Tiga Alasan Kenapa Suka Gojek

Sebagai masyarakat Jakarta yang kotanya sedang dibangun abis-abisan, kehadiran Gojek dengan tarifnya yang terjangkau benar-benar seperti oase di padang savana. Bayangkan saja perjalanan dari kantor ke rumah sekitar pukul 5 sore berhasil menghabiskan waktu selama 2 jam lebih. Yang niatnya pulang on time, berujung kepada pulang terlambat karena baru tiba pukul 7 malam. Kendaraan roda empat bukan lagi pilihan saya di jam pulang kantor, mau itu kendaraannya ber-AC atau tidak ber-AC. Intinya mah ya…sudah tidak kuat lah dengan macetnya Jakarta.
Nah makanya sejak ada Gojek, rasanya hidup lebih mudah aja. 😀
Pergi tidak perlu terlalu pagi dan pulang pun tidak perlu energi tambahan menghadapi jalanan. Eits, di sini udah pada tau lah ya Gojek itu apa?
Iya, Gojek yang saya maksud adalah layanan ojeg yang sistem transaksinya itu via aplikasi di smart phone dengan tarif yang tidak terlalu mahal – dan di promo ini tarifnya Rp 10.000 ke mana saja asal masih di bawah 25 km!
Dari sudut pandang customer (dan ini subjektif banget) yang berhasil membuat banyak customer puas dengan pelayanan Gojek adalah karena keramahan drivers nya. Coba bayangkan secanggih apapun sebuah terobosan armada transportasi jika drivernya tidak ramah, ya besar kemungkinan customer sulit terpuaskan. Teman saya bahkan pernah bilang bahwa driver Gojeknya itu ramah banget karena saat bertemu, langsung menyapa dengan santun bahkan saat sudah sampai tujuan, drivernya mengucapkan ‘Semoga sukses ya, Bu’. Rasanya…keramahan itu sih yang bikin customer ketagihan untuk menyewa jasa Gojek.
Yang kedua adalah interface Gojek di smartphone yang clean, elegan, dan mudah dipahami. Di smartphone saya ada dua aplikasi layanan transportasi, nah jika dibandingkan antar kedua aplikasi tersebut, saya lebih mudah memahami aplikasi Gojek.
Yang ketiga, fast response dari drivernya. Meski beberapa kali (menurut pengakuan drivernya) server sedang hang, ya…so far, saya masih cukup puaslah dengan fast response driversnya Gojek. Paling gak, saya hanya butuh waktu 3-5 menit menunggu untuk di-approved.
Apalagi ya?
Kalau kamu, ada komen gak tentang Gojek? 😀
o_19icm012rtkjd2o1bjfn0okida
Last but not least, semoga Gojek bisa lebih baik servicenya agar customer tetap menggunakan Gojek meski harga tidak lagi dalam masa promo.
See you!
Deva

iLearn; Keberkahan dalam Kebahagiaan

Semalam seorang sahabat mengirim sebuah pesan via WhatsApp:

A beautiful speech by Sundar Pichai – Google CEO

The cockroach theory for self development.

At a restaurant, a cockroach suddenly flew from somewhere and sat on a lady.

She started screaming out of fear.

With a panic stricken face and trembling voice, she started jumping, with both her hands desperately trying to get rid of the cockroach.

Her reaction was contagious, as everyone in her group also got panicky.

The lady finally managed to push the cockroach away, but.. it landed on another lady in the group.

Now, it was the turn of the other lady in the group to continue the drama.

The waiter rushed forward to their rescue.

In the relay of throwing, the cockroach next fell upon the waiter.

The waiter stood firm, composed himself and observed the behavior of the cockroach on his shirt.

When he was confident enough, he grabbed it with his fingers and threw it out of the restaurant.

Sipping my coffee and watching the amusement, the antenna of my mind picked up a few thoughts and started wondering, was the cockroach responsible for their histrionic behavior?

If so, then why was the waiter not disturbed?

He handled it near to perfection, without any chaos.

It is not the cockroach, but the inability of those people to handle the disturbance caused by the cockroach, that disturbed the ladies.

I realized that, it is not the shouting of my father or my boss or my wife that disturbs me, but it’s my inability to handle the disturbances caused by their shouting that disturbs me.

It’s not the traffic jams on the road that disturbs me, but my inability to handle the disturbance caused by the traffic jam that disturbs me.

More than the problem, it’s my reaction to the problem that creates chaos in my life.

Lessons learnt from the story:

I understood, I should not react in life.
I should always respond.

The women reacted, whereas the waiter responded.

Reactions are always instinctive whereas responses are always well thought of.

A beautiful way to understand…………LIFE.

Person who is HAPPY is not because Everything is RIGHT in his Life.

He is HAPPY because his Attitude towards Everything in his Life is Right.

Berasa seperti kena teguran gak sih? 😀

Pesan ini saya baca tidak lama setelah ngobrol lama dengan kakak saya. Kami sedang berdiskusi bagaimana seseorang bisa dengan tidak sadar menyebarkan aura negatif hanya dengan terus menerus mengeluh tentang hidupnya dan dipublikasikan via media sosial. Padahal ya dengan menyebarkan negativitas, masalah atau keluhan tersebut tidak terselesaikan.

Lagipula jika kebahagiaan dikejar bukankah tidak akan bisa diraih? Kebahagiaan itu diciptakan, kan? Dan dimulai dengan rasa syukur yang tiada bertepi.

Menurut saya, daripada mengejar kebahagiaan…akan lebih baik jika berkejar-kejaran meraih berkahNya. Ah, jadi ingat kutipan buku Lapis-Lapis Keberkahan “Salim A. Fillah”,

Bahagia adalah kata palin menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal menharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika dipikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilan jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Di denging telinga yang tak menyimak bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain berkilau cahaya.

Dan di paragraf lainnya,

Ialah lapis-lapis keberkahan. Mungkin bukan nikmat atau musibahnya, tapi syukur dan sabarnya. Bukan kaya atau miskinnya, tapi shadaqah dan doanya. Bukan sakit atau sehatnya, tapi dzikir dan tafakkurnya. Bukan sedikit atau banyaknya, tapi ridho dan qana’ahnya. Bukan tinggi atau rendahnya, tapi takziyah dan tawadhu’nya. Bukan kua atau lemahnya, tapi adab dan akhlaqnya. Bukan sempit atau lapangnya, tapi zuhud dan wara’nya. Bukan sukar atau mudahnya, tapi amal dan jihadnya. Bukan berat atau ringannya, tapi ikhlas dan tawakkalnya.

Semoga kita dipermudahNya untuk selalu bersyukur dan mencari berkah di dalam setiap peristiwa.

Semoga keberkahan juga diberikanNya kepada anak-anak ini yang sedang tafakkur alam di Tangkuban Parahu
Semoga keberkahan juga diberikanNya kepada anak-anak ini yang sedang tafakkur alam di Tangkuban Parahu

Jum’at Mubarok!

Deva

Taman Lapangan Banteng

“Ini nama tamannya apa sih?” tanya saya saat berada di sebuah taman.

“Namanya Taman Lapangan Banteng.”

“Ooooh ini yang namanya Lapangan Banteng!”

Sebagai orang yang ngaku suka jalan, rasanya kok ya bisa gitu gak tahu yang namanya Taman Lapangan Banteng.

Jujur sih saya kagum dengan luasnya taman ini. Tahu gak luasnya berapa? 4,5 hektar! Ini juga tahunya dari Google. 

  

Sayang sih jika dibandingkan dengan Taman Ayodya, Taman Lapangan Banteng ini seperti kurang terawat. Meski ada beberapa petugas kebersihan yang saya lihat sedang bertugas. Kurang terawatnya tuh bukan karena kotor tapi lebih gak ada peremajaan cat-ct bangkunya gitu. 

Untuk duduk-duduk cantik di sore hari, Taman Lapangan Banteng ini bisa menjadi referensi. 

 ***

Hasil kutipan dari jalan2.com:

Dalam konteks sejarahnya yang panjang ternyata kawasan ini sudah ada sejak masa Belanda. Kala itu, Belanda menamainya dengan Waterloo Plein (mungkin karena banyaknya ditumbuhi oleh pepohonan rindang yang mereka sebut dengan Waterloo Plein).

Namun demikian, penduduk sekitar taman tersebut kala itu malah menyebutnya dengan Taman Lapangan Singa karena ada patung yang berwujud singa yang berdiri dengan gagahnya di lapangan yang arealnya luas ini.

Waktu terus berjalan dan dinamika perpolitikan nasional juga terus mengalami perubahan yang signifikan. Dikala pemerintahan Indonesia membebaskan Irian Barat maka dibangunlah Monumen Pembebasan Irian Barat.

Dan sejak saat itulah kawasan ini kemudian berubah nama menjadi Taman Lapangan Banteng hingga kini.

***

Jadi, ada yang pernah ke Taman Lapangan Banteng?

R.I

Jangan Traveling!

Iya, ini kesimpulan yang saya dapatkan setelah pengalaman kurang menyenangkan saat traveling akhir pekan kemarin di Curug Bengkok Leuwi Hejo dan untungnya ini tidak mempengaruhi keseluruhan acara jalan-jalannya.

Jadi, ketika saya dan teman-teman sedang duduk santai di warung Curug Bengkok Leuwi Hejo, ada yang ngebuang sampah bungkus rokok sembarangan gitu! Doh itu ya bikin kaget dan miris.

Ada seorang teman yang menegur si pembuang sampah sembarangan itu. Teman saya negor dengan santai banget, “Itu sampah kenapa dibuang sembarangan?” Terus dijawab, “Ya elah…ini kan sampah kertas, bisa terurai.”

Saat mendengar itu saya shok! Bisa sih tapi itu makan waktu berapa belas tahun keleus!

“Yah gak gitulah. Kalo semua orang berpikiran sama kayak lo yang ada sampah di sini numpuk. Lo jangan mau jalan-jalannya doang dong!”

“Yawda sih…gak ada tempat sampah juga di sini…” – sambil celingak-celinguk nyari tempat sampah.

“Ya elaaaah…lo kan bisa bawa dulu. Ntar kalo ada tempat sampah baru dibuang.”

“Kotor! Lagian gak bakalan banjir lah di sini”

“Masukin tas lo lah. Tas lo gede ini. Selipin satu juga gak apa-apa.”

Akhirnya si pembuang sampah sembarangan itu pun memungut sampahnya lagi dan menyimpannya di tas.

***

Kesel gak?

Saya sih kesel banget!

Salut sama kegigihan teman saya yang negor dengan santai dan bisa membuat sampah terpungut lagi.

Terus ya, saya jadi ingat ketika saya ke Kupang sama bos saya. Saat itu, kami sedang di dalam mobil. Terus sopir sewaan membuang sampah teh kotak dari dalam mobil ke jalanan. Tahukah kamu apa yang bos saya lakukan?

Bos: “Eh A [sebut dia A, daripada Mawar, kan? Ini kan sopirnya laki-laki dibahas], itu kamu kenapa buang sampah sembarangan?

A: Hehehe…kan gak apa-apa, Bos!

Bos: Berhentikan mobilnya dan tolong pungut lagi sampah tersebut.

Mobil pun berhenti dan sopir tersebut ngambil lagi sampahnya dan dia pun cari tempat sampah terdekat.

***

Dari dua contoh di atas, coba deh…geleng-geleng kepala gak sih kalau sampai sekarang…masiiiiih aja ada orang yang harus kita ingatkan untuk membuang sampah di tempatnya. Kalau pun gak ada tempatnya, bisa kan masukin tas dulu atau tenteng aja dulu kek ya!

Pengin banget bilang, “Keponakan-keponakan saya aja tau kalau sampah itu harus dibuang di tempat sampah atau kantongin dulu sampai nemu tempat sampahnya”.

Balik lagi ke kejadian yang pertama.

Tadi si pembuang sampah sembarangan bilang “gak akan banjir di sana karena di sana air terjun?”

Nih dijawab secepatnya:

Foto: Ci Evi
Foto: Ci Evi

Teman-teman lihat ada warung kan di sisi sebelah kiri foto? Nah, itu lokasi kami duduk-duduk dan si pembuang sampah sembarangan sempat membuang sampah di dekat-dekat situ. Ini terjadi lebih kurang 2 jam setelah kami ngobrol itu.

Duduk santai…hujan gerimis….hujan deras…gerimis…terus kami sempat lanjut untuk ke air terjun yang lebih jauh lagi, eh pas sampai sana tiba-tiba gledek beberapa kali. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk lanjut turun dari air terjun dan mencari kamar mandi untuk berganti pakaian tapi beberapa teman lainnya memilih untuk berada di warung dulu. Eh, tidak disangka hujan semakin deras dan banjir pun datang!

Alhamdulillah teman-teman saya selamat semua. Wah, untuk cerita lengkapnya nanti deh, Insya Allah.

Kembali ke topik, kebayang gak kalau setengah dari pengunjung berpikiran yang sama, “Ah, sampah rokok doang.” atau “Sampah plastik doang! Kan gak ada tempat sampah!”

Ya elah…sorry nih ya kalau rada galak.

Kita protes kalau tempat wisata kotor. Kesel karena itu ngerusak hasil foto kita yang mau kita share di media sosial. Bilang kalau media asing terlalu menggembar-gemborkan sampah di Kuta saat foto sampah menjadi cover majalahnya. Tapi untuk naro sampah di tempatnya aja atau membawanya kembali pulang – at least sampai menemukan tempat sampah – kita enggan. Maunya tempat wisata yang bersih, indah, dan segar tapi pernah gak nanya ke diri sendiri, jangan-jangan kita, kebiasaan, dan pola pikir kita lah yang sebenarnya membuat rusak kebersihan tempat wisata. Beneran deh, I told you one think, if you not ready to clean up your trash, better you not traveling to anywhere!

Doh…please, change your mindset and behaviour! Gak susah kan buang sampah pada tempatnya? Gak kan?

Image from here

 

R.I

iTravel: Mataku Melihat Manado di 2010

Disclaimer: Tulisan ini merupakan tulisan lama yang saya edit sedikit dari blog sebelumnya.

Akhirnya, setelah melewati perjalanan selama lebih kurang 3 jam melalui udara, saya dan tim tiba di Manado pukul 9.30 WITA (artinya 8.30 WIB). Kami berangkat dari Jakarta tepat pukul 05.00 subuh. Tiada snack dari maskapai penerbangan membuat kami lapar, tentu saja, 3 jam tanpa asupan makanan. Oleh karena itu, setiba kami di Manado, sopir kami, yang sudah kami pesan 1 hari sebelumnya, mengantarkan kami ke sebuah restoran, yang katanya, menjual bubur Manado paling enak di Manado. Yummmy…kami pun tergoda.

Selama perjalanan, Pak Stevi (nama sopir kami) langsung bercerita mengenai Manado, keistimewaan dan kebanggaannya terhadap kota ini. Saat ia bercerita, saya pun langsung melahap semua pemandangan yang ada di depan mata. Bersih adalah kata yang paling tepat, menurut saya, untuk mengungkapkan kota Manado di awal perjalanan ini. Tiada sampah. Bersih. Beda dengan Jakarta. Manado tidak bising. Manado tidak hiruk pikuk, mungkin tahun lalu, Manado pikuk dengan segala persiapan World Ocean Summit. Selain itu, saya berpendapat bahwa Manado merupakan kota religius. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah gereja yang, (lagi…lagi) menurut saya, buanyuak sekali, dengan segala jenis ajaran Kristen. Yang saya baca di papan nama gereja, ada gereja Advent, Pantekosta, Katolik, Prostestan, dan aliran lainnya yang saya tidak saya ingat. Saya pun iseng menghitung jumlah gereja sejak saya keluar dari Bandara Sam Ratulangi hingga ke restoran “terenak” yang menjual Bubur Manado, jumlahnya 7 gereja. Jarak antar 1 gereja ke gereja lainnya pun tidak jauh, bahkan ada yang berhadap-hadapan. Analisa sederhana saya, penduduk mayoritas Manado beragama Nasrani. Hal ini mengingatkan saya dengan Kupang, yang penduduknya juga mayoritas Nasrani, tapi (seingat saya) jumlah gereja di Kupang tidak sebanyak di Manado.

Lima belas menit, kami habiskan di perjalanan sambil menahan lapar dan sungguh menantikan kelezatan bubur Manado. Setibanya kami di restoran, kami langsung memesan bubur Manado dan ayam mentega. Selama menunggu, Pak Stevi menjelaskan tiga jenis sambal Manado yang ada di meja kami. Menurut penjelasannya, orang Manado sangat suka pedas jadi hati-hati makan di Manado jika tidak bisa makan pedas. Saya, asli Padang, yakin bahwa saya bisa melahap makanan Manado, toh orang Padang juga suka pedas. Tidak lama, bubur kami pun tiba. Saya kaget luar biasa.

Muka ngantuk, lapar, dan kaget. :D
Muka ngantuk, lapar, dan kaget. 😀

Inilah akibat orang yang tidak suka mencari tahu makanan yang baru di luar Jakarta. Bubur Manado, bukan sekedar bubur. Bubur Manado adalah makanan yang terbuat dari sedikit nasi (benar-benar sedikit nasi…) yang sudah “lembek” tapi tidak selembek bubur biasanya, berkuah dan isi utama makanan ini adalah daun kemangi yang banyaaaaak sekali. Saya belum pernah makan daun kemangi sebanyak ini! Serius! Saya pun memberanikan diri makan bubur ini menggunakan sambal yang paling pedas di meja kami. Mmmm…tidak pedas. Tambah lagi sambalnya. Tidak pedas. Baiklah, saat itu saya yakin bahwa kepedasan masakan Manado masih bisa ditoleransi dengan lidah saya.

Makanan kami pun habis. Kami berkeringat tapiiii kami masih lapar (hahaha…yah porsi bubur ini belum mengenyangkan perut kami). Akhirnya kami berencana untuk istirahat sebentar di hotel dan kumpul lagi saat akan makan siang.

***

Ting….tong…waktu makan siang pun datang. Kami memutuskan untuk berkeliling Manado, mengingat tugas baru akan dikerjakan esok hari. Kami pun menuju Tondano. Di tengah perjalanan, kami melewati komplek perumahan Citraland, pemiliknya siapa lagi kalau bukan Ciputra. Komplek rumah yang mewah dan banyak patungnya. Salah satu patung di komplek itu adalah patung Yesus yang sangat tinggi. Belum pernah saya lihat di tempat lain. Dan di samping kiri belakang patung itu terlihat gunung tertinggi di Sulawesi Utara, Gunung Mamesa. Ketua tim saya, yang seorang Youtub-ers pun langung berinisiatif membuat video singkat mengenai patung ini. Setelah berfoto-foto kami pun melanjutkan perjalanan.

Tujuan kami selanjutnya adalah ke Desa Kombi. Pemandangan menarik di Kombi adalah banyaknya cengkeh yang sedang dijemur. Kata Pak Stevi, saat ini penduduk sedang panen cengkeh. Akhirnya ketua tim dan Pak Stevi pun bercerita tentang sejarah rempah-rempah, terutama cengkeh, di Manado yang harganya pernah sangat mahal di Era Orde Baru.

Kami pun singgah di sebuah rumah makan kecil, milik penduduk asli Manado, sukunya Minahasa. Kami memesan nasi kuning. Lagi…lagi dalam pikiran saya, yang mempunyai sedikit referensi makanan Indonesia, berpikir nasi kuning adalah nasi yang ada di Jakarta, yang biasa dimakan jika ada acara khusus. Ternyata oh ternyata, nasi kuning Manado beda dengan yang di Jakarta. Nasinya memang kuning. Lauknya terdiri dari ikan cakalang yang sudah disuwir halus, telur rebus, sambal (yang saya pikir sebelumnya tidak pedas), dan tempe. Saya pun makan dengan lahapnya menggunakan sambal, dan…pedas luar biasa! Nasi memang habis tapi tanpa menggunakan sambal! Menyerah!

Setelah menghabiskan makanan, perjalanan kami pun dilanjutkan ke Bukit Doa. Saya sendiri tidak mendapatkan penjelasan banyak mengenai tempat ini. Masuk ke sini, harus bayar. Pak Stevi hanya menjelaskan bahwa tempat ini biasa digunakan untuk outbond dan retreat. Katanya lagi, tempat ini layaknya Puncak Bogor. Mmm…yang saya rasakan, dingin, meskipun tadi di Manado panas. Tempat ini banyak pohon, kita dapat melihat Manado keseluruhan, dan ada beberapa orang yang sedang persiapan outbond.

Bukit Doa
Bukit Doa

Karena ketua tim saya harus bertemu dengan teman lamanya, kami pun menuju ke Gardenia di Tomohon. Sebuah penginapan mahal, yang katanya Pak Stevi (lagi…) biaya penginapan di sini Rp 1 juta/ malam. Kebanyakan ekspatriat yang menginap. Tentu saja, kami tidak berniat menginap di sini tapi kami hanya akan makan malam. Jangan tanya pemandangannya, luar biasa indah! Bunga-bunga yang tertata rapi dan ada papan nama di masing-masing bunga. (Kata Pak Stevi lagi…) Tomohon terkenal dengan bunga-bunganya yang indah. Saya percaya. Bunga-bunga tersebut indah sekali.

Flower

Flower-2

Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIT, perjalanan kami belumlah selesai. Kami pun harus bertemu klien dan makan malam dengannya. Akhirnya kami makan malam di sebuah restoran yang besar dan menjual makanan laut yang masih hidup, kami bisa memilih dengan sesuka hati bahan baku dan pengolahannya. Kami pun memesan udang, ikan, cumi-cumi dan kangkung (yang beda dengan kangkung di Jakarta. Di sini kangkungnya besar dan segarrrr banget). Makan kami, lahap!

Yummy!

***

Setelah mempubish ulang tulisan ini, kok ya jadi pengin makan sea food di Manado lagi ya? 😀

Oh ya, tahukah kamu bahwa di Manado ada joke yang sering dilempar masyarakat setempat, yaitu:

“Di Manado, apapun pasti dimakan! Kelelawar pun kami makan. Kaki empat semuanya kami makan, kecuali kaki meja.” 😀

R.I