iLearn

Karena Hidup…

Karena hidup tidak akan pernah bisa bebas sebebas-bebasnya. Tetap akan ada norma dan aturan yang harus diikuti.

iTalk

Breaking a Habit

Rasanya dua minggu lalu, load kerjaan terasa begitu tinggi – jika tidak mau dikatakan ‘over’ atau ‘too much’. Teman-teman kantor mengajak nonton film yang katanya ditunggu-tunggu reborn-nya. Saya meragu. Kemudian diyakini, “Udah…ikut aja. Ketawa-ketawa”.

Well…saya pun ikut nonton.

Sepanjang film diputar, tawa penonton meledak. Tawa teman-teman saya meledak.

Saya?

Mengerenyutkan dahi, tertawa sinis, dan berpikir, “Is it really funny? Or am the one who do not have humour sense in this cinema?”

***

Breaking the habit

Paling tidak malam dua minggu lalu, saya melakukan sesuatu di luar kebiasaan, yaitu menonton film yang saya nilai dari awal tidak menarik.

Paling tidak, mencoba.

Easy for the others, may be it would be hard for me.

Deva

 

iTalk

Penting Gak Gabung di Komunitas

Penting gak penting sih…tergantung tujuan dan niat kita apa.

Beberapa waktu ke belakang, saya ikut Komunitas Petualang 24 yang rajin banget open trip ke membernya dengan tujuan daerah yang seru-seru. Selain berkenalan dengan teman-teman baru, keuntungan bergabung di sebuah komunitas adalah memperluas networking, yang mungkin saja akhirnya bisa jadi teman kerja atau bahkan lifetime-partner dan juga mengasah passion kita sesuai jenis komunitas tersebut.

Jika kita passionate dengan fashion, kita bisa saja bergabung dengan komunitas fashion sehingga ilmu tentang fashion bisa bertambah. Atau jika hobi memasak maka bergabung dengan komunitas memasak ya sudah pasti berguna banget. Apalagi jika dari hobi tersebut malah membuat usaha. Enak kan? 🙂

Keuntungan-keuntungan di atas bisa kita dapatkan asal kita bersedia untuk membuka diri.

Tapi…

Jangan bergabung di sebuah komunitas jika kita hanya mau pendapat kita saja yang diterima.

Kenapa?

20130914_130043[1]
Hal yang kayak gini, yang bikin betah ada di Komunitas P24 🙂
Ya karena member komunitas kan banyak, dengan karakter yang berwarna-warni. Jadi, begitu kita bergabung dengan komunitas, kita harus siap dengan segala perbedaan yang ada. Sikapi dengan bijak. 🙂

Kalau kamu, bergabung dengan komunitas apa saja?

Deva

iTravel

Tips Membuat Open Trip

Duile judulnya seakan-akan sudah pernah mengadakan open trip jutaan kali ya hahaha…tapi berhubung pernah jadi boleh lah ya bikin tulisan ini. 😀

Tapi sebelum membahas tentang tipsnya, teman-teman sudah tahu kan ya open trip itu apa? Sudah ada yang pernah coba?

Oke oke, jadi gini…

Open trip itu perjalanan yang dilakukan dengan teman-teman baru. Beneran baru. Karena biasanya berkenalan saat memutuskan untuk bergabung di perjalanan. Sekarang sudah banyak open trip semacam ini, biasanya dilakukan oleh para komunitas traveling dan dipublikasikan di media sosial. Landasan utama seseorang untuk bergabung di sebuah open trip adalah kepercayaan.  Jadi, para pembuat open trip sangat harus berusaha menjaga kepercayaan dari para membernya tuh.

Tips yang pertama untuk membuat open trip adalah pastikan bahwa kita tahu medan yang dituju. Survey is a must. Jangan sampai kita semangat banget ke Aceh tapi kita belum tahu ke sana naik apa, belum tahu ongkosnya berapa, dsb. Kecuali kalau memang dari awal jujur mengatakan bahwa belum pernah ke sana tapi bertujuan untuk berpetualang bersama. Kan ada tuh komunitas yang biasa berpetualang ke sana ke mari tanpa tahu lebih lengkap seluk beluk lokasi. Tidak salah dengan hal tersebut karena sudah diinfokan dari awal. 🙂

Kedua adalah punya kenalan yang bisa diandalkan selama di lokasi. Kenapa? Agar informasi detail tentang lokasi, yang belum tentu ada di internet, bisa kita dapatkan. Biasanya fungsi ini sangat terasa jika berada di desa terpencil, yang belum banyak dibahas di internet. Dan sangat memudahkan jika kita perlu tawar menawar harga dengan bahasa setempat.

Menjadi sosok yang komunikatif sangat diperlukan bagi teman-teman yang berniat membuat open trip. Coba bayangin, kalau kita nih tertarik ikut open trip ke sebuah negara, misalnya Thailand tapi Team Leader-nya tidak update menjelaskan kebutuhan kita selama di sana, atau tidak detail menjelaskan itinerary-nya, kan sebagai customer kita agak kurang nyaman. Nah, sosok Team Leader harus siap dihubungi kapan saja untuk ditanya-tanya itinerary, biaya, atau bahkan rekomendasi restoran selama di sana oleh customer. Meski suasana hati langsung kurang baik, tapi pelayanan harus tetap maksimal.

Selama di lokasi, pastikan itinerary berjalan semaksimal mungkin. Namanya perjalanan, tidak ada yang bisa memastikan tentang ketepatan acara. Terkadang tiba-tiba hujan, atau ban bocor, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya dapat saja terjadi. Jika hal yang di luar rencana terjadi, pastikan bahwa ada komunikasi yang lancar antara Team Leader dengan para member untuk meminamilisir complain.

Yang terakhir, siap dikritik. Seperti yang sering dikatakan Bunda Dorce, “Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT” maka kita sebagai manusia harus selalu siap dikritik. #aish. Lagian ya manalah kita mampu untuk selalu memuaskan keinginan tiap orang. Jadi, kalau tiba-tiba selama perjalanan ada aja keluhan dari member ya…bersabarlah Nak. Tanggapi dengan komunikasi yang sopan dan baik, jelaskan kondisinya seperti apa. Intinya: lakukan yang terbaik saja setiap kali melakukan open trip. 🙂

Lima tips ini semoga membantu ya bagi teman-teman yang berniat membuka open trip. Kalau pintar hitung sana-sini, biasanya dari open trip ini teman-teman bisa jalan-jalan tanpa harus mengeluarkan biaya lho. 😉

Satu lagi, selalu ingat untuk ajarkan “tempatkan sampah pada tempatnya” yow karena udah 2016 masa iya jalan-jalan masih aja ninggalin sampah di luar tempatnya. 😛

DSCN9590.JPG

See ya!

Deva

iLearn

Ketika Tidak Selalu Mengiyakan

Semalam, dia mengatakan “I will always support you but remember support not always say yes to every your decision.”

Saya diam.

Dia kemudian melanjutkan, “Ya…kadang harus menjadi gas tapi terkadang harus menjadi rem kamu. Proporsional.”

Menarik ya konsepnya. 

Padahal bukankah dukungan itu artinya selalu mengiyakan apapun keputusan yang kita ambil? Hmmm…kemudian saya jadi teringat beberapa kejadian saat keponakan-keponakan saya ingin mencoba sesuatu seperti memanah. Saya mendukung mereka untuk mengeksplorasi hal tersebut tapi harus dipastikan keamanannya. Apakah memang dukungan bermakna demikian?

Dukungan saya ke Raihan dalam memanah adalah menyediakan guru dan perlengkapan yang memadai agar keamanan dalam berlatih tetap terjaga

Mendukung dengan proporsional. Bisa menjadi rem, bisa menjadi gas.
Kalau bentuk dukunganmu ke orang-orang terdekat selama ini seperti apa?

Deva

iLearn, Uncategorized

Just Listen

Pernahkah kamu memperhatikan percakapan dua orang yang saling mencurahkan perasaan dan keadaannya. Alih-alih mendengarkan, terkadang si lawan bicara justru juga menumpahkan kondisi yang sedang dialaminya. Bahkan tidak jarang, justru berujung kepada judgment lawan bicara.

Di tempat saya bekerja pernah ada kondisi seperti di atas, sampai seorang teman kerja menyeletuk, “Kok jadi kamu ikutan curhat? Kan aku yang lagi sedih!”

Atau, “Kok jadi nge-judge? Aku kan cuma mau cerita.”

***

Fitrah setiap manusia untuk selalu diperhatikan, dijadikan prioritas – meskipun mungkin lawan bicara juga tidak sedang dalam kondisi yang baik. Jadi teringat Guru pernah berkata, “Curhat kok sama manusia? Padahal apalah fungsi curhat ke seseorang yang sebenarnya juga tidak tahu solusi hidupnya seperti apa.”

Atau mungkin jika memang kita tidak bisa memberikan solusi apapun terhadap teman yang sedang bercerita, mendengarkan saja sudah lebih dari cukup, tanpa diiringi dengan tuduhan, penilaian, dan asumsi yang memojokkan lawan bicara.

Girl listening with her hand on an ear
Source: here

***

“So what is the best way of listening? One that can generate positive feelings on both side and create a mutually agreeable and satisfactory form of communication. To do this we have to listen with our heart and mind open, free of our internal voice of judgment and criticism as well as the mental noise that form a constant backdrop to our inner world. This way we can truly empathize with the other person and find ourselves not judging and jumping to conclusion or correction their problems and providing unnecessary solutions, but really understanding what the other person is saying and why from the person’s point of view. Not ours.” – A Simple Life; 122.

***

Kalau kamu, kapan kali terakhir benar-benar mendengarkan seseorang? Tentu saja, mendengarkan tanpa sibuk melihat ke gadget masing-masing.

Deva

iLearn, Uncategorized

Think for The Best

“Jangan tutup pintu rejeki orang. Siapa tahu di sana ada berkah orang tersebut yang dititipkan ke kamu.”

Kalimat sederhana yang dikeluarkan oleh Tella semalam saat saya bercerita tentang rekomendasi nama untuk di tim saya, yang tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

“Coba aja dulu”.

Saya langsung merasa, “Eh iya benar juga. Siapa tahu memang ada berkah dia di tempat ini dan siapa tahu saya bisa menggali potensinya.”

Kadang ya…eh sering deng, pikiran negatif lebih cepat datang daripada pikiran positif. Rasanya kok ya lebih mudah berpikir kemungkinan terburuk daripada kemungkinan terbaik yang mungkin terjadi. Padahal di Al Quran sudah jelas bahwa ‘Allah sesuai prasangka umatNya.’

“Kamu percaya kalau pikiran negatif akan benar-benar terjadi jika kita terus memikirkannya?”

Dengan cepat, Tella mengangguk. “Percaya banget.”

 

Yeah…sering banget niat hati ingin berpikiran baik tapi yang keluar malah energi negatif. Mungkin ini saat yang tepat untuk piknik? Hahaha *buang kalendar yang udah gak jelas coretan sana sininya*

So yeah, apa kabar semuanya?

Sibuk menyiapkan diri untuk kemungkinan terbaik atau terburuk?

Deva