iLearn, iTalk

One Word 2018; Self Care

Well actually not in one word ya tapi 2 kata hehehe…

Setelah di 2015 dan 2016, saya membuat tulisan khusus mengenai general resolution terhadap diri sendiri, kemudian di 2017 tidak membuat tulisannya eh sekarang sudah di 2018 aja. 😂

Bisa dikatakan 2017 adalah tahun yang tidak produktifnya saya dalam hal perbloggingan. Ada sih beberapa tulisan di sini tapi sebagian besar rasanya merupakan tulisan advertorial. Tapi alhamdulillah di kesempatan lain, ada tulisanku yang muncul di Majalah Rumah Zakat.

Selain itu selama 2017 Alhamdulillah diberikan amanah baru di pekerjaan per Februari 2017 dan amanah ini berkaitan erat dengan salah satu passion saya yaitu traveling. Iyes, di 2017 secara sederhana diamanahkan menjadi Travel Planner di divisi yang baru didirikan juga. Jadi masya Allah diberikan kesempatan yang maksimal untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru tentang travel arrangement, dsbnya lah.

Hal tersebut merupakan salah satu bentuk rezeki yang saya syukuri, selain ni’mat-ni’mat lainnya.

Nah, berkaitan dengan itu akhirnya jadi lebih sering bertemu orang baru dan ngbrol banyak tentang alasan-alasan mereka traveling.

Semakin ke sini semakin sadar bahwa traveling itu baiknya bukan hanya sekedar check list tempat-tempat mana aja yang sudah pernah kita datangi, tapi juga harus semakin mendekatkan kita kepada Sang Pencipta, baik saat traveling di dalam negeri maupun di luar negeri.

Seriously, kayak misalnya sederhana banget contohnya, ke Bandung lewat tol. Pas di Pasteur hujan deras banget tapi pas kita maju sedikit lagi hujan berhenti. Beberapa kali ngalamin hal tersebut. Seandainya kita tidak nyoba nyari hikmah dari hal tersebut, paling mentok cuma kayak bilang: “hujannya ngajakin becanda” atau “hujannya galau” padahal ya gak ada kejadian 1 pun di dunia tanpa tidak diketahui oleh Allah. Pasti ada hikmahnya.

Gitu sih…

Nah, di 2017 juga akhirnya mendapat kesempatan untuk belajar bersama teman-teman IITCF (Indonesian Islamic Travel Communication Forum). Nah ini nih kumpulan penggiat travel agent muslim profesional. Alhamdulillah banyak ilmu juga dari mereka.

Jadi 2017 tahunnya saya belajar banyak tentang dunia traveling dalam scope profesional. Semoga di 2018, ilmunya makin luas dan bermanfaat.

Lalu di 2018 kenapa memilih “Self Care”?

Karena merasa di 2017 jarang ada waktu untuk diri sendiri. Ehciyegitu.

Bukannya gak ada waktu ya tapi jarang aja. Sehingga berharap di 2018, bisa lebih banyak memerhatikan hak tubuh baik jasmani maupun rohani. Misalnya, sholatnya lebih tuma’ninah, lebih prepare sebelum sholat (bukannya pas adzan ambil wudhu atau ngbrol sama temen). Intinya mah pengen lebih banyakin bekal ke akhirat nanti.

Beberapa kejadian di 2017 sudah sering memperlihakan bahwa kematian bisa datang kapan saja. Jadi berharap bekal yang dibawa sudah cukup dan tidak meninggalkan hutang apapun. Aamiin…

Self care juga berarti berani membuat keputusan-keputusan yang berdampak kepada kebaikan diri sendiri. Tidak gegabah dalam berkeputusan. Mikirnya lebih panjang dan luas lagi.

Dan diam-diam membisikkan harapan agar istiqomah menulis blog 2 kali sebulan. Hehehe…doakan!

Saya meyakini bahwa doa baik pasti diijabah dan kita gak pernah tahu doa siapa ke diri kita yang diijabah oleh Allah.

Di 2017 saya melihat secara jelas mimpi seorang teman yang tercapai dengan usahanya dan pasti karena Allah ijinkan. Sehingga hal tersebut beneran memotivasi saya bahwa jika bersungguh-sungguh dalam berusaha dan memantaskan diri di hadapan Allah maka Allah pasti kasih. Manjadda wajadda.

Berharap ilmu semakin luas dan semakin bermanfaat bagi siapapun. 💟

Dan juga lebih peka dalam berbagi kebahagiaan atau kesedihan di media sosial. Karena sekalipun berniat “berbagi kebahagiaan”, kita gak pernah tau apakah orang yang melihat media sosial kita ikutan bahagia atau justru sebaliknya. Jadi jaga hati gitu ceritanya. Ini sih benar-benar catatan buat diri saya sendiri. 😊

Nah di hari pertama 2018 ini mari yuk sama-sama mengamini harapan-harapan baik di tahun ini.

May Allah always blessing us.

Love!

Advertisements
Uncategorized

Dalamnya Hati…

Sesungguhnya dalamnya lautan tidak ada yg mengetahui. Pun demikian dengan dalamnya hati seseorang. Dia diam bukan karena tidak merasa. Dia diam bukan karena tidak memerhatikan.

Tapi justru hatinya sedang sibuk memilah rasa dan prioritas.

Mana yang patut diucapkan, mana yang tidak. Mana yang perlu disampaikan di umum, mana yang perlu disampaikan pribadi ke yang bersangkutan.

Seperti kapal, berjalan pelan bahkan hampir tidak terlihat berjalan tapi insya Allah akan tiba di dermaga, kan?

Ladeva

iLearn, iTalk

Be Original

Pernah gak sih kalian punya sebuah ide, namun karena menyunjung rasa “taat peraturan”, kalian kemukakan ide tersebut dengan cara yang prosedural?

Pasti pernah lah ya.

Terus, tetiba ide tersebut diambil oleh orang lain dengan cara potong kompas, bagaimana coba rasanya?

Ya namanya juga ruang kreasi ya. Diubah sedikit, langsung mengaku bahwa itu idenya.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh kita – yang merasa idenya diambil?

Bersabar 😀

Dan teruslah berkreasi.

Karena berlian akan selalu bersinar, meskipun di dalam tumpukan jerami dan orang yang benar-benar kreatif, tidak akan pernah kehabisan ide untuk berkreasi secara original.

Hanya tinggal terus memompa semangat agar tidak ngos-ngosan di tengah jalan dan menyerah.

Quote - Ladeva

Yuk ah, be original!

Ladeva

iTalk, Tauhid

Pernah Gak?

Pernah gak kamu datang ke sebuah tempat yang sama beberapa kali tapi dengan perasaan dan kondisi yang berbeda?

Aku pernah.

Kondisi ini sering membuat aku berpikir, “Sudah sejauh mana aku melangkah dari hari terakhir aku datang ke tempat ini? Apakah sudah lebih baik atau bahkan lebih buruk?”

Tapi ternyata yang lebih mendominasi hati adalah rasa syukur.

Ransel Ijo

Untuk kesekian kalinya, aku jatuh cinta padaNya.

🙂

Alhamdulillah.

 

 

iLearn, iTravel, Tauhid

Perjalanan yang Mendekatkan

Dua ribu dua belas hingga dua ribu empat belas adalah masa-masa saya sering ikut open trip.

Punya banyak kenalan baru dari komunitas open trip tersebut. Dan warbiyasanya, mereka santun, sopan, taat, dan (seinget saya) laki-lakinya tidak ada yang merokok. Dari sekian banyak perjalanan, banyak pula cerita yang bertaburan dari teman-teman baru ini.

Setiap orang punya alasannya sendiri saat memutuskan untuk ‘berjalan’. Dari alasan sekedar ‘suka’ hingga alasan yang bisa bikin saya mengangguk-angguk, ketika itu.

photo6255506166411012020
Sore di Floating Market, Lembang

Alhamdulillah takdir Allah tuh keren.

Dua ribu lima belas merupakan tahun yang membuat saya menjauh dari ‘perjalanan’ padahal ajakan datang dari manapun. Hiatus dari dunia traveling.

Lalu dua ribu enam belas diamanahkan untuk kembali bersentuhan dengan traveling, hingga di awal tahun ini harus lebih difokuskan.

Dan kembali lagi, setiap perjalanan punya cerita masing-masing. Perbedaannya kali ini, setiap cerita dikaitkan dengan Tauhiid dan kuasanya Allah serta ada keyakinan yang ditabur di perjalanan.

Kamu, kapan kali terakhir ‘berjalan’ untuk menemukan cintaNya?

Deva