Memilih untuk Berdaya

Masih belum beranjak dari cerita mengenai Covid.

Riuhnya pemberitaan mengenai Covid membuat setiap orang menceritakannya dengan berbagai versi. Sampai saya membaca twit menarik:

“Dulu kita patungan untuk ulang tahun teman, sekarang patungan untuk berita duka teman.”

Dan itu juga terjadi kepada saya dan beberapa teman lainnya.

Sebuah twit yang lahir dari kondisi riil saat ini.

Lalu tiba saya di percakapan dengan seorang Sahabat,

Jika saya tidak salah ingat, percakapan ini terjadi karena ketika itu saya merasa “penuh” dengan berita duka setiap kali membuka Whatsapp, Twitter, IG dan media sosial lainnya. Ditambah kondisi keluarga saya yang juga sangat butuh perhatian dan support. Perasaan “penuh” seperti itu, rasanya belum pernah saya rasakan sebelumnya. Tapi alhamdulillah, Allah titipkan rasa untuk tidak menyerah dan harus terus berdaya untuk sesama.

Iya, berdaya.

Saya suka sekali dengan kata ‘berdaya’ sejak dua tahun belakangan dan menjadikan kata itu sebagai ‘One Word of 2020″. Dan di kondisi yang seperti ini, benar-benar membutuhkan sesama orang berdaya untuk saling membantu, urun tangan. #wargabantuwarga

Saya sering menggumamkan dalam hati: “Betapa beruntungnya seseorang yang Allah titipkan karunia rejeki, kesehatan, tenaga, dan waktu sehingga bisa berdaya untuk sesama.”

Jadi jalan rezeki orang lain, dengan ijin Allah pastinya.

Lantas saya berpikir, ada masa dimana tidak semua orang mampu kita bantu. Karena pasti ada keterbatasan, seberapa kecilnya pun. Sehingga memang menghadapi kondisi ini, kita tidak boleh lepas sedikitpun dari memohon pertolongan Allah. Sekalipun ada 1 juta orang berdaya namun Allah tidak mengijinkan 1 juta orang berdaya tersebut untuk membantu, maka tidak ada gunanya.

Pikiran saya pun kemudian berlari kepada perintah Allah untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa.

Sebuah proses yang tidak mudah, berliku dan banyak tantangannya. Tapi bukankah itu sebuah hal yang patut kita perjuangkan? Sepelik apapun kondisi kita saat ini?

Yang saat ini sedang Allah titipkan berbagai nikmat, semoga Allah gerakkan hatinya untuk selalu urun tangan membantu sesama dan semoga dibalas dengan limpahan kasih sayang dan kebaikan.

Yang saat ini sedang berada di bawah, semoga Allah turunkan bala bantuan dari segala arah.

Berdaya itu nikmat. Dan berbagi tidak pernah akan mengurangi kenikmatan itu sendiri. Semoga kita semua dimampukan untuk menjadi manusia berdaya, dalam segala rupa dan keahlian.

Kuatkan diri ya Sahabat, jika sedang lemah – menepilah sejenak. It’s ok to be not ok, for a while πŸ™‚

Ladeva

Hari Terakhir di 2020

03.50 PM

Di Jakarta Selatan, tempatku saat ini, hujan. Sebenarnya suasana yang sangat tepat untuk leyeh-leyeh. Namun, sudah dari pagi kepalaku berkutat mengenai beberapa hal, termasuk diantaranya memikirkan tahun 2021 yang akan datang dalam beberapa jam.

Aku bukan termasuk orang yang suka merayakan tahun baru. Bukan juga orang yang selalu membuat resolusi, malah dibilang ‘agak’ takut dalam membuat target hidup. πŸ˜€

Tapi ada satu kebiasaan yang rasanya bisa dibilang cukup konsisten dilakukan, kecuali tahun 2017. Yaitu menentukan satu kata untuk next year. Bisa dibilang resolusi ndak sih? Gak lah ya :’)

Pertama kali membuat one word-one word-an yaitu di 2015 dengan kata EXPLORE. Ya namanya juga lagi masa-masanya suka traveling banget ya. I mean, ya ampe sekarang juga suka tapi rasanya 2010-2015 merupakan fase yang sesuka itu lho sama traveling.

Lalu di tahun selanjutnya, 2016. Saya memilih kata FAITH. Bukan tanpa alasan pastinya, melainkan sebaliknya – dengan alasan yang kuat sekali. Ketika itu ada turbulence yang sangat kuat sehingga ya kalau tidak yakin dengan rencana Allah mah pasti saya udah ndak bisa bertahan hingga sekarang. Alhamdulillah ala kulli hal. Fase itu membuat saya belajar lebih mengenal Allah lagi dan rasanya menenangkan ya jika kita sudah mengenal Allah. πŸ™‚

Lalu 2017 kok gak ada, Dep?

Iya, itu masa-masa sibuk banget kayaknya plus hiatus dari dunia blog. Sehingga ya udah jalanin aja sebisa saya bisa ketika itu.

Tapi tenang, di 2018 ada. Yaitu SELF CARE, karena ya di 2017 tuh kan sibuk banget alhamdulillah sehingga merasa waktu untuk diri sendiri kurang. sehingga ya inginnya di 2018 bisa lebih mencintai diri sendiri dan Alhamdulillah seketika ada tekad, insyaa Allah ada jalannya. πŸ™‚

Lalu di 2018 dan 2019 Allah kasih aktivitas yang membuat saya masyaa Allah rasanya ya senang, menantang, belajar lagi, sehingga blog ini kembali ndak keurus. Gak mikirin juga one word-one word-an. Yang kepikiran mah semua program lancar, to do list selesai dan improving self value-nya dapat. Sampai akhirnya di Januari 2020, saya membuat one word lagi tapi bukan di blog melainkan di Notion.

Ayo tebak apa one word saya untuk 2020?

Yaitu berdaya!

Kenapa milih kata tersebut?

Wah panjang, suatu saat deh saya tulis insyaa Allah. Tapi singkatnya pengen jadi mahluk yang berdaya agar bisa bermanfaat bagi sesama, insyaa Allah. Doain ya!

Terus datang deh corona πŸ˜€

Masih bisa berdaya?

Alhamdulillah ala kulli hal, sedikit-sedikitlah mencoba bermanfaat sebisa mungkin. Bermanfaat di sini ndak melulu harus kaya, baru bisa nolong. Pintar dulu baru bisa berbagi. Tapi ya kita share aja apa yang bisa dishare. Allah yang Maha Mencukupi setiap kebutuhan hambaNya kan? πŸ™‚

Dan alhamdulillah di 2020 dipertemukan oleh banyak orang yang bisa satu frekuensi. Salah satu bentuk rejeki yang sulit diterjemahkan dalam bentuk angka.

Lalu, 2021 mau pilih kata apa, Dep?

Udah kepikiran sih. Tapi besok aja deh insyaa Allah ditulisnya.

Semoga di akhir 2020 ini kita bisa mengambil banyak hikmah dari setiap langkah hidup ya dan semoga Allah mengampuni segala dosa kita, baik yang gak disengaja maupun disengaja. Barakallahu fiikum.

Ladeva

Masih Punya Pekerjaan? Bersyukurlah!

Beneran, harus banyak-banyak bersyukur. Hal inilah yang saya sering ucapkan ke diri sendiri setiap kali mendengar berita buruk tentang pemecatan di beberapa perusahaan, contohnya semalam saat seorang teman mengirimkan sebuah berita:

Sumber: Bloomberg Opinion

Termasuk beberapa hari lalu, saat mengetahui berita tentang Air Asia yang berubah haluan berbisnis aqiqah!

Sumber: cnbcindonesia.com

Saat membaca dan kemudian terlibat dalam sebuah diskusi mengenai perubahan haluan bisnisnya Air Asia – saya benar-benar berpikir: “Ya Rabb, bagaimana bisa sebuah perusahaan pesawat internasional berubah seperti ini?” tapi di sisi lain, saya angkat topi dengan keputusan ini.

Kenapa?

Di masa-masa ini, ya memang harus serius menyalakan survival skills mode on!

Gak bisa lagi gengsi-gengsi, apapun harus dilakukan selama itu halal dan thoyib. Sebuah tulisan singkat dari Mem Tyka mungkin bisa dibaca terkait hal ini.

Tujuh bulan sudah pandemi ini, dan jika saat ini masih ada sumber pemasukan, makanan di meja, ada atap untuk berteduh dari panas dan hujan, masih bisa bingung mau menggunakan baju apa karena terlalu banyak pilihan, masih bisa scroll marketplace dan langsung checkout, maka bersyukurlah!

Satu lagi, friendly reminder, jika masih bisa berbagi ke keluarga atau sesama – maka lakukan, jangan ditunda, sekecil apapun. Karena bahu membahu di masa ini bisa menjadi sumber pahala yang Allah sukai.

Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” [HSR Muslim (no. 2699)].

Sedikit yang kita pikir: “Ah cuma gitu aja kook” tapi saat kita membeli produk teman atau membantu mempromosikan produk teman tanpa iming-iming apapun, saya yakin itu sangat berarti untuk mereka.

Jadi, yuk bismillah kita jalan bareng-bareng. Kita tebar manfaat sekecil apapun.

Oh ya bagi teman-teman yang saat ini sedang berjuang mencari pekerjaan dan bingung harus mulai dari mana – bismillah yuk ngobrol dengan Allah. Biar bagaimanapun mau strategi secanggih apapun, jika kita tidak mendekat kepada Maha Pemilik SegalaNya maka akan sulit. Pelan-pelan kembali lagi ke jalan yang disukai Allah dan menjauhi hal yang tidak disukai Allah.

Lalu, coba di-break down skill apa saja yang dimiliki. Perbaiki CV, dan jika mempunyai produk yang bisa dijual, manfaatkan berbagai media sosial dan marketplace. Kemudian, jika mencoba menghubungi teman-teman lama untuk mencari pekerjaan, that’s good tapi jangan berharap kepada mahluk ya, khawatir nanti kecewa.

Kalo kata guru saya: mata ke mahluk, hati ke Allah. Jadi tidak apa-apa mencoba meminta pertolongan kepada mahluk tapi kembalikan harapan hanya kepada Allah. πŸ™‚

I know this is not easy tapi selama nafas masih ada – percayalah ujian sekecil apapun, sebesar apapun pasti sudah ditakar dengan sebaik-baik ukuran oleh Allah.

Satu lagi, rejeki bukan hanya terkait mengenai uang masuk setiap bulan, tapi banyak banget hal lainnya, seperti kemampuan bernafas, kemampuan bergerak, berpikir, masih bisa melihat dengan baik, ada teman yang bisa dihubungi, keluarga untuk dipeluk, dan sebagainya.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. β€” Quran Surat Ibrahim Ayat 7

Bentuk bersyukur bagi yang saat ini masih mempunyai pekerjaan: berkontribusilah sebaik mungkin kepada perusahaan, lillahi ta’ala. Semata-mata berikhtiar untuk menjadi sosok yang amanah karena Allah. Insyaa Allah akan terhitung sebagai ibadah.

Semua sudah ada jatahnya. Ada bahagia, sedih, luka, tawa, semua bergulir bergantian.

Kita jalanin bareng ya. Sama-sama saling mengingatkan bahwa selalu ada Allah bersama kita, sesulit apapun fase ini. πŸ™‚

Ladeva

Labelling

Ada gak di sini yang pernah merasa insecure karena penilaian orang lain terhadap diri sendiri?

Merasa bahwa: kok bisa sih mereka mikir aku kayak gitu? Jahat banget!

Atau merasa bahwa apa yang dilakukan sudah benar, tapi dinilai berbeda oleh orang lain. Alih-alih mengklarifikasi ke kita, mereka justru menjustifikasi negatif dengan mudahnya. Kemudian pelan-pelan berpikir: apa iya kali ya aku kayak yang mereka bilang?

Lambat laun memercayai label negatif yang orang sematkan ke kita.

Label yang awalnya tidak kita percayai.

Lalu, semalam menemukan twit Mufti Menk ini:

Never allow people who use words so irresponsibly to sabotage your self-image! – Mufti Menk

Menurut saya, yang sangat mengetahui diri sendiri ya kita sendiri. Benar, ada orang-orang terdekat yang juga mengenal kita. Penilaian mereka penting ndak? Penting, untuk kamu terus upgrade kualitas diri dan disampaikan dengan cara yang bijak. Tapi jika yang menilai buruk dirimu adalah orang di luar circle A1-mu, lalu dengan cara yang tidak arif – untuk apa dipikirkan?

Begini, orang bebas berbicara apapun tentangmu.

Tapi kamu juga bebas merespon hal tersebut.

Jangan semua penilaian orang, terutama yang sekiranya bisa mengecilkan valuemu, didengarkan. Namun, jika penilaian tersebut juga disematkan oleh orang terdekatmu, bisa jadi memang hal tersebut perlu dikoreksi dari dirimu.

Dan bagi yang terbiasa menilai orang: stop it!

Berhentilah menilai orang, berasumsi dengan karakter orang. Apalagi jika tidak terlalu mengenalnya. Tahan semua penilaian ke orang lain. Karena kamu tidak tahu apa dampak dari kata-katamu. Pernah terpikirkah bahwa kata-kata itu bisa membuat seseorang depresi?

Kita tidak pernah tahu secara pasti apa saja yang sudah dilalui seseorang. Sedekat apapun kita. Kenapa? Karena bukan kita yang menjalaninya. Bisa dari luar, mereka baik-baik saja. Tapi siapa yang bisa menebak isi hati orang lain?

Semoga kita dimudahkan Allah untuk mengamalkan hadist:

β€œBarang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq β€˜alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Dan bagi yang saat ini sedang berjuang untuk kembali memercayai valuemu lebih baik dari penilaian yang orang sematkan ke dirimu, “Kamu lah yang paling mengenal dirimu sendiri dan teruslah berusaha menjadi orang yang disukai Allah. Bukan disukai mahluk.”

L

Dua Bulan

Jakarta

2 Mei 2020, 21.48 WIB

Saking sudah lamanya tidak menulis blog dari laptop, saya sampai lupa password blog ini. Benar bahwa beberapa waktu lalu, pernah mempublish tulisan random di sini tapi itu menggunakan ponsel. Ntah kenapa – mungkin rindu – menulis di laptop untuk blog ranselijo ini.

Tanpa bermaksud mengeluh, namun masyaa Allah ya waktu berjalan relatif cukup cepat buat saya. Dua bulan saja sudah merasakan bekerja dari rumah.

Rasanya mau mengeluh juga tidak pantas. Kenapa? Ya karena memang alhamdulillah masih ada yang bisa dikerjakan dari rumah, masih ada income yang masuk, ada anggota keluarga tersayang di rumah, ada atap untuk berlindung, mampu membeli pulsa agar selalu terkoneksi dengan dunia luar, dsb. Bukankah banyak sekali nikmat yang harus disyukuri, meski memang saat ini hidup tidak semudah biasanya saja.

Saya meyakini firman Allah, semakin banyak kita mampu bersyukur maka nikmat akan Allah tambah lagi. Aamiin!

Jadi dua bulan bagaimana rasanya?

Sebagai orang yang biasa jarang menghabiskan waktu berlama-lama di rumah, saya amazed dengan diri sendiri. Alhamdulillah tidak merasakan kebosanan – yang saya pikir, sebagai orang extrovert, saya akan menderita banget karena tidak bisa bertemu orang-orang di luar.

Mungkin salah satu penyebabnya karena baru pindah rumah?

Atau karena ya memang mencoba nrimo dengan kondisi yang saat ini terjadi.

Ada sebuah pesan dari Aa Gym yang saya ingat bahwa di kondisi – yang saat ini mengharuskan diri untuk ada di rumah maka ada kemungkinan terjadi gesekan-gesekan antar keluarga, cara agar mampu menghindari hal tersebut:

  1. Hayyin – tenang.
  2. Layyin – sopan, santun, penyayang, dan lemah lembut.
  3. Qarib – akrab, hangat dan menyenangkan.
  4. Sahl – memudahkan urusan.

Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di bawah ini:

IMG_20200502_215507_029

Tidak mudah untuk berkarakter seperti itu, namun rasanya bisa dicoba pelan-pelan. Semoga Allah berikan keistiqomahan bagi siapapun yang mencoba hal baik tersebut. Aamiin…

Selama dua bulan ini, pekerjaan memang ada beberapa yang di-switching, membantu unit bisnis lainnya yang bisa dibilang jadi ujung tombak kantor saat ini. Karena jelas bahwa sebagai orang yang bekerja di travel agent maka belum bisa membuat rencana perjalanan tapi masih ada 1 program yang pekan lalu saya coba buat dan alhamdulillah diterima dengan baik. Yaitu IG Live “Ngabuburit Around the World bersama Wisata Hikmah”. Jadi, itu adalah sebuah program di IG Live-nya WH untuk sharing santai keadaan di berbagai negara saat ini. Percobaan pertama adalah interview tour guide kami di Maroco dan insyaa Allah besok akan interview teman baik di Madinah. Doakan ya agar lancar dan menarik. πŸ˜€

Selain itu, sebenarnya saya pengen banget menulis pengalaman perjalanan saya di Februari lalu ke Uzbekistan selama 8 hari 6 malam. Sudah ada draftnya tapi ntah kenapa ya kok ya maju mundur untuk posting.

Main salju di Amirsoy, Uzbekistan
Main salju bareng Mbak Tudes di Amirsoy, Uzbekistan

Samarkhan, Uzbekistan
Ciri khas bangunan di Samarkhan, Uzbekistan adalah warna-warna birunya seperti ini. Fantastic!

Pernah gak sih kalian ngerasain kayak gini? Apa karena over thingking ya?

Terus juga masih pengen nyoba inget-inget lagi perjalanan keliling Banda Aceh sampai Sabang yang dilakuin akhir tahun 2019 lalu. Doh!

Nama blog boleh ranselijo, kesannya traveling banget tapi kok ya tulisan tentang traveling jarang banget ya. Maapin, yak! πŸ˜€

Cerita apalagi ya?

Hmm..oh iya selama 1 bulan terakhir, Mbak di rumah ndak datang lagi untuk sementara – sampai epidemi ini berakhir sehingga skill saya melakukan domestic work bisa dibilang meningkat nih haha! Dari mencuci piring, ngepel, nyapu, organize barang-barang di rumah, mayan deh. Jadi challenge tersendiri jika ingin bangun agak siang dipastikan akan sulit. Apalagi kalau ada online meeting jam 8 pagi, ditambah bantu nemenin ponakan belajar. Hahaha…seru banget atur waktunya.

Terus gimana dengan bulan Ramadhan?

Dengan atau tanpa adanya epidemi ini, sebagai umat muslim, ya harus menjalani Ramadhan semaksimal mungkin. Bahkan harus harus harus lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Benar bahwa ndak bisa tarawih di masjid, tapi ya gpp juga. Kan bisa tarawih di rumah, baik berjamaah maupun sendiri. Saya sempat terharu banget saat tarawih hari kedua, abang saya (qadarullah lagi silaturahim ke rumah) jadi imam tarawih. Wah…gak inget deh kapan terakhir hal ini terjadi. Ditambah lagi saat baca doa, abang saya berasa lagi mimpi muhasabah di rumah. Jadi, rasanya haru.

Saya pernah baca tulisan seorang teman yang dulunya dia LDM dengan suaminya, namun alhamdulillah sudah ndak LDM karena ada kebijakan kantornya gitu, pas banget dengan musim epidemi yang melarang untuk keluar rumah kan. Nah, tulisannya itu berisikan rasa syukur bahwa meski benar epidemi ini challenging tapi ada sisi positifnya yaitu jadi ada quality time yang meningkat antar anggota keluarga. Sedikit banyak hal tersebut, saya rasakan juga. Maka, masyaa Allah benar bahwa tiada satu peristiwa pun yang terjadi di muka bumi ini tanpa ada hikmah di dalamnya. Dan pasti ada kebaikannya, sekecil apapun. Allah Maha Tahu, kita – hambanya – belum tahu hal tersebut.

Semoga siapapun umat muslim yang saat ini sedang menjalani Ramadhan, sendiri, berdua, bertiga, dekat atau berjauhan dengan keluarga – semoga selalu Allah jaga dan diberikan kondisi terbaik. Aamiin!

Hmm mau nulis apalagi ya kali ini?

Oh ya, bagi teman-teman yang ke ranselijo.com untuk mendapatkan berita atau informasi mengenai traveling harap bersabar ya karena mungkin beberapa waktu ke depan, saya akan nulis hal-hal random demi menyalurkan isi pikiran yang over ini hehehe…

Kalau ada ide atau cerita-cerita yang bisa dibagi, share yuk di kolom komentar.

Kita hidupkan blog lagi pelan-pelan πŸ˜€

See you!