iEat, iTravel, Uncategorized

iEat: 3 Masakan Makassar Terenak versi Ransel Ijo

Setelah beberapa minggu lalu saya menulis tentang deretan masakan Padang yang terenak versi saya, sekarang saatnya kita jalan-jalan ke Makassar.

Kali pertama saya ke Makassar adalah di pertengahan Agustus tahun 2013. Saat itu melakukan road trip sampai ke Toraja dengan berbekal tiket murah dari maskapai kesayangan yang itu tuh *bisikin*. 😀

Oke mari kita mulai.

Coto Makassar

Perlengkapan masaknya keliatan sederhana banget Tapi rasanya...enak banget! Bintang 5.
Perlengkapan masaknya keliatan sederhana banget Tapi rasanya…enak banget! Bintang 5.

 

Syukurlah ketika kaki saya baru melangkah di Makassar, ada seorang kenalan teman di Makassar yang langsung menjamu kita di restoran dekat kantornya, yaitu masakan Coto Makassar dengan menggunakan ketupat. Meski mangkuknya kecil tapi dagingnya banyak banget. 😛 Santannya itu lho juara!

Coto Makassar

Pallu Basa

Pallu Basa

Saya ingin coba Palu Basa karena kata seorang teman, rasanya nendang banget. Dan ternyata benar. Memang tidak jauh berbeda dengan Coto Makassar tapi rasanya lebih ‘berat’ dari Coto Makassar. Bingung euy jelasinnya gimana, kental dan sangraian kelapanya itu lho…juara! Dan yang pasti waktu itu mangkuk saya sampai bersih. Hahahaa!

Mie Titi

Nah ini saya coba saat mau makan malam sesaat sebelum lanjut ke Toraja. Diskusi sana-sini mau makan di mana sampai tibalah kami di restoran Jl Boulevard Ruko Rubi II, Panakkukang yang katanya terkenal banget dengan Mie Titinya. Full house tuh restoran. Begitu Mie Titi tiba saya bengong, rasanya unik. 😀

Mie Titi

Ciri khas masakan Makassar yang kentara banget adalah penggunaan rempahnya yang berlimpah. 11-12 lah ya sama Padang. Uhuk! Mungkin inilah penyebab lidah saya cukup cocok dengan ketiga masakan Makassar di atas.

Duh, abis nulis daftar ini saya jadi pengin ke Makassar lagi. Hahaha…

Pengin snorkeling sampai gosong di Tanjung Bira, sampai ke Pulau Kambing, dan Pulau Liukang.

IMG_2986Atau berenang cantik kayak gini:

IMG_3111

Atau sekedar ngeliat sunset di Ramang-Ramang kayak gini:

Ramang-Ramang

Nah, karena waktu itu full road trip, kalau saya ada kesempatan lagi ke Makassar, saya mau ah nyobain hotel-hotel di Kota Makassarnya, seperti Miko Hotel Makassar, Amaris Hotel, dan Tune Hotel Makassar, yang jaraknya tuh dekat banget sama Pantai Losari. Itu lho highlightnya Makassar. Biar bisa foto kayak gini. Uhuk!

Pantai Losari

Apalagi sekarang mah ya udah ada Traveloka, yang nyediain informasi lengkap tentang segala jenis hotel dan tiket ke mana aja. Sekali klik bisa tahu harga yang perlu kita bayar. Gak ada lagi deh kaget-kagetan pas di resepsionis, “Oh, yang biaya ini belum di-cover di pembayaran online kemarin.” Uhuk!

Kayaknya seru ya kalau ketika mau traveling semua akomodasi sudah siap tersedia. Sekalinya tiba di bandara, udah jelas mau nginap dimana dan mau ngabisin waktu kayak gimana. Ah…kakiku gatal mau jalan-jalan!

R.I

Advertisements
Social Media

Why Not?

“Parah! Gatel banget kaki gw! Arrrgh…gak jadi ke Argo!” 

Wew…kenapa nich si Saad, pikir saya saat itu. Iya, pesan itu datang dari Saad, siapa lagi coba yang kirim pesan dengan intonasi seperti itu kalau bukan Saad – my very bestfriend.

Jari saya pun lekas mengetik, “Kenapa gak jadi ke Argo?” 

“Kan adek gw nikah bulan Desember. Ke Argo Desember juga. GAK JADI DECH TAHUN BARUAN DI GUNUNG!”

For your information, Argo itu adalah nama gunung di Probolinggo.

“Santai Jeng. Tahun lalu kan kita juga udah tahun baruan di Gunung Ungaran. Tahun ini di rumah aja.”

Saad balas lagi, “Tapi pengen lagi tahun baruan di gunung, Dev! Eh…kita jalan yuk. Pacitan looks legit!”

Tanpa pikir panjang, saya pun balas, “AYO! Kapan?”

Continue reading “Why Not?”