Podcast Perdana

Iya benar, akhirnya biidznillah aku membuat podcast perdana setelah ditunda beberapa waktu. πŸ˜€

Dulu sih kepikirannya tuh ya kayak podcast-podcast ngobrol sana sini gitu tapi ya susyah ya nemu teman tandemnya dan belum yakin aja gitu.

Terus kepikiran juga untuk membuat channel di Youtube tapi lagi-lagi kepentok skill ngedit video. Iya, banyak excuse. Akhirnya tenggelam deh dengan rutinitas sana sini.

Lalu tiba akhirnya kemarin.

Liat story IGnya Jonathan End yang tentang menyisihkan waktu 1% aja setiap harinya untuk upgrading diri atau nyobain hal baru. Yang kalau dilakukan secara konsisten setiap harinya selama 1 tahun, berarti bertumbuh selama 365%! Asik ya ngeliat angka besar. Jadi yawda terdorong deh untuk mencoba hal baru, sedikit demi sedikit.

Yang kepikiran ya bikin podcast.

Nah terus temanya gimana?

Jadi, aku lagi senang banget dengan content bukunya Jundi Imam Syuhada yang judulnya Menenangkan Diri. Dengan random, membuka halamannya eh ketemu halaman 57 yang menurutku isinya universal dan banyak ditemui oleh siapapun, yaitu tentang pertemanan.

Setelah semua semangat terkumpul, langsung deh searching gimana caranya bikin podcast. Ketemu. Eksekusi.

Di anchor jadi, langsung upload di Spotify – promoin deh link ini ke beberapa orang terdekat. Terus iseng-iseng rapiin channel Youtube pribadi πŸ˜€

Masih amatir nih, jadi sangat butuh insight dari siapapun. Feel free ya untuk ngasih masukan πŸ™‚

Ladeva

Short Getaway ke Maribaya Lodge saat Pandemi

Panjang ya judulnya :’)

Sebelum ditanya: JALAN-JALAN SAAT PANDEMI? SERIUS?!

Ya maap, sebenarnya ini jalan-jalan yang tydac direncanakan. Jadi tuh, qadarullah ada pertemuan kantor yang harus dilakukan ke Bandung, ndak iso via Zoom only. Planningnya mah ya pergi pulang aja Bandung – Jakarta. Ternyata rapat tersebut baru selesai pukul 6 sore, yang mana badan dan pikiran syudah lelah sekali, kakak. Akhirnya diskusi dengan teman-teman kantor, okelah kita menginap aja di Bandung.

Tydac membawa perlengkapan satupun untuk menginap. Alhamdulillah ala kulli hal, Bandung surganya FO ya sehingga bisalah membeli baju ganti yang oke.

Terus mau langsung pulang ke Jakarta, asa sayang gitu. Berhubung pergi juga cuma berlima dan kami pikir, gpp kali ya ke objek wisata alam di Bandung. Pilihan pertama yaitu ECO PESANTREN 2 dan setelah itu kembali ke penginapan di Cottage Daarul Jannah, baru deh ke ORCHID FOREST.

Keesokan harinya pukul 6 pagi, kami ke ECO PESANTREN 2, yang jaraknya hanya 30 menit dari ECO PESANTREN 1 di daerah Cigugurgirang Parongpong, Bandung. Kenapa kami mau ke sana? Karena dari informasi yang kami dengar, suasana di sini indah, segar dan dingin. Jadi penasaran gitu lho. Insyaa Allah wilayah ECO PESANTREN 2 ini mau dibangun pesantren khusus akhwat (santri Daarut Tauhiid). Doakan lancar ya!

Sayangnya saya tidak berhasil membuat foto pemandangan yang menarik di sana. Hmm kurang lebih ya tanah kosong, namun ada spot tenda-tenda yang biasa disewakan gitu. Pemandangannya juga indah karena bisa melihat Bandung dari atas. Kebayang kalau subuh-subuh di sana, cantiknya seperti apa, masyaa Allah.

Lalu, sekitar pukul 10an kami sudah tiba di ORCHID FOREST namun qadarullah tutup yang disebabkan angin kencang.

Saat kami di ECO PESANTREN 2, anginnya memang kencang sih, dipikir karena ya suasana pagi. Eh ternyata memang di daerah Lembang, cuacanya sedang hujan-gak ujan-hujan lagi-terus angin kenceng. Gitu aja terus ganti-gantian.

Karena itu, yawda kami pindah ke MARIBAYA LODGE. Yang serunya perjalanan dari ORCHID FOREST ke MARIBAYA LODGE dengan panduan GMaps, membuat kami masuk-masuk ke hutan dengan rute yang mayan bikin dag dig dug. Hehe…jalurnya sempit, tanjakan, turunan dan harus sabar saat bertemu mobil dari arah yang berbeda.

Alhamdulillah tiba dengan selamat di MARIBAYA LODGE. Biaya masuk Rp 45k/ orang, dengan fasilitas voucher makan Rp 10k/ orang, nyobain spot ayunan dan free foto, apalagi ya, lupa. Tapi barusan cek di website mereka, ternyata dapat diskon Rp 3k/ orang, kalau membeli tiket di website mereka. πŸ˜€

Jujur sih, saya senang banget akhirnya bisa merasakan udara segar Bandung dengan pemandangan yang cantik. Alhamdulillah saat kami tiba di sana, pengunjungnya masih sedikit (benar-benar banyak saat kami melihat pintu masuk di perjalanan pulang). Tipsnya: datang pagi, agar sekitar pkl 13.00an sudah bisa pulang. Gpp sebentar, yang penting merasa cukup aja dulu. Daripada suasana semakin ramai, yekan?

Kami bertiga ndak nyobain atraksi apapun karena duduk santai gini aja alhamdulillah cukup πŸ˜€
Foto ala-ala kayak gini juga bisa recharge energi ya

Jadi, berapa lama kami di MARIBAYA LODGE? Hmm kayaknya maksimal 2 jam deh, sudah termasuk untuk keliling, foto-foto, makan dan sholat. Alhamdulillah cukup ya, bun.

Setelah dari MARIBAYA, kemana? Pulang ke Jakarta langsung, bun. πŸ˜€

Ya segitu aja sih cerita short getaway, yang benar-benar short dan tidak direncanakan. Lumayan ngecharge energi dan sungguh berharap kita dikuatkan dan dimampukan menghadapi situasi pandemi ini.

See you!

Ladeva

Lakukan Lupakan

Seorang teman pernah berkata, “Hal yang sering bikin kita patah itu karena perasaan “merasa” dan “keakuan”. Padahal itu asumsi, penilaian kita semata. Faktanya kita tidak memiliki peran sebesar itu kok sampai perlu mengatakan “aku merasa udah all out, dsb” atau “aku merasa udah maafin tapi, dsb””.

Padahal yang perlu kita lakukan sesederhana: lakukan dan lupakan.

Iya, tidak mudah. Tapi perlu terus dilatih. Semisal kita melihat tim junior ternyata sudah bisa berlari kencang, kita harus support. Bukan merasa tersaingi. Atau jika ada seseorang yang meninggalkan kita setelah semua support diberikan, ya lupakan saja. Introspeksi kenapa hal itu bisa terjadi, namun bukan berarti menyalahkan diri sendiri atau orang lain.

Nilailah segala sesuatu seproporsional mungkin. Tidak kurang tidak lebih. Mendewasa dalam menilai, bijak dalam bersikap.

Pelan-pelan ya kita bertumbuh dalam pikiran, perasaan dan tindakan.

Ladeva

Masih Punya Pekerjaan? Bersyukurlah!

Beneran, harus banyak-banyak bersyukur. Hal inilah yang saya sering ucapkan ke diri sendiri setiap kali mendengar berita buruk tentang pemecatan di beberapa perusahaan, contohnya semalam saat seorang teman mengirimkan sebuah berita:

Sumber: Bloomberg Opinion

Termasuk beberapa hari lalu, saat mengetahui berita tentang Air Asia yang berubah haluan berbisnis aqiqah!

Sumber: cnbcindonesia.com

Saat membaca dan kemudian terlibat dalam sebuah diskusi mengenai perubahan haluan bisnisnya Air Asia – saya benar-benar berpikir: “Ya Rabb, bagaimana bisa sebuah perusahaan pesawat internasional berubah seperti ini?” tapi di sisi lain, saya angkat topi dengan keputusan ini.

Kenapa?

Di masa-masa ini, ya memang harus serius menyalakan survival skills mode on!

Gak bisa lagi gengsi-gengsi, apapun harus dilakukan selama itu halal dan thoyib. Sebuah tulisan singkat dari Mem Tyka mungkin bisa dibaca terkait hal ini.

Tujuh bulan sudah pandemi ini, dan jika saat ini masih ada sumber pemasukan, makanan di meja, ada atap untuk berteduh dari panas dan hujan, masih bisa bingung mau menggunakan baju apa karena terlalu banyak pilihan, masih bisa scroll marketplace dan langsung checkout, maka bersyukurlah!

Satu lagi, friendly reminder, jika masih bisa berbagi ke keluarga atau sesama – maka lakukan, jangan ditunda, sekecil apapun. Karena bahu membahu di masa ini bisa menjadi sumber pahala yang Allah sukai.

Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” [HSR Muslim (no. 2699)].

Sedikit yang kita pikir: “Ah cuma gitu aja kook” tapi saat kita membeli produk teman atau membantu mempromosikan produk teman tanpa iming-iming apapun, saya yakin itu sangat berarti untuk mereka.

Jadi, yuk bismillah kita jalan bareng-bareng. Kita tebar manfaat sekecil apapun.

Oh ya bagi teman-teman yang saat ini sedang berjuang mencari pekerjaan dan bingung harus mulai dari mana – bismillah yuk ngobrol dengan Allah. Biar bagaimanapun mau strategi secanggih apapun, jika kita tidak mendekat kepada Maha Pemilik SegalaNya maka akan sulit. Pelan-pelan kembali lagi ke jalan yang disukai Allah dan menjauhi hal yang tidak disukai Allah.

Lalu, coba di-break down skill apa saja yang dimiliki. Perbaiki CV, dan jika mempunyai produk yang bisa dijual, manfaatkan berbagai media sosial dan marketplace. Kemudian, jika mencoba menghubungi teman-teman lama untuk mencari pekerjaan, that’s good tapi jangan berharap kepada mahluk ya, khawatir nanti kecewa.

Kalo kata guru saya: mata ke mahluk, hati ke Allah. Jadi tidak apa-apa mencoba meminta pertolongan kepada mahluk tapi kembalikan harapan hanya kepada Allah. πŸ™‚

I know this is not easy tapi selama nafas masih ada – percayalah ujian sekecil apapun, sebesar apapun pasti sudah ditakar dengan sebaik-baik ukuran oleh Allah.

Satu lagi, rejeki bukan hanya terkait mengenai uang masuk setiap bulan, tapi banyak banget hal lainnya, seperti kemampuan bernafas, kemampuan bergerak, berpikir, masih bisa melihat dengan baik, ada teman yang bisa dihubungi, keluarga untuk dipeluk, dan sebagainya.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. β€” Quran Surat Ibrahim Ayat 7

Bentuk bersyukur bagi yang saat ini masih mempunyai pekerjaan: berkontribusilah sebaik mungkin kepada perusahaan, lillahi ta’ala. Semata-mata berikhtiar untuk menjadi sosok yang amanah karena Allah. Insyaa Allah akan terhitung sebagai ibadah.

Semua sudah ada jatahnya. Ada bahagia, sedih, luka, tawa, semua bergulir bergantian.

Kita jalanin bareng ya. Sama-sama saling mengingatkan bahwa selalu ada Allah bersama kita, sesulit apapun fase ini. πŸ™‚

Ladeva

Labelling

Ada gak di sini yang pernah merasa insecure karena penilaian orang lain terhadap diri sendiri?

Merasa bahwa: kok bisa sih mereka mikir aku kayak gitu? Jahat banget!

Atau merasa bahwa apa yang dilakukan sudah benar, tapi dinilai berbeda oleh orang lain. Alih-alih mengklarifikasi ke kita, mereka justru menjustifikasi negatif dengan mudahnya. Kemudian pelan-pelan berpikir: apa iya kali ya aku kayak yang mereka bilang?

Lambat laun memercayai label negatif yang orang sematkan ke kita.

Label yang awalnya tidak kita percayai.

Lalu, semalam menemukan twit Mufti Menk ini:

Never allow people who use words so irresponsibly to sabotage your self-image! – Mufti Menk

Menurut saya, yang sangat mengetahui diri sendiri ya kita sendiri. Benar, ada orang-orang terdekat yang juga mengenal kita. Penilaian mereka penting ndak? Penting, untuk kamu terus upgrade kualitas diri dan disampaikan dengan cara yang bijak. Tapi jika yang menilai buruk dirimu adalah orang di luar circle A1-mu, lalu dengan cara yang tidak arif – untuk apa dipikirkan?

Begini, orang bebas berbicara apapun tentangmu.

Tapi kamu juga bebas merespon hal tersebut.

Jangan semua penilaian orang, terutama yang sekiranya bisa mengecilkan valuemu, didengarkan. Namun, jika penilaian tersebut juga disematkan oleh orang terdekatmu, bisa jadi memang hal tersebut perlu dikoreksi dari dirimu.

Dan bagi yang terbiasa menilai orang: stop it!

Berhentilah menilai orang, berasumsi dengan karakter orang. Apalagi jika tidak terlalu mengenalnya. Tahan semua penilaian ke orang lain. Karena kamu tidak tahu apa dampak dari kata-katamu. Pernah terpikirkah bahwa kata-kata itu bisa membuat seseorang depresi?

Kita tidak pernah tahu secara pasti apa saja yang sudah dilalui seseorang. Sedekat apapun kita. Kenapa? Karena bukan kita yang menjalaninya. Bisa dari luar, mereka baik-baik saja. Tapi siapa yang bisa menebak isi hati orang lain?

Semoga kita dimudahkan Allah untuk mengamalkan hadist:

β€œBarang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq β€˜alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Dan bagi yang saat ini sedang berjuang untuk kembali memercayai valuemu lebih baik dari penilaian yang orang sematkan ke dirimu, “Kamu lah yang paling mengenal dirimu sendiri dan teruslah berusaha menjadi orang yang disukai Allah. Bukan disukai mahluk.”

L