[Review] Ruma Coffeatery, Jakarta Selatan

January 6, 2021.

Apa faktor utama kamu dalam memilih cafe?

  1. Menunya kah?
  2. Lokasinya?
  3. Wifi gratisnya?
  4. Kenyamanannya?
  5. Dekorasinya?
  6. Pelayanannya?

Atau apa?

Kalau saya sih kenyamanannya ya. Lebih prefer tempat yang ndak terlalu ramai pengunjungnya, pelayanannya ramah dan helpful.

Saya ingat banget beberapa tahun lalu sering datang ke sebuah cafe yang posisinya itu ya gak terlalu dekat dari rumah sebenarnya, di daerah Senayan dan part of apartement gitu. Minuman dan makanannya bisa dibilang biasa saja. Tapi karena nyaman, ya tidak apa-apa. Karena keseringan datang ke cafe itu bukan karena makanan tapi ya tempat untuk ngobrol atau nulis aja.

Nah, alhamdulillah di dekat kantor ada cafe yang bisa memenuhi kebutuhan saya jika pengen nyendiri, diskusi sama teman atau cuma lagi pengen ngetik aja. Yaitu RUMA EATERY.

Dekorasinya cantik, minimalis, tidak terlalu berisik gitu. Ada 2 lantai ber-AC dan 1 smoking area. Pelayanannya gimana? Ramah dan helpful pastinya.

Mengenai menunya, kita bisa pilih yang sudah tersedia secara prasmanan, cake atau ya kopi, milk shake atau fruit juice. Harganya termasuk reasonable kok. Oh iya, sejak pandemi kayaknya niih yang saya perhatiin menu prasmanannya udah ndak ada, jadi ya dibikin berdasarkan pesanan kita aja.

Kali terakhir ke sana hmm kayaknya 2 pekan lalu deh dan berhasil menamatkan buku yang gak tamat-tamat dibaca pas di rumah. Dasar aku! Terus oleh waiter-nya ditanya: “Biasanya sama teman-temannya yang ini itu kak” :’)

Perhatian syekali, Kak! #eh

Oiya sayang banget nih setiap ke sana memang saya ndak foto-foto interiornya, jadi saya ambil dari IG mereka saja ya.

Sayang yang kedua adalah lokasi kantor saya sudah tidak di dekat Ruma Eatery lagi, qadarullah agak melimpir ke Tangerang Selatan. Jadi semoga ya di Tangerang Selatan bisa menemukan cafe senyaman Ruma Eatery. 🙂

Keep it up, Ruma!

Alamat
Jl. Cipaku I No.16A, RT.1/RW.4, Petogogan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170

Telepon(021) 27085415

IG: https://www.instagram.com/rumacoffeatery

Ladeva

Hari Terakhir di 2020

03.50 PM

Di Jakarta Selatan, tempatku saat ini, hujan. Sebenarnya suasana yang sangat tepat untuk leyeh-leyeh. Namun, sudah dari pagi kepalaku berkutat mengenai beberapa hal, termasuk diantaranya memikirkan tahun 2021 yang akan datang dalam beberapa jam.

Aku bukan termasuk orang yang suka merayakan tahun baru. Bukan juga orang yang selalu membuat resolusi, malah dibilang ‘agak’ takut dalam membuat target hidup. 😀

Tapi ada satu kebiasaan yang rasanya bisa dibilang cukup konsisten dilakukan, kecuali tahun 2017. Yaitu menentukan satu kata untuk next year. Bisa dibilang resolusi ndak sih? Gak lah ya :’)

Pertama kali membuat one word-one word-an yaitu di 2015 dengan kata EXPLORE. Ya namanya juga lagi masa-masanya suka traveling banget ya. I mean, ya ampe sekarang juga suka tapi rasanya 2010-2015 merupakan fase yang sesuka itu lho sama traveling.

Lalu di tahun selanjutnya, 2016. Saya memilih kata FAITH. Bukan tanpa alasan pastinya, melainkan sebaliknya – dengan alasan yang kuat sekali. Ketika itu ada turbulence yang sangat kuat sehingga ya kalau tidak yakin dengan rencana Allah mah pasti saya udah ndak bisa bertahan hingga sekarang. Alhamdulillah ala kulli hal. Fase itu membuat saya belajar lebih mengenal Allah lagi dan rasanya menenangkan ya jika kita sudah mengenal Allah. 🙂

Lalu 2017 kok gak ada, Dep?

Iya, itu masa-masa sibuk banget kayaknya plus hiatus dari dunia blog. Sehingga ya udah jalanin aja sebisa saya bisa ketika itu.

Tapi tenang, di 2018 ada. Yaitu SELF CARE, karena ya di 2017 tuh kan sibuk banget alhamdulillah sehingga merasa waktu untuk diri sendiri kurang. sehingga ya inginnya di 2018 bisa lebih mencintai diri sendiri dan Alhamdulillah seketika ada tekad, insyaa Allah ada jalannya. 🙂

Lalu di 2018 dan 2019 Allah kasih aktivitas yang membuat saya masyaa Allah rasanya ya senang, menantang, belajar lagi, sehingga blog ini kembali ndak keurus. Gak mikirin juga one word-one word-an. Yang kepikiran mah semua program lancar, to do list selesai dan improving self value-nya dapat. Sampai akhirnya di Januari 2020, saya membuat one word lagi tapi bukan di blog melainkan di Notion.

Ayo tebak apa one word saya untuk 2020?

Yaitu berdaya!

Kenapa milih kata tersebut?

Wah panjang, suatu saat deh saya tulis insyaa Allah. Tapi singkatnya pengen jadi mahluk yang berdaya agar bisa bermanfaat bagi sesama, insyaa Allah. Doain ya!

Terus datang deh corona 😀

Masih bisa berdaya?

Alhamdulillah ala kulli hal, sedikit-sedikitlah mencoba bermanfaat sebisa mungkin. Bermanfaat di sini ndak melulu harus kaya, baru bisa nolong. Pintar dulu baru bisa berbagi. Tapi ya kita share aja apa yang bisa dishare. Allah yang Maha Mencukupi setiap kebutuhan hambaNya kan? 🙂

Dan alhamdulillah di 2020 dipertemukan oleh banyak orang yang bisa satu frekuensi. Salah satu bentuk rejeki yang sulit diterjemahkan dalam bentuk angka.

Lalu, 2021 mau pilih kata apa, Dep?

Udah kepikiran sih. Tapi besok aja deh insyaa Allah ditulisnya.

Semoga di akhir 2020 ini kita bisa mengambil banyak hikmah dari setiap langkah hidup ya dan semoga Allah mengampuni segala dosa kita, baik yang gak disengaja maupun disengaja. Barakallahu fiikum.

Ladeva

Podcast Perdana

Iya benar, akhirnya biidznillah aku membuat podcast perdana setelah ditunda beberapa waktu. 😀

Dulu sih kepikirannya tuh ya kayak podcast-podcast ngobrol sana sini gitu tapi ya susyah ya nemu teman tandemnya dan belum yakin aja gitu.

Terus kepikiran juga untuk membuat channel di Youtube tapi lagi-lagi kepentok skill ngedit video. Iya, banyak excuse. Akhirnya tenggelam deh dengan rutinitas sana sini.

Lalu tiba akhirnya kemarin.

Liat story IGnya Jonathan End yang tentang menyisihkan waktu 1% aja setiap harinya untuk upgrading diri atau nyobain hal baru. Yang kalau dilakukan secara konsisten setiap harinya selama 1 tahun, berarti bertumbuh selama 365%! Asik ya ngeliat angka besar. Jadi yawda terdorong deh untuk mencoba hal baru, sedikit demi sedikit.

Yang kepikiran ya bikin podcast.

Nah terus temanya gimana?

Jadi, aku lagi senang banget dengan content bukunya Jundi Imam Syuhada yang judulnya Menenangkan Diri. Dengan random, membuka halamannya eh ketemu halaman 57 yang menurutku isinya universal dan banyak ditemui oleh siapapun, yaitu tentang pertemanan.

Setelah semua semangat terkumpul, langsung deh searching gimana caranya bikin podcast. Ketemu. Eksekusi.

Di anchor jadi, langsung upload di Spotify – promoin deh link ini ke beberapa orang terdekat. Terus iseng-iseng rapiin channel Youtube pribadi 😀

Masih amatir nih, jadi sangat butuh insight dari siapapun. Feel free ya untuk ngasih masukan 🙂

Ladeva

Short Getaway ke Maribaya Lodge saat Pandemi

Panjang ya judulnya :’)

Sebelum ditanya: JALAN-JALAN SAAT PANDEMI? SERIUS?!

Ya maap, sebenarnya ini jalan-jalan yang tydac direncanakan. Jadi tuh, qadarullah ada pertemuan kantor yang harus dilakukan ke Bandung, ndak iso via Zoom only. Planningnya mah ya pergi pulang aja Bandung – Jakarta. Ternyata rapat tersebut baru selesai pukul 6 sore, yang mana badan dan pikiran syudah lelah sekali, kakak. Akhirnya diskusi dengan teman-teman kantor, okelah kita menginap aja di Bandung.

Tydac membawa perlengkapan satupun untuk menginap. Alhamdulillah ala kulli hal, Bandung surganya FO ya sehingga bisalah membeli baju ganti yang oke.

Terus mau langsung pulang ke Jakarta, asa sayang gitu. Berhubung pergi juga cuma berlima dan kami pikir, gpp kali ya ke objek wisata alam di Bandung. Pilihan pertama yaitu ECO PESANTREN 2 dan setelah itu kembali ke penginapan di Cottage Daarul Jannah, baru deh ke ORCHID FOREST.

Keesokan harinya pukul 6 pagi, kami ke ECO PESANTREN 2, yang jaraknya hanya 30 menit dari ECO PESANTREN 1 di daerah Cigugurgirang Parongpong, Bandung. Kenapa kami mau ke sana? Karena dari informasi yang kami dengar, suasana di sini indah, segar dan dingin. Jadi penasaran gitu lho. Insyaa Allah wilayah ECO PESANTREN 2 ini mau dibangun pesantren khusus akhwat (santri Daarut Tauhiid). Doakan lancar ya!

Sayangnya saya tidak berhasil membuat foto pemandangan yang menarik di sana. Hmm kurang lebih ya tanah kosong, namun ada spot tenda-tenda yang biasa disewakan gitu. Pemandangannya juga indah karena bisa melihat Bandung dari atas. Kebayang kalau subuh-subuh di sana, cantiknya seperti apa, masyaa Allah.

Lalu, sekitar pukul 10an kami sudah tiba di ORCHID FOREST namun qadarullah tutup yang disebabkan angin kencang.

Saat kami di ECO PESANTREN 2, anginnya memang kencang sih, dipikir karena ya suasana pagi. Eh ternyata memang di daerah Lembang, cuacanya sedang hujan-gak ujan-hujan lagi-terus angin kenceng. Gitu aja terus ganti-gantian.

Karena itu, yawda kami pindah ke MARIBAYA LODGE. Yang serunya perjalanan dari ORCHID FOREST ke MARIBAYA LODGE dengan panduan GMaps, membuat kami masuk-masuk ke hutan dengan rute yang mayan bikin dag dig dug. Hehe…jalurnya sempit, tanjakan, turunan dan harus sabar saat bertemu mobil dari arah yang berbeda.

Alhamdulillah tiba dengan selamat di MARIBAYA LODGE. Biaya masuk Rp 45k/ orang, dengan fasilitas voucher makan Rp 10k/ orang, nyobain spot ayunan dan free foto, apalagi ya, lupa. Tapi barusan cek di website mereka, ternyata dapat diskon Rp 3k/ orang, kalau membeli tiket di website mereka. 😀

Jujur sih, saya senang banget akhirnya bisa merasakan udara segar Bandung dengan pemandangan yang cantik. Alhamdulillah saat kami tiba di sana, pengunjungnya masih sedikit (benar-benar banyak saat kami melihat pintu masuk di perjalanan pulang). Tipsnya: datang pagi, agar sekitar pkl 13.00an sudah bisa pulang. Gpp sebentar, yang penting merasa cukup aja dulu. Daripada suasana semakin ramai, yekan?

Kami bertiga ndak nyobain atraksi apapun karena duduk santai gini aja alhamdulillah cukup 😀
Foto ala-ala kayak gini juga bisa recharge energi ya

Jadi, berapa lama kami di MARIBAYA LODGE? Hmm kayaknya maksimal 2 jam deh, sudah termasuk untuk keliling, foto-foto, makan dan sholat. Alhamdulillah cukup ya, bun.

Setelah dari MARIBAYA, kemana? Pulang ke Jakarta langsung, bun. 😀

Ya segitu aja sih cerita short getaway, yang benar-benar short dan tidak direncanakan. Lumayan ngecharge energi dan sungguh berharap kita dikuatkan dan dimampukan menghadapi situasi pandemi ini.

See you!

Ladeva

Lakukan Lupakan

Seorang teman pernah berkata, “Hal yang sering bikin kita patah itu karena perasaan “merasa” dan “keakuan”. Padahal itu asumsi, penilaian kita semata. Faktanya kita tidak memiliki peran sebesar itu kok sampai perlu mengatakan “aku merasa udah all out, dsb” atau “aku merasa udah maafin tapi, dsb””.

Padahal yang perlu kita lakukan sesederhana: lakukan dan lupakan.

Iya, tidak mudah. Tapi perlu terus dilatih. Semisal kita melihat tim junior ternyata sudah bisa berlari kencang, kita harus support. Bukan merasa tersaingi. Atau jika ada seseorang yang meninggalkan kita setelah semua support diberikan, ya lupakan saja. Introspeksi kenapa hal itu bisa terjadi, namun bukan berarti menyalahkan diri sendiri atau orang lain.

Nilailah segala sesuatu seproporsional mungkin. Tidak kurang tidak lebih. Mendewasa dalam menilai, bijak dalam bersikap.

Pelan-pelan ya kita bertumbuh dalam pikiran, perasaan dan tindakan.

Ladeva