal masuk kampus impiannya.

Pedih.

Kecewa dan mempertanyakan, “kok bisa?”

Long story short, ada 1 jalan lagi yang bisa Tamtam tempuh untuk masuk kampus tsb, sebutlah ujian khususnya.

“Saat otw ke ujian, ya ampun kak, aku benar-benar sedekah, nolongin orang sepanjang jalan, bahkan aku PD ngerjain soalnya dibanding yang sebelumnya,” kenang Tamtam.

Tapi lagi lagi, gagal.

“Aku udah ikuti semua kata-kata motivator, ustadz, kakak kelas, orang tua, pokoknya udah semua. Tapi gagal,” terdengar nada sedih di suaranya.

Akhirnya Tamtam masuk ke Universitas negeri lainnya.

“Allah Maha Tahu kak kebutuhan kita. Kayak hikmah kisah Siti Hajar. Allah nyuruh Siti Hajar lari-lari ke Safa dan Marwah untuk menuhi kebutuhan Nabi Ismail. Tapi ternyata air zamzam ada di bawah kaki Nabi Ismail! Artinya kan, Allah ingin tahu ikhtiar kita semaksimal apa. Kalau kita ninggalin sesuatu karena Allah, pasti Allah udah jamin kebutuhan kita. Allah gak akan ninggalin kita sama sekali!” semangat Tamtam saat bercerita masya Allah. Terasa di hati.

Lanjutnya, “Faktanya, Kak saat aku di kampus yang ini, semua kebutuhanku tercukupi. Aku gak pernah lapar, haus, nilaiku bagus…”

“Wah iya kamu lulus cumma cum laude kan?” potong saya.

“Iya kak!”

Dan memang bukan hanya 1 cerita ini yang saya dengar mengenai hikmah sebuah kegagalan dari pilihan yang ingin sekali kita dapatkan.

Selalu Allah cukupkan semuanya saat memang kita berfokus untuk terus ada di tracknya Allah.

Bukan tentang hasil akhir, tapi selalu mengenai proses. Apakah ada Allah di dalam proses tersebut.

“Ustadz Hanan kan juga pernah bilang untuk selalu ngbrol sama Allah dalam kondisi apapun,” lanjutnya.

Allahu ya kariim…

Seandainya diri ini selalu mengaitkan segala sesuatu dengan Allah maka tidak perlu lagi ada keraguan. Karena pasti Allah menolong.

Pertanyaannya: sudah seberapa besar ikhtiar kita agar pantas ditolong Allah?

Tabik,

Deva