Random

Gimana kabar kalian di masa pandemi ini?

Semoga baik, aman dan nyaman ya.

Saya sedang duduk di teras rumah sambil sesekali membalas chat seorang Sahabat. Kami berkontempelasi dengan kondisi saat ini yang bagi banyak orang, termasuk saya (kadang), tidak mudah. Dunia saya pun terganggu. Yup, travel agent jelas merasakan dampak dari Covid-19 ini tapi setiap saya takut membayangkan masa depan, saya teringat pesan mentor saya bahwa Allah ingin kita menjadi hamba bertaqwa, apapun kondisinya dan jadikan sabar dan syukur sebagai sebaik-baik jalan.

Sehingga, jika kita bicara pekerjaan, fase ini bisa kami jadikan sebagai fase mengisi amunisi sebelum mulai melangkah lagi, saat semua back to normal. Semoga.

Fase ini tidak mudah.

Bayangkan saja jika berita ditayangkan, isinya mengenai tingkat kriminal yang naik, phk di beberapa tempat, start up yang sedang mencari pembeli baru usaha mereka, dan belum lagi ada saja masyarakat yang menolak menerima jenazah penderita Covid-19.

Dalam hati sering berkata: suatu saat, akan selesai fase ini. Insyaa Allah, dengan ijin Allah pastinya.

“Perbanyak syukur, Dev” – ucap saya dalam hati.

Bukankah masih banyak di luar sana yang melewati fase ini dengan perbekalan yang minim dan sungguh belum terbayangkan di depan akan seperti apa.

Iya ini serandom-randomnya pikiran.

Semoga setelah fase ini berakhir, kita bisa jadi lebih memahami hidup dengan sebaik-baik pemahaman.

Ladeva

Berbagi Pengalaman tentang Working from Home

Kali pertama saya mengenal istilah “working from home” rasanya di medio 2009, saat masih bekerja di kantor konsultan komunikasi.

Biasanya, kondisi ini dilakukan jika sedang tidak sepenuhnya fit namun pekerjaan masih ada yang harus diselesaikan. Jadi, gak full break gitu.

Kunci penting saat mengajukan diri ‘working from home’ adalah kuatnya komunikasi dan koordinasi, baik melalui WA, email, telpon, dsbnya. Jangan sampai nih, ngajuin ‘working from home’ tapi susah banget dijangkaunya. Alasannya: lagi sibuk sama anak, lagi masak, dsb. Moonmaap situ ‘working from home’ atau emang lagi cuti?

Itu dua kondisi yang berbeda.

Menjadi sosok yang amanah itu penting banget lah di dunia pekerjaan. Perusahaan berhak banget lho mendapatkan performa terbaik dari karyawannya. Pun sebaliknya, jika memang terbukti kinerja karyawannya bagus selama di kantor, maka jika sesekali ingin mengajukan ‘working from home’ pasti juga mudah dikabulkannya.

Ini kalau kondisi normal ya, bukan di kondisi force majeur dengan outbreak corona kayak sekarang.

Tapi gimana ya sis, mau banget nih nyoba ‘working from home’ tapi distraksi datang aja dari anak, ponakan, tetangga, dsbnya.

Ya udah, tinggal cari tempat yang nyaman dan aman dong.

Bukan berarti lho ‘working from home’ kita leha-leha, menunda berbagai macam deadline yang sudah ditetapkan.

Terus gimana agar pekerjaan selesai tepat waktu saat ‘working from home’?

Ya dikerjain! Hehe…

Caranya yang utama adalah mengkondisikan diri bahwa dirimu emang lagi kerja, tapi beda lokasi aja.

Kalau sudah terbiasa bangun pagi, ya tetap lakukan.

Bahkan siapa ya saya lupa, ada seorang CEO rasanya yang memang suka ‘working from home’ tapi dia tuh tetap pakai kemeja kantor lho di rumahnya agar tercipta suasana yang kondusif.

Kasih waktu istirahatnya persis kayak jam di kantor.

Dengan membuktikan diri bahwa kamu tetap produktif, mau di kantor, di pantai, di gunung atau di manapun ke pihak perusahaan maka terbuka peluang untuk dipercaya ke posisi yang lebih baik lagi. Insyaa Allah…

Bukankah big responsibility itu comes from small things?

Kalau kamu, ada cerita juga ndak tentang ‘working from home?’

Ladeva

Half Deen Series; Event Terbaik di 2019

Half Deen Series adalah event terbaik yang pernah saya ikuti di tahun 2019. Menariknya, tanggal event ini pun memorable bagi saya

22 Desember

Sepanjang acara, Alhamdulillah tidak terkantuk sama sekali, even a sec, padahal acara ini berlangsung 3 jam, malam hari pula dan pembahasannya ya tentang tauhiid, sebuah materi yang tidak dengan mudah dapat tersampaikan oleh setiap orang.

Selain karena antusias, tapi juga serasa banyak mendapatkan AHA MOMENT dari Allah.

Berbisik dalam hati, “Ya Rabb, skenarioMu indah banget. What’s next? Ada cerita apa lagi ke depannya nanti? Apapun itu, mampukan.”

Bahkan saat menulis caption ini, rasanya tidak akan mampu melukiskan rasa syukur dan hikmah yang didapatkan dari pembahasan Ust Nuzul Dzikri, Lc di event ini. Sangat berharap, bukan hanya euforia sesaat namun benar-benar ada dampaknya di diri ini.

Jadi teringat salah satu pesan seorang teman, saat kami terlibat dalam sebuah event: Jika ada 1 saja orang yang berubah karena event ini (pastinya karena Allah berkehendak), semoga penyelenggara pun mendapatkan pahala dan rahmat dari Allah.

Doa yang sama pun, saya sematkan untuk para penyelenggara event Half Deen ini dan kepada teman-teman yang menjadi jalan Deva hadir di event ini 🙂

*foto diambil sesaat sebelum event dimulai

#30haribercerita
#halfdeen #30hbc2001

@30haribercerita

Ladeva

Belajar Bareng Yuk

Semalam saya hadir di sebuah kajian ilmu bersama beberapa sahabat. Ada satu pertanyaan dari jamaah, yang membuat saya berpikir lama dan saat menjawabnya, Ustadz Nuzul Dzikri, Lc (yang merupakan pengisi materinya) agak tersendu dalam menjawab.

Pertanyaannya lebih kurang: jamaah ini sudah cukup sering hadir di kajian ilmu, namun beberapa waktu lalu, dia diajak ke cafe/ bar oleh seorang temannya. Di perjalanan, ada saja reminder atau alarm yang ia temui – seakan-akan Allah ingin mengingatkannya untuk tidak datang ke sana, bahkan hingga ke depan pintu cafe/ bar hadir seorang pengemis untuk meminta-minta. Di sana dia tersadar, “there something Allah want to tell him”. Namun, ia tetap masuk dan memilih tidak meminum alkohol.

Ia bertanya ke Ustadz, apakah beberapa rententan yang ia temui saat menuju cafe/ bar tersebut adalah pertanda bahwa Allah mencoba meluruskan langkahnya?

Ustadz menjawab panjang dan mendalam. Singkatnya: jika kita mau berpikir dengan hati, ilmu dan serta keyakinan, iya itu adalah pertanda dari Allah. Allah gak mau kita jatuh lagi. Allah gak mau kita jauh lagi. Namun, kita sebagai manusia masih sering melanggar peraturannya, menafikkan semua kebaikan yang Allah sudah kasih ke kita (di titik inilah Ustadz agak tersendu menjawabnya).

Fabiayyi alaa irobbikumatukadziban.

***

Sebentar lagi berganti tahun Masehi. 2020.

Pasti sudah banyak di antara kita yang sibuk membuat resolusi.

Saya pun beberapa hari lalu juga sudah membuat beberapa rencana dan target, seperti yang tahun lalu saya lakukan. Saat membuat rencana ini, membuka-buka catatan sepanjang tahun 2019, masyaa Allah betapa banyak rezeki yang Allah limpahkan. Tapi rasanya dosa pun masih menggunung. Lupa atas semua kebaikan yang sudah Allah berikan.

Semoga masih ada kesempatan untuk bisa lebih baik lagi. Makin bijak dalam membaca hikmah dan membuat prioritas dalam hidup. Berfokus untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa.

Kita sama-sama belajar yuk 🙂

Quran Quotes - Call upon me, I will respond to you

Bismillah…

Ladeva

Bahagiakan Diri Dulu atau Orang Lain?

Kemarin sore, saya mendapat kabar bahwa seorang teman kantor perempuan – senior tepatnya – mendapat musibah tempurungnya retak. Saat itu hanya kaget yang saya rasakan.

Sampai akhirnya saya sampaikan berita ini ke teman yang lain dan dia terperajat kaget luar biasa, lalu seketika ingin ikut menjenguk bersama saya dan teman-teman lainnya.

Saya bertanya: kenapa sih kok kaget banget?

Teman saya menjelaskan betapa berbahayanya kondisi tempurung retak tersebut dan saya merasa: “dep, masak begini aja lo gak paham sik!”

Singkat cerita, tibalah kami di rumahnya. Seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dengan kondisi suami dan ibu yang sakit, dan anak-anak remajanya bersekolah di Bandung yang masih belum bisa mandiri – saat ini sedang berjalan tertatih-tatih. Perih melihatnya.

“Istirahat aja dulu ya, teh. Ikuti kata-kata dokter,” pesan kami ke beliau, yang kemudian disanggah dengan warna muka sedemikian sedihnya, “gak bisa. Klo aku istirahat, di rumah gimana?”

😦

Dan ini bukan kali pertama beliau menyampaikan motivasi beliau bekerja adalah demi keluarga. Beliau harus selalu kuat. Harus selalu mampu bahagiakan keluarga. Bahkan beliau merasa malu untuk menangis.

“Gak apa-apa teh mengakui apa yang kita rasakan, senang, bahagia, marah, kecewa atau apapun. Bagaimana cara kita mampu bahagiakan orang lain, jika kita belum punya “tabungan” kebahagiaan yang bisa dibagikan ke orang lain?” Adalah sebuah pesan yang pernah saya sampaikan ke beliau, namun rasanya bagi sebagian orang pemikiran ini tidak terlalu tepat.

Ada yang berpendapat: cara aku bahagia adalah jika melihat orang di sekitarku bahagia. Gak apa-apa berkorban sedikit.

Sedikit – inilah yang rancu.

Pernah juga aku mendengar nasihat dari alim ulama: kita harus jadi muslim yang kuat agar semakin bermanfaat bagi sekeliling. Sehat itu bisa jadi ibadah jika manfaatnya bisa dirasakan orang lain.

Dan iya, saya setuju.

Sehingga hikmah yang saya dapatkan dari silaturahim semalam adalah selagi ada kesempatan, usia, atau rejeki dalam bentuk apapun – benar-benar harus kita manfaatkan untuk optimalisasi value diri. Semakin kita kuat maka ladang amal sholih untuk sekitar bisa lebih luas lagi.

Seperti hadist Rasulullah SAW,

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Hikmah kedua adalah semangat beliau yang perlu dicontoh. Meskipun kondisi tidak sehat, namun beliau masih mau untuk bekerja agar tidak menjadi beban teman-teman sejawatnya.

Semoga Allah yang Maha Menyembuhkan, bisa memberikan rejeki sehat kepada beliau dengan sebaik-baik kondisi.

Mohon doakan ya, teman-teman 🙂

Oiya, prinsip kalian sendiri bagaimana? Memastikan diri sendiri happy dulu atau berjuang demi membahagiakan orang lain dulu?

Have a good day!

Ladeva