Half Deen Series; Event Terbaik di 2019

Half Deen Series adalah event terbaik yang pernah saya ikuti di tahun 2019. Menariknya, tanggal event ini pun memorable bagi saya

22 Desember

Sepanjang acara, Alhamdulillah tidak terkantuk sama sekali, even a sec, padahal acara ini berlangsung 3 jam, malam hari pula dan pembahasannya ya tentang tauhiid, sebuah materi yang tidak dengan mudah dapat tersampaikan oleh setiap orang.

Selain karena antusias, tapi juga serasa banyak mendapatkan AHA MOMENT dari Allah.

Berbisik dalam hati, “Ya Rabb, skenarioMu indah banget. What’s next? Ada cerita apa lagi ke depannya nanti? Apapun itu, mampukan.”

Bahkan saat menulis caption ini, rasanya tidak akan mampu melukiskan rasa syukur dan hikmah yang didapatkan dari pembahasan Ust Nuzul Dzikri, Lc di event ini. Sangat berharap, bukan hanya euforia sesaat namun benar-benar ada dampaknya di diri ini.

Jadi teringat salah satu pesan seorang teman, saat kami terlibat dalam sebuah event: Jika ada 1 saja orang yang berubah karena event ini (pastinya karena Allah berkehendak), semoga penyelenggara pun mendapatkan pahala dan rahmat dari Allah.

Doa yang sama pun, saya sematkan untuk para penyelenggara event Half Deen ini dan kepada teman-teman yang menjadi jalan Deva hadir di event ini πŸ™‚

*foto diambil sesaat sebelum event dimulai

#30haribercerita
#halfdeen #30hbc2001

@30haribercerita

Ladeva

Belajar Bareng Yuk

Semalam saya hadir di sebuah kajian ilmu bersama beberapa sahabat. Ada satu pertanyaan dari jamaah, yang membuat saya berpikir lama dan saat menjawabnya, Ustadz Nuzul Dzikri, Lc (yang merupakan pengisi materinya) agak tersendu dalam menjawab.

Pertanyaannya lebih kurang: jamaah ini sudah cukup sering hadir di kajian ilmu, namun beberapa waktu lalu, dia diajak ke cafe/ bar oleh seorang temannya. Di perjalanan, ada saja reminder atau alarm yang ia temui – seakan-akan Allah ingin mengingatkannya untuk tidak datang ke sana, bahkan hingga ke depan pintu cafe/ bar hadir seorang pengemis untuk meminta-minta. Di sana dia tersadar, “there something Allah want to tell him”. Namun, ia tetap masuk dan memilih tidak meminum alkohol.

Ia bertanya ke Ustadz, apakah beberapa rententan yang ia temui saat menuju cafe/ bar tersebut adalah pertanda bahwa Allah mencoba meluruskan langkahnya?

Ustadz menjawab panjang dan mendalam. Singkatnya: jika kita mau berpikir dengan hati, ilmu dan serta keyakinan, iya itu adalah pertanda dari Allah. Allah gak mau kita jatuh lagi. Allah gak mau kita jauh lagi. Namun, kita sebagai manusia masih sering melanggar peraturannya, menafikkan semua kebaikan yang Allah sudah kasih ke kita (di titik inilah Ustadz agak tersendu menjawabnya).

Fabiayyi alaa irobbikumatukadziban.

***

Sebentar lagi berganti tahun Masehi. 2020.

Pasti sudah banyak di antara kita yang sibuk membuat resolusi.

Saya pun beberapa hari lalu juga sudah membuat beberapa rencana dan target, seperti yang tahun lalu saya lakukan. Saat membuat rencana ini, membuka-buka catatan sepanjang tahun 2019, masyaa Allah betapa banyak rezeki yang Allah limpahkan. Tapi rasanya dosa pun masih menggunung. Lupa atas semua kebaikan yang sudah Allah berikan.

Semoga masih ada kesempatan untuk bisa lebih baik lagi. Makin bijak dalam membaca hikmah dan membuat prioritas dalam hidup. Berfokus untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa.

Kita sama-sama belajar yuk πŸ™‚

Quran Quotes - Call upon me, I will respond to you

Bismillah…

Ladeva

Bahagiakan Diri Dulu atau Orang Lain?

Kemarin sore, saya mendapat kabar bahwa seorang teman kantor perempuan – senior tepatnya – mendapat musibah tempurungnya retak. Saat itu hanya kaget yang saya rasakan.

Sampai akhirnya saya sampaikan berita ini ke teman yang lain dan dia terperajat kaget luar biasa, lalu seketika ingin ikut menjenguk bersama saya dan teman-teman lainnya.

Saya bertanya: kenapa sih kok kaget banget?

Teman saya menjelaskan betapa berbahayanya kondisi tempurung retak tersebut dan saya merasa: “dep, masak begini aja lo gak paham sik!”

Singkat cerita, tibalah kami di rumahnya. Seorang ibu yang menjadi tulang punggung keluarga dengan kondisi suami dan ibu yang sakit, dan anak-anak remajanya bersekolah di Bandung yang masih belum bisa mandiri – saat ini sedang berjalan tertatih-tatih. Perih melihatnya.

“Istirahat aja dulu ya, teh. Ikuti kata-kata dokter,” pesan kami ke beliau, yang kemudian disanggah dengan warna muka sedemikian sedihnya, “gak bisa. Klo aku istirahat, di rumah gimana?”

😦

Dan ini bukan kali pertama beliau menyampaikan motivasi beliau bekerja adalah demi keluarga. Beliau harus selalu kuat. Harus selalu mampu bahagiakan keluarga. Bahkan beliau merasa malu untuk menangis.

“Gak apa-apa teh mengakui apa yang kita rasakan, senang, bahagia, marah, kecewa atau apapun. Bagaimana cara kita mampu bahagiakan orang lain, jika kita belum punya “tabungan” kebahagiaan yang bisa dibagikan ke orang lain?” Adalah sebuah pesan yang pernah saya sampaikan ke beliau, namun rasanya bagi sebagian orang pemikiran ini tidak terlalu tepat.

Ada yang berpendapat: cara aku bahagia adalah jika melihat orang di sekitarku bahagia. Gak apa-apa berkorban sedikit.

Sedikit – inilah yang rancu.

Pernah juga aku mendengar nasihat dari alim ulama: kita harus jadi muslim yang kuat agar semakin bermanfaat bagi sekeliling. Sehat itu bisa jadi ibadah jika manfaatnya bisa dirasakan orang lain.

Dan iya, saya setuju.

Sehingga hikmah yang saya dapatkan dari silaturahim semalam adalah selagi ada kesempatan, usia, atau rejeki dalam bentuk apapun – benar-benar harus kita manfaatkan untuk optimalisasi value diri. Semakin kita kuat maka ladang amal sholih untuk sekitar bisa lebih luas lagi.

Seperti hadist Rasulullah SAW,

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Hikmah kedua adalah semangat beliau yang perlu dicontoh. Meskipun kondisi tidak sehat, namun beliau masih mau untuk bekerja agar tidak menjadi beban teman-teman sejawatnya.

Semoga Allah yang Maha Menyembuhkan, bisa memberikan rejeki sehat kepada beliau dengan sebaik-baik kondisi.

Mohon doakan ya, teman-teman πŸ™‚

Oiya, prinsip kalian sendiri bagaimana? Memastikan diri sendiri happy dulu atau berjuang demi membahagiakan orang lain dulu?

Have a good day!

Ladeva

Celotehan

Saat menulis ini, aku belum tahu akan membahas tentang apa lho.

Dari tadi sore, ingin nulis tentang konsep mindfulness yang lagi pengen aku pelajari karena kurasa itu bisa sejalan dengan konsep minimalist living yang sedang aku jalani.

Terus buka laptop. Tapi malah ngerjain tugas kantor. Well…gak ada yang nyuruh juga sih padahal. Mudah ke-distract aku tuh.

Saat mau rehat, eh iseng buka IG dan yes akhirnya kedistract lagi dengan beberapa pikiran dari story beberapa orang yang saya follow. Tentang perjuangan mereka agar sehat fisik dan batin, prestasi, dan mimpi. Mostly kan isi story seperti itu ya.

Lalu, akhirnya aku saat nulis ini, aku ingat percakapanku dengan seorang sahabat tadi pagi – sepulang kami dari sebuah event.

Waktu itu berharga banget ya. Klo ndak kita isi dengan kegiatan positif, ya merugi. Dan kemungkinan besar disibukkan dengan kegiatan yang gak manfaat.

Dan itu sejalan dengan ungkapan Imam Syafii

Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka niscaya kita akan disibukkan dengan keburukan.

Buat saya, hal itu menyeramkan sih. Kita pikir mau “me time” eh gak terasa waktu udah malam aja, sedangkan kita ndak melakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain. Bersembunyi di balik kata-kata, “me time”.

Oh iya, sore tadi juga saya dapat email dan notifikasi dari WordPress bahwa hari ini, ranselijo.com ini domainnya sudah diperpanjang otomatis. Terus nyengir sendiri, wow dep sayang banget uangnya kalo kamu gak rutin nulis lagi. :’)

Jadi yah inilah ikhtiar aku menulis di sini – karena memang rasanya saya sudah butuh untuk kembali menulis seperti dulu lagi.

Ladeva

Jelang Akhir 2019

Sudah sejauh apa dream list kamu tercapai?

Buatku, 9 bulan di 2019 ini berjalan sangat cepat. Tau-tau sudah September 2019. Sebentar lagi Desember 2019.

Kalo hitungan kalendar Hijriah sih, baru bulan lalu kami merayakan tahun baru Islam.

Nah, oleh karena itu, aku kepikir untuk re-design dream listku.

DREAM LIST 2019

Saat tadi re-design dream list di Trello (ada yang pake Trello juga gak, duhai teman blogku…), aku mikir: ada gak ya yang sungguh-sungguh membuat dream list dan ikhtiar maksimal untuk mewujudkannya? Karena jika ada, aku ingin sekali mendengarkan kisah mereka. Kalo kalian ada cerita, boleh dong dishare. πŸ™‚

Di sisi lain, ada sebagian jenis orang yang ku tahu – merasa takut dalam membuat dream list.

“Takut gak kesampaian, Dev. Nanti kecewa. Jadi let it flow aja semuanya,” alasannya demikian.

Saat mendengar itu sih, aku hanya mencoba menempatkan posisi: “Iya sih, kadang punya ketakutan juga akan kecewa jika sudah set the target tapi gak tercapai.”

Tapi jauh di diriku, aku ingin belajar mempunyai target sedikit demi sedikit agar bisa melihat sejauh apa sih ikhtiar aku meraihnya.

My simple dream list: bisa terus nulis di ranselijo.com ini. Haha…konsistensi itu ndak mudah, Sahabat!

Doain yaaaa πŸ˜€

Share yuk cerita kalian tentang dream list 2019 ini. Bismillah, bisa jadi jalan inspirasi yang membaca πŸ˜‰

Ladeva