Beranikah Kita?

Bismillah

Saat selesai menonton video ceramah Ustadz Nouman Ali Khan yang berjudul Berani Mengatakan Kebenaran, dada saya agak sesak dan berpikir: “Jika saya ada di kondisi yang dialami oleh Jenderal Firaun – yang merupakan satu-satunya jenderal muslim, apakah mampu saya berani mengakui identitas muslimnya saya di hadapan para jenderal Firaun dan Firaun itu sendiri?”

Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dipikirkan jawabannya, bukan?

Ya Rabb…

QS Al-Mu’min ayat 28

Source: https://tafsirweb.com/

Jadi ada apa dengan video ini?

Di grup Martikulasi, panitia mengawali pemberian tugas dengan sedikit clue tentang video yang saya kutip di bawah ini:

Bismillaah.

Alhamdulillah di pekan kelima kita telah mempelajari bagaimana caranya supaya ujian hidup tidak berakhir dengan tragedi. Belajar menyadari tanggung jawab dakwah yang kita emban. Dan yang akan diemban oleh generasi penerus kita.

Bagian dari dakwah adalah menyuarakan kebenaran. Dan berani untuk menyuarakannya. Contoh orang yang berani menyuarakan kebenaran, dihadirkan di video ini. Namanya tidak diketahui tapi di Al-Qur’an dia diabadikan sebagai mukminu aali Fir’aun. Seorang yang beriman dari pengikut Fir’aun.

Ustadz Nouman cukup menggebu-gebu berkhutbah di video ini. Mungkin karena peristiwanya masih hangat terasa. Kala itu. 

Video yang diunggah tanggal 15 Mei 2018 oleh kanal Nouman Ali Khan Indonesia ini berasal dari sebuah video yang diunggah hari Sabtu, tanggal 20 Desember 2014 oleh kanal NAMCC. Khutbah Jumat-nya sendiri disampaikan tanggal 19 Desember 2014. Berjarak hanya tiga hari setelah peristiwa pembantaian 141 orang, 132 diantaranya anak-anak, di Peshawar, Pakistan, yang terjadi pada tanggal 16 Desember 2014. Beritanya dimuat di bbc.com pada hari yang sama. Juga di kompas.com tiga hari kemudian, dengan angka korban mengalami sedikit penambahan.

Pembunuhan anak-anak adalah the ugliest military tactic. Atau, one of the most demonic, satanic tactics. Taktik keji dengan tidak membunuh lawan, tapi membunuh anak-anak mereka. Taktik yang sudah ada sejak zaman Fir’aun. Yang memang terkenal keji itu. Tapi yang terjadi di Pakistan itu, membuat Ustadz Nouman tidak bisa melanjutkan nyetir mobil. Harus menepi dulu. Tak kuasa menahan tangis. Karena yang membunuh anak-anak, kali ini, bukan Fir’aun. Tapi mereka yang mengucapkan laa-ilaaha-illallaah. Ratusan nyawa yang melayang itu adalah anak-anak kita.

Ada yang japri Ustadz Nouman. Menginformasikan bahwa ada sebuah hadits Bukhari yang membenarkan tindakan brutal tersebut. Hmmm. Mereka yang keji itu bahkan tidak pantas untuk menyebut nama Rasulullah SAW yang mulia. Mereka bukannya belajar hadits lalu mengamalkannya. Yang mereka lakukan adalah tindakan politisasi hadits. Jika ada sunnah yang mereka ikuti, itu bukan sunnah Rasulullah SAW, tapi sunnah dari Fir’aun la’natullaah.

Khutbah Ustadz Nouman ini sekaligus adalah sebuah contoh bahwa Ustadz Nouman sendiri telah menyuarakan kebenaran. Dengan berani. Tidak takut, misalnya, dibunuh oleh orang Taliban yang mendengarkan khutbah ini, atau bahkan bisa saja berada di salah satu kerumunan jamaah yang sedang mendengarkan khutbah saat itu.

Kita tinggal mencontoh saja. Ketika ada kebenaran yang harus diungkap, tidak bisa kita tinggal diam. Diam saja berarti spineless. Lemah. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa the weak atau the oppressed berada di neraka bersama-sama dengan those who are in the position of power. Semoga kita tidak menjadi kaum yang lemah yang berakhir di neraka. Na’uudzu billaahi min dzaalik.  


Tautan berita terkait pembantaian yang sebagian besar menewaskan anak-anak.

Di BBC
https://www.bbc.com/news/world-asia-30491435  

Di Kompas https://internasional.kompas.com/read/2014/12/19/1918035/Balas.Pembantaian.di.Sekolah.Tentara.Pakistan.Tewaskan.50.Taliban  

***

Lagi, dalam ceramahnya, Ustadz NAK membahas kisah Nabi Musa AS. Dan dari sekian banyak kejahatan yang dilakukan oleh Firaun, Firaun memberikan ‘sedikit perbedaan tindakan’ kepada Nabi Musa AS, yang ia besarkan. Kenapa?

Karena Allah lah yang menguasai hati setiap manusia, bahkan hati seorang Firaun sekalipun dan tidak ada yang bisa luput dari kehendak dan kekuasaan Allah.

Dan di video tsb, Ustadz NAK menjelaskan bahwa Allah sangat menghargai orang beriman yang menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.

Jika ada yang berjuang demi Allah maka Allah akan melindunginya. Dan kita harus yakin dengan perlindunganNya, agar berani untuk mulai berjuang. Ketika kita bisa menunjukkan keberanian kita kepada Allah maka kita tidak butuh perlindungan yang lainnya. Bukankah tidak ada perlindungan yang lebih baik, selain perlindungan Allah?

Ladeva

Don’t Lose Hope to Allah and Be Grateful!

Akhirnya selesai juga tulisan ini setelah lebih kurang 2 pekan tertunda. Qadarullah masyaa fa’ala.

Bismillah yuk kita bahas tipis-tipis 😀

Video 1
Nouman Ali Khan – ‘Juz 24 – Kembali Kepada Allah’

Az Zumar ayat 53

Source: https://tafsirweb.com/

Summary penjelasan Ustadz NAK:

  1. Jangan tertekan, janganlah putus asa dari rahmat Allah. Janganlah kamu berpikir bahwa cintaNya dan perhatianNya itu lebih kecil dari pada dosa-dosa yang kamu buat. CintaNya jauh lebih besar dosa-dosa kita.
  2. Janganlah kamu dibingungkan atas apa yang orang lain katakan padamu, dengan apa yang Allah pikirkan atasmu. Orang lain mungkin mengira kamu adalah orang jahat dan mereka mengabaikanmu, tapi Allah tidak pernah mengabaikanmu.
  3. Maka kembalilah kepada Allah. Taubat sepenuhnya kepada Allah. Akui dosa-dosa kita.

Video 2
Nouman Ali Khan – ‘Juz 25 – Imbalan Bagi Yang Menjauhi Dosa Besar’

Source: https://tafsirweb.com/

Ustadz NAK menjelaskan QS Asy Syuraa; 36 bahwa apapun yang kita miliki saat ini di dunia hanya bersifat sementara karena hanya di sisi Allah-lah kehidupan yang kekal dan pasti itu adalah hal yang terbaik.

Mengenai QS Asy Syuraa; 37, Ustadz NAK menjelaskan Allah menyebutkan tentang dosa besar dan perbuatan keji. Ada dosa besar dan dosa kecil, Dosa-dosa seperti tidak melakukan wudhu terbaik, terburu-buru dalam sholat, tidak menundukkan pandangan dari lawan jenis yang bukan mahrom, dsb – berbagai macam dosa yang bahkan tidak kita sadari. Tapi ada juga dosa besar seperti mengkonsumsi yang haram, berzina, membunuh seseorang, mengkonsumsi riba. Allah berkata jika engkau mau merasakan hidup nikmat di akhirat, jangan lakukan dosa besar. Menjauhlah dari dosa besar, kamu bisa membersihkan diri dengan selalu melakukan hal-hal kecil dan menjadi muslim yang lebih baik lagi.

Sehingga hal yang harus kita prioritaskan adalah carilah cara agar kita selalu dikelilingi oleh orang-orang yang dapat menghindarkanmu dari dosa besar, seorang teman yang baik yang selalu menjagamu di jalan yang benar dan bila kamu ‘tertidur’ maka mereka dapat menarikmu kembali.

Video 3
Nouman Ali Khan – ‘Juz 13 – Berhenti Mengeluh Dan Mulailah Bersyukur’

Source: https://tafsirweb.com/

Di dalam ayat ini, Ustadz NAK menjelaskan bahwa kata “bersyukurlah kamu” tidak hanya ditujukan kepada Allah SWT tapi bisa bersyukur kepada orang tua, guru, teman, kesehatanmu, bersyukur kepada orang-orang yang telah berjasa, pada perusahaan yang telah memberikan pekerjaan, dsb. Jika saja kita bisa bersyukur, dan itu bukan hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah tapi juga merupakan sikap, gaya hidup dan cara berpikir maka Allah berkata: Aku bersumpah, aku akan tambahkan untukmu.

Tidak ada keraguan, Aku bersumpah, aku akan tambah untukmu.

Allah jarang menyebutkan kata “Aku” dalam Al Qur’an, biasanya ia menggunakan “Kami”. Hanya pada permasalahan yang amat besar saja, Allah menggunakan kata ganti “Aku”. Dan di QS Ibrahim ayat 7 ini Allah menggunakan kata “Aku”.

Berasa ndak sampai ke hati ayat ini?

Lalu jika timbul pertanyaan: apa yang ditambahkan?

Ustadz NAK menjawab: Allah tidak membatasi sesuatu yang akan Ia tambahkan untukmu.

Menariknya adalah ayat ini adalah khutbah yang diberikan Nabi Musa AS untuk Bani Israil saat mereka telah berhasil melewati laut yang terbelah. Instead of memberikan ayat tentang kesabaran, Nabi Musa AS justru memberikan ayat ini mengenai bersyukur.

Kenapa?

Karena kita tidak akan mungkin bisa bersabar jika tidak memiliki rasa bersyukur.

Ustadz Nouman Ali Khan

Jika kita bisa bersyukur maka Allah akan menjaga semua keperluan kita dan akan ditambah terus menerus.

Hal menarik lainnya dalam ayat ini adalah hmm gini…

Allah berkata jika kamu bersyukur maka akan Aku tambah, namun jika kamu mengingkarinya, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.

Menurut Ustadz NAK, kalimat ini bukan kalimat sebab akibat. Instead of menyelesaikan kalimat dair jika kamu mengingkarinya maka akan Aku hukum, Allah justru melanjutkan dengan kalimat baru yaitu “sesungguhnya azabKu sangat pedih”. Untuk kalimat seperti inipun, Ustadz NAK mengajak kita bersyukur karena tidak terbayang jika kalimatnya diubah menjadi sebuah sebab akibat. Jika kamu bersyukur maka akan aku tambah namun jika sebaliknya maka akan aku hukum. Tapi ini kan ndak. Ya Rabb…

Coba deh ditonton videonya agar lebih ‘nangkep’ penjelasan Ustadz NAK karena ada beberapa penjelasan yang agak sulit untuk dijabarkan secara tulisan. 😀


Jujur sih sembari menulis dan melihat videonya maju mundur, saya senyum dan ada rasa haru tentang betapa sempurnanya kebaikan Allah yang sering banget gak saya sadari.

Jadi yuk, kita benahi mindset kita.

Dan menekankan bahwa jika kita mampu menghindari perbuatan dosa, kembali kepada Allah dan selalu bersyukur untuk hal apapun, insyaa Allah akan lebih ringan semuanya.

Bismillah yuk!

Ladeva

Musibah; Haruskah Membuat Kita Menjauh dariNya?

Mengawali tulisan ini, karena kemarin baru saja alhamdulillah kita memasuki Idulfitri 1441 H, mari saling bermaaf-maafan 🙂

Taqaballahu minna wa minkum. Minal Aidzin Wal Faidzin ya semuanya 🙂

Semoga Allah berkenan mempertemukan kita di bulan Ramadhan tahun depan dengan kondisi yang lebih baik lagi. Aamiin…

Di pekan ketiga kelas Martikulasi Nouman Ali Khan Indonesia, kami diminta untuk summary 3 video di 1 tulisan. So, let’s start.

Bismillah…

Selama membaca tulisan ini, Sahabat bisa klik 3 video yang terdapat dalam pembahasan ini ya 🙂

Nouman Ali Khan – ‘Juz 28 – Mengapa Musibah Menimpaku?

Nouman Ali Khan – ‘Juz 20 – Menyembuhkan Hati Yang Terluka’

Nouman Ali Khan – ‘Juz 17 – Orang Yang Paling Merugi’

Bagaimana? Sudah klik video-videonya? Masyaa Allah ya, kalau bicara tentang musibah, siapa sih ya yang gak pernah melewati fase tersebut.

Dalam video pertama, Ustadz NAK memulainya dengan membahas QS At Taghabuun; 11

Source: https://tafsirweb.com/

Di dalam ayat ini, tertulis kata “musibah” dari bahasa arab yang artinya bencana.

Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah.

Renungi deh…

Ketika mendengar ini, suara hati seperti berbisik: Iya, sebagai orang beriman, harus percaya – meski mungkin di hantaman pertama ada rasa sedihnya. Tapi, coba deh dengerin penjelasan Ustadz NAK selanjutnya di video ini.

Kata “musibah” berasal dari kata “asaba” yang dalam bahasa arab berarti “mentargetkan”.

Dari penjelasan ini, Allah ingin mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, apapun – bener-bener apapun, tanpa kecuali, segalanya memang sudah terukur, terarah dan diperuntukkan untuk kita, bukan untuk orang lain. Dan musibah itu, tidak melulu hal yang buruk, tapi memang sesuatu yang Allah inginkan terjadi kepada kita, bukan kepada orang lain.

Dan kalimat selanjutnya di dalam ayat di atas adalah “…dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya…”

Berasa gak getarannya? 🙂

Jika di hati kita percaya kepada Allah, atas apapun musibah yang Allah berikan kepada kita, Allah akan kasih hadiah – yaitu: hati kita akan selalu dibimbing Allah. Indah banget kan?

Kebayang gak sih kalau hati kita selalu dibimbing Allah? Semua keputusan kita maka akan baik, jika di dalam hati kita selalu meletakkan Allah di prioritas utama.

Contohnya kayak gimana, Dep?

Yuk, klik video ke-2. Ustadz langsung ambil contoh QS Al Qashash; 10

Source: https://tafsirweb.com/

Inhale exhale…

Bagi saya, mendengar kisah Nabi Musa selalu meninggalkan kesan yang luar biasa. Kisahnya seakan tidak pernah habis untuk digali hikmahnya. Masyaa Allah. Kali ini, di QS Al Qashash ayat 10, Allah ingin kita mengambil contoh kisah Ibunda Nabi Musa yang ketika Nabi Musa lahir, harus diletakkan ke air dan membuatnya jauh dari sang ibu, sebagai salah satu solusi agar bayi Musa tidak dibunuh oleh Firaun. 😦

Bayangkan perasaan Ibunda Nabi Musa.

Dan itu lah yang menjadi bridging hikmah kali ini. Bahwasanya setiap orang pasti pernah mengalami musibah yang berat sekali hingga meninggalkan trauma di hati, seperti kehilangan orang yang dicintai, luka karena sikap dan perbuatan orang lain, dsb.

Namun, di saat fase ini terjadi kepada kita, hati kita harus terus percaya bahwa ada Allah, beriman kepada ketetapanNya. Karena di situlah kuncinya, kunci pertolongan Allah. Seperti yakinnya ibunda Nabi Musa untuk meletakkan bayi Musa ke air, yang belum jelas nih akan aman atau tidak. Tapi karena beliau yakin sepenuhnya ke Allah (diberikan petunjuk dari Allah di hati Ibunda Nabi Musa) maka lihatlah betapa dahsyatnya kisah-kisah Nabi Musa. 🙂

Keyakinan kepada Allah itu memang terkadang terasanya ya di hati. Tetiba yakin aja mau ambil keputusan itu sembari terus bertawakal dan berdoa kepada Allah.

Karena jika Allah tidak ikut campur untuk menenangkan hati kita dalam menghadapi masalah, lalu bagaimana caranya hati kita akan tenang?

Dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada yang ketika ditimpa musibah, justru membuatnya jauh dari Allah.

Penjelasan tersebut ada di video ke-3, mengenai QS Al Hajj; 11:

Source: https://tafsirweb.com/

Ayat ini menceritakan tentang seseorang yang mau masuk Islam, hanya jika ajaran tersebut nyaman baginya. Misal ia dapat sesuatu yang baik, ia senang dan berucap Alhamdulillah, namun sebaliknya jika sedang ditimpa musibah, ia justru mempertanyakan: kenapa Allah lakuin ini ke saya? Saya gak butuh agama ini!

Na’udzubillah…

Jenis orang-orang tersebutlah yang Allah sebutkan sebagai manusia yang merugi di dunia dan di akhirat.

😦

Jika sedang ditimpa musibah, lalu kita berpaling dari Allah maka itu bukanlah keimanan.

Ustadz Nouman Ali Khan

Makanya sangat penting ya bagi kita – mahluk yang lemah ini untuk selalu berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
HR. Tirmidzi no. 3522

Menonton 3 video di atas membuat saya meyakini bahwa belajar untuk selalu meyakini Allah dan ketetapanNya adalah life learning process. Bagaimana caranya kita untuk selalu meningkatkan keimanan kepada Allah – apapun kondisinya. Karena beneran deh, ketika ada musibah dan hati langsung kosong, maka mudah bagi setan untuk membisiki nurani kita dengan hal-hal yang negatif.

Terus gimana dong kalo ada musibah?

Pasti sulit, namun coba rasakan saja dulu perasaan sedihnya, marahnya. Rasakan sambil terus ingat bahwa Allah itu melihat dan sungguh mengetahui apa yang kita rasakan. Allah itu ada. Dan musibah apapun yang terjadi pada diri kita, tidak mengurangi sedikitpun mengenai kasih sayangNya kepada kita semua. 🙂

Bukankah apa yang kita miliki saat ini, sejatinya semua adalah milik Allah?

Life learning process. Ketika hati terus merintih berdoa padaNya, kelak pasti pertolongan akan datang di waktu yang tepat. 🙂

Source: quotefancy.com

Terus berdoa dan mohon ampun padaNya ya. 🙂

Ladeva

Doa; Esensinya Ibadah?

Setelah pekan kemarin, saya menulis tentang Jatuh Cinta dengan Al Qur’an (lagi)? kali ini saya kembali memenuhi ‘challenge’ dari kelas Martikulasi-nya Komunitas Nouman Ali Khan Indonesia, yaitu resume dari dua video Ustadz NAK, yang berjudul

Allah itu Dekat – Nouman Ali Khan

Dan kisah Robert Davilla – Nouman Ali Khan

So, let’s start!

Bismillah

Di video Allah itu Dekat – Nouman Ali Khan, Ustadz memulai dengan tilawah QS Al Baqarah; 186.

QS 2; 186

Di dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “ketika” bukan “if” untuk mengantisipasi kehadiran atau pertanyaan-pertanyaan kita kepadaNya. Jelas terlihat bahwa Allah ada dekat bersama kita untuk menjawab semua doa kita. Siapapun kita.

Wait?

Orang yang sering berbuat salah, masih…boleh nganggep Allah dekat dengannya?
Yes!

Orang yang sering bermaksiat, juga masih boleh beranggapan Allah dekat dengannya?
Yes!

Pencuri, koruptor, anak durhaka, dan segala jenis kemungkinan pelaku kejahatan, masih boleh berdoa ke Allah dan beranggapan Allah dekat dengannya?
Yes!

Hah? Sebaik itukah Allah?

YES!!!

Kalau begitu kita semua, siapapun – tanpa terkecuali – punya hubungan langsung dengan Allah? *mata berbinar-binar*

Yes, my sister and brother, yes!

Allah mengatakan apabila kamu menanyakan tentangKu, itu sudah cukup bagiKu untuk ikut serta langsung denganmu dalam perbincangan. Tidak seorang pun harus bertanya-tanya tentang Allah, dan ya itulah spirit dari do’a. Terutama di bulan Ramadhan ini. Terutama di 10 hari terakhir Ramadhan ini. Ya Rabb…ampuni kami…

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii”

Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi No 3760 dan Ibnu Majah No. 3850)

Itu adalah salah satu doa yang bisa kita baca di saat-saat 10 malam terakhir Ramadhan ini.

Oh iya, Ustadz NAK juga mengingatkan kita agar saat kita membaca do’a berusahalah untuk meresapi do’a-do’a tersebut karena saat itulah kita benar-benar berkomunikasi langsung dengan Allah.

Tapi, Dep…aku gak bisa bahasa arab, terus do’anya pakai bahasa yang lain, boleh?

Silahkan, sister and brother! Ustadz NAK sampaikan bahwa boleh kok kita berdoa pakai bahasa apapun, tetapi harus diingat bahwa saat berdoa adalah saat kita berbicara kepada Allah, jadi benar-benar maksimalkan pemahaman kita terhadap doa yang kita ucapkan tersebut.

Dan juga jangan takut untuk tidak dikabulkan doa-doa kita HANYA KARENA KITA MERASA BELUM MENJADI ORANG BERTAKWA SEPENUHNYA.

Mesti banget capslock, Dep?

Iya, karena Allah itu Maha Baik. 🙂
Jadi kita rasanya tidak pantas untuk berburuk sangka padaNya, meski hanya 1 detik saja.

Ustadz NAK mengutip penggalan ayat di QS 2; 186 tadi yaitu: “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa”. Bukan “mengabulkan permohonan orang-orang yang beriman, orang muslim, orang bertaqwa, dsb”. Jadi, siapapun yang berdoa, dianggap sebagai pemohon.

Indah banget kan? 🙂

Duh nulis resume ini saya merasa gimana ya, antara mau nangis, senyum sendiri dan ya Rabb…

Bayangkan betapa sibuknya Allah, namun kapanpun kita berdoa pasti pasti pasti langsung Allah dengarkan. Fiuh…pantes ya jika kita berdoa kepada Allah dengan hati yang penuh kerendahan, langsung plong tuh seketika. Iya gak sih? :’)

Sehingga di bulan yang penuh rahmat ini, manfaatin sebanyak-banyaknya waktu untuk berdoa! Yakin, harus yakin bahwa Allah dengarkan dan akan dikabulkan. Tidak perlu mikir gimana caranya, Allah mah udah pasti Maha Mengetahui.

Satu yang perlu kita pahami bahwa kita dengan mudahnya berdoa kepada Allah, pastikan bahwa kita pun juga berusaha maksimal untuk memenuhi segala perintah Allah. Di ayat tersebut, Allah tidak berkata: “Harus menjalankan perintahKu” tapi “hendaklah mereka berusaha untuk memenuhi perintahKu”.

Dari penggalan ini jelasss banget masyaa Allah bahwa Allah itu ingin melihat usaha kita untuk selalu mendekat padaNya. Bukan hanya pada hasilnya.

ranselijo - nakquote

Selain itu, berimanlah kepada Allah.

Ya pastilah dep orang berdoa beriman ke Allah, masak ndak?

Hmm yakin? Apakah imanmu tidak akan turun jika ada doamu yang tidak langsung dikabulkan Allah?

Apapun jawaban Allah, kita harus terus beriman kepadaNya, tanpa tapi. 🙂

Runtunan ayat ini bertujuan agar kita bisa terus berada di jalan yang benar, untuk selalu diberikan petunjuk dari Allah karena apa? Karena kita sudah keep connecting dengan Allah.

Sahabat, Ustadz NAK menekankan bahwa doa adalah esensi, otaknya adalah ibadah. Doa adalah hati atau esensi saat beribadah.

Semoga Allah menjadikan kita hambaNya yang selalu berdoa, hanya padaNya. Aamiin…

Dari semua penjelasan ini, saya teringat sebuah kutipan dari Sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab: Aku tidak khawatir jika do’aku tak dikabulkan namun aku khawatir jika aku tak bisa berdo’a.

Jadi sebenarnya ada hubungan yang indah sekali antara momen berdoa dengan momen kita tilawah Qur’an yaitu:

‘Kita berkomunikasi dengan Allah melalui doa dan Allah berkomunikasi dengan kita melalui Al Quran. Jadi komunikasi ini lengkap, dua arah.’

Lalu apa hubungannya dengan video kedua Ustadz yang bercerita tentang kisah Robert Davilla?

Masyaa Allah rasanya saya tidak sanggup menceritakan seindah atau sepassionate Ustadz saat menjelaskan kisah ini detail by detail. Sila tonton langsung atau baca transkripnya di sini 🙂

Inti dari video tersebut adalah bagaimana doa seseorang dapat dikabulkan dari Allah, hidayah yang datang dari arah yang tidak diduga ke seseorang yang mungkin secara kasat mata dan kedangkalan ilmu bisa kita bilang: “Ah, mana mungkin!”

Tapi jika Allah sudah berkehendak, masyaa Allah…tidak ada yang tidak mungkin, bukan? 🙂

Tugas kita adalah berdoa, tidak boleh pesimis atas petunjuk Allah, dan ikhlas saat berdoa. Tidak perlu bingung atau khawatir bagaimana cara mendapatkan hidayah karena itu ranahnya Allah.

Dan it happen a lot to so many people.

Ketika kita doa bersungguh-sungguh, ikhlas semata untuk mendapat petunjuk dari Allah, beneran deh Allah bukakan semua pintu untuk hal tersebut, didatangilah teman, lingkungan, guru, dan sebagainya sebagai jalan kita mendekat padaNya.

Jadi bismillah yuk, pelan-pelan kita jalan kembali mendekat kepada Allah. Iya, gak mudah tapi percaya deh, bisa! Asal kita yakin, berusaha semaksimal mungkin dan terus merendah sebagai seorang hamba. 🙂

Ingat, Allah itu dekat.

Semoga Allah berkenan menuntun hati kita untuk selalu ingat padaNya ya 🙂

Aamiin…

Oh ya, selamat bergegas menjemput Lailatul Qadr dengan sebaik-baiknya usaha! 😉

Ladeva

Dua Bulan

Jakarta

2 Mei 2020, 21.48 WIB

Saking sudah lamanya tidak menulis blog dari laptop, saya sampai lupa password blog ini. Benar bahwa beberapa waktu lalu, pernah mempublish tulisan random di sini tapi itu menggunakan ponsel. Ntah kenapa – mungkin rindu – menulis di laptop untuk blog ranselijo ini.

Tanpa bermaksud mengeluh, namun masyaa Allah ya waktu berjalan relatif cukup cepat buat saya. Dua bulan saja sudah merasakan bekerja dari rumah.

Rasanya mau mengeluh juga tidak pantas. Kenapa? Ya karena memang alhamdulillah masih ada yang bisa dikerjakan dari rumah, masih ada income yang masuk, ada anggota keluarga tersayang di rumah, ada atap untuk berlindung, mampu membeli pulsa agar selalu terkoneksi dengan dunia luar, dsb. Bukankah banyak sekali nikmat yang harus disyukuri, meski memang saat ini hidup tidak semudah biasanya saja.

Saya meyakini firman Allah, semakin banyak kita mampu bersyukur maka nikmat akan Allah tambah lagi. Aamiin!

Jadi dua bulan bagaimana rasanya?

Sebagai orang yang biasa jarang menghabiskan waktu berlama-lama di rumah, saya amazed dengan diri sendiri. Alhamdulillah tidak merasakan kebosanan – yang saya pikir, sebagai orang extrovert, saya akan menderita banget karena tidak bisa bertemu orang-orang di luar.

Mungkin salah satu penyebabnya karena baru pindah rumah?

Atau karena ya memang mencoba nrimo dengan kondisi yang saat ini terjadi.

Ada sebuah pesan dari Aa Gym yang saya ingat bahwa di kondisi – yang saat ini mengharuskan diri untuk ada di rumah maka ada kemungkinan terjadi gesekan-gesekan antar keluarga, cara agar mampu menghindari hal tersebut:

  1. Hayyin – tenang.
  2. Layyin – sopan, santun, penyayang, dan lemah lembut.
  3. Qarib – akrab, hangat dan menyenangkan.
  4. Sahl – memudahkan urusan.

Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di bawah ini:

IMG_20200502_215507_029

Tidak mudah untuk berkarakter seperti itu, namun rasanya bisa dicoba pelan-pelan. Semoga Allah berikan keistiqomahan bagi siapapun yang mencoba hal baik tersebut. Aamiin…

Selama dua bulan ini, pekerjaan memang ada beberapa yang di-switching, membantu unit bisnis lainnya yang bisa dibilang jadi ujung tombak kantor saat ini. Karena jelas bahwa sebagai orang yang bekerja di travel agent maka belum bisa membuat rencana perjalanan tapi masih ada 1 program yang pekan lalu saya coba buat dan alhamdulillah diterima dengan baik. Yaitu IG Live “Ngabuburit Around the World bersama Wisata Hikmah”. Jadi, itu adalah sebuah program di IG Live-nya WH untuk sharing santai keadaan di berbagai negara saat ini. Percobaan pertama adalah interview tour guide kami di Maroco dan insyaa Allah besok akan interview teman baik di Madinah. Doakan ya agar lancar dan menarik. 😀

Selain itu, sebenarnya saya pengen banget menulis pengalaman perjalanan saya di Februari lalu ke Uzbekistan selama 8 hari 6 malam. Sudah ada draftnya tapi ntah kenapa ya kok ya maju mundur untuk posting.

Main salju di Amirsoy, Uzbekistan
Main salju bareng Mbak Tudes di Amirsoy, Uzbekistan

Samarkhan, Uzbekistan
Ciri khas bangunan di Samarkhan, Uzbekistan adalah warna-warna birunya seperti ini. Fantastic!

Pernah gak sih kalian ngerasain kayak gini? Apa karena over thingking ya?

Terus juga masih pengen nyoba inget-inget lagi perjalanan keliling Banda Aceh sampai Sabang yang dilakuin akhir tahun 2019 lalu. Doh!

Nama blog boleh ranselijo, kesannya traveling banget tapi kok ya tulisan tentang traveling jarang banget ya. Maapin, yak! 😀

Cerita apalagi ya?

Hmm..oh iya selama 1 bulan terakhir, Mbak di rumah ndak datang lagi untuk sementara – sampai epidemi ini berakhir sehingga skill saya melakukan domestic work bisa dibilang meningkat nih haha! Dari mencuci piring, ngepel, nyapu, organize barang-barang di rumah, mayan deh. Jadi challenge tersendiri jika ingin bangun agak siang dipastikan akan sulit. Apalagi kalau ada online meeting jam 8 pagi, ditambah bantu nemenin ponakan belajar. Hahaha…seru banget atur waktunya.

Terus gimana dengan bulan Ramadhan?

Dengan atau tanpa adanya epidemi ini, sebagai umat muslim, ya harus menjalani Ramadhan semaksimal mungkin. Bahkan harus harus harus lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Benar bahwa ndak bisa tarawih di masjid, tapi ya gpp juga. Kan bisa tarawih di rumah, baik berjamaah maupun sendiri. Saya sempat terharu banget saat tarawih hari kedua, abang saya (qadarullah lagi silaturahim ke rumah) jadi imam tarawih. Wah…gak inget deh kapan terakhir hal ini terjadi. Ditambah lagi saat baca doa, abang saya berasa lagi mimpi muhasabah di rumah. Jadi, rasanya haru.

Saya pernah baca tulisan seorang teman yang dulunya dia LDM dengan suaminya, namun alhamdulillah sudah ndak LDM karena ada kebijakan kantornya gitu, pas banget dengan musim epidemi yang melarang untuk keluar rumah kan. Nah, tulisannya itu berisikan rasa syukur bahwa meski benar epidemi ini challenging tapi ada sisi positifnya yaitu jadi ada quality time yang meningkat antar anggota keluarga. Sedikit banyak hal tersebut, saya rasakan juga. Maka, masyaa Allah benar bahwa tiada satu peristiwa pun yang terjadi di muka bumi ini tanpa ada hikmah di dalamnya. Dan pasti ada kebaikannya, sekecil apapun. Allah Maha Tahu, kita – hambanya – belum tahu hal tersebut.

Semoga siapapun umat muslim yang saat ini sedang menjalani Ramadhan, sendiri, berdua, bertiga, dekat atau berjauhan dengan keluarga – semoga selalu Allah jaga dan diberikan kondisi terbaik. Aamiin!

Hmm mau nulis apalagi ya kali ini?

Oh ya, bagi teman-teman yang ke ranselijo.com untuk mendapatkan berita atau informasi mengenai traveling harap bersabar ya karena mungkin beberapa waktu ke depan, saya akan nulis hal-hal random demi menyalurkan isi pikiran yang over ini hehehe…

Kalau ada ide atau cerita-cerita yang bisa dibagi, share yuk di kolom komentar.

Kita hidupkan blog lagi pelan-pelan 😀

See you!