iTravel

Tips Membuat Open Trip

Duile judulnya seakan-akan sudah pernah mengadakan open trip jutaan kali ya hahaha…tapi berhubung pernah jadi boleh lah ya bikin tulisan ini. 😀

Tapi sebelum membahas tentang tipsnya, teman-teman sudah tahu kan ya open trip itu apa? Sudah ada yang pernah coba?

Oke oke, jadi gini…

Open trip itu perjalanan yang dilakukan dengan teman-teman baru. Beneran baru. Karena biasanya berkenalan saat memutuskan untuk bergabung di perjalanan. Sekarang sudah banyak open trip semacam ini, biasanya dilakukan oleh para komunitas traveling dan dipublikasikan di media sosial. Landasan utama seseorang untuk bergabung di sebuah open trip adalah kepercayaan.  Jadi, para pembuat open trip sangat harus berusaha menjaga kepercayaan dari para membernya tuh.

Tips yang pertama untuk membuat open trip adalah pastikan bahwa kita tahu medan yang dituju. Survey is a must. Jangan sampai kita semangat banget ke Aceh tapi kita belum tahu ke sana naik apa, belum tahu ongkosnya berapa, dsb. Kecuali kalau memang dari awal jujur mengatakan bahwa belum pernah ke sana tapi bertujuan untuk berpetualang bersama. Kan ada tuh komunitas yang biasa berpetualang ke sana ke mari tanpa tahu lebih lengkap seluk beluk lokasi. Tidak salah dengan hal tersebut karena sudah diinfokan dari awal. 🙂

Kedua adalah punya kenalan yang bisa diandalkan selama di lokasi. Kenapa? Agar informasi detail tentang lokasi, yang belum tentu ada di internet, bisa kita dapatkan. Biasanya fungsi ini sangat terasa jika berada di desa terpencil, yang belum banyak dibahas di internet. Dan sangat memudahkan jika kita perlu tawar menawar harga dengan bahasa setempat.

Menjadi sosok yang komunikatif sangat diperlukan bagi teman-teman yang berniat membuat open trip. Coba bayangin, kalau kita nih tertarik ikut open trip ke sebuah negara, misalnya Thailand tapi Team Leader-nya tidak update menjelaskan kebutuhan kita selama di sana, atau tidak detail menjelaskan itinerary-nya, kan sebagai customer kita agak kurang nyaman. Nah, sosok Team Leader harus siap dihubungi kapan saja untuk ditanya-tanya itinerary, biaya, atau bahkan rekomendasi restoran selama di sana oleh customer. Meski suasana hati langsung kurang baik, tapi pelayanan harus tetap maksimal.

Selama di lokasi, pastikan itinerary berjalan semaksimal mungkin. Namanya perjalanan, tidak ada yang bisa memastikan tentang ketepatan acara. Terkadang tiba-tiba hujan, atau ban bocor, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya dapat saja terjadi. Jika hal yang di luar rencana terjadi, pastikan bahwa ada komunikasi yang lancar antara Team Leader dengan para member untuk meminamilisir complain.

Yang terakhir, siap dikritik. Seperti yang sering dikatakan Bunda Dorce, “Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT” maka kita sebagai manusia harus selalu siap dikritik. #aish. Lagian ya manalah kita mampu untuk selalu memuaskan keinginan tiap orang. Jadi, kalau tiba-tiba selama perjalanan ada aja keluhan dari member ya…bersabarlah Nak. Tanggapi dengan komunikasi yang sopan dan baik, jelaskan kondisinya seperti apa. Intinya: lakukan yang terbaik saja setiap kali melakukan open trip. 🙂

Lima tips ini semoga membantu ya bagi teman-teman yang berniat membuka open trip. Kalau pintar hitung sana-sini, biasanya dari open trip ini teman-teman bisa jalan-jalan tanpa harus mengeluarkan biaya lho. 😉

Satu lagi, selalu ingat untuk ajarkan “tempatkan sampah pada tempatnya” yow karena udah 2016 masa iya jalan-jalan masih aja ninggalin sampah di luar tempatnya. 😛

DSCN9590.JPG

See ya!

Deva

Advertisements
iTravel

Istana Pagaruyuang yang Maimbau

Jika tidak salah ingat, setelah 4 hari saya dan keluarga sibuk berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain, akhirnya kami memutuskan untuk berwisata keluar kampung. Hehehe…soalnya sudah hampir 10 tahun kami tidak pulang kampung, pasti banyak sekali sanak keluarga yang harus dikunjungi. Dari keluarga di Solok hingga ke Surian. Dari satu piring nasi ke piring nasi lagi. Masya Allah, saya jadi ingat reaksi teman-teman kantor saat saya masuk kembali setelah dari Padang, “Devaaa…kamu tembem banget!” Hehehe…salahkan setiap hidangan di depan mata yang rasanya sangat luar biasa! Sedikit selingan, saat di Padang, kami juga makan di restoran-restoran tapi ah, rasanya gak seenak buatan sanak keluarga sendiri. Mungkin karena cuaca yang dingin sehingga sehari saya bisa makan 4 kali dengan porsi yang banyak pula! 😀

Oke, kembali ke rencana berwisata.

Setelah browsing sana-sini dan bertanya jarak yang harus kami tempuh – kampung saya namanya Bukit Gumanti, yang letaknya jauh lah dari mana-mana sehingga masalah jarak harus sangat kami perhatikan – maka kami memutuskan untuk ke istana Pagaruyuang. Terpikat sekali dengan sejarah yang mengiringinya dan juga tergoda dengan Danau Singkarak yang akan kami lewati.

Sip, mari kita jalan.

Jalan dari rumah etek (re: tante) sekitar pukul 07.00 pagi dan perkiraan ya jam 11 insya Allah sudah tiba di lokasi. Dengan menggunakan 2 mobil, kami pun berangkat. Jalanan yang kami tempuh masya Allah berkelok-kelok tiada henti. Selain itu, driver yang kami sewa juga tidak kenal rem, kayaknya. Alhasil kakak dan keponakan-keponakan rada sedikit mabok ya.

IMG_9367
Dari generasi ke generasi. Biarpun lelah, yang penting eksis. 😀

Saya lupa berapa harga tiket yang harus dibayar. Yang saya ingat adalah pemandangan kali pertama di Istana tersebut. M E G A H!

Dan, rame.

Rame banget!

Ya…lebih kurang seperti di Taman Mini gitu jadinya…

IMG_9409

Mungkin dikarenakan jalanan yang berkelok-kelok tadi, sehingga semangat berkeliling istana Pagauruyuang agak sedikit kendor. Saya sih masih semangat tapi ya mau bagaimana kan ngikut yang mayoritas. 😀

Untuk masuk ke istana ini, tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Sehingga harus dititipkan. Kami pun bergantian masuk.

IMG_9377
Cantik ya ornamen interiornya. 🙂

Ternyata ada beberapa lantai di dalam Istana Pagaruyuang ini. Coba bayangkan, tangga yang kecil harus dilalui banyak orang.

IMG_9383
Sepakat ya kalau ini rame?

Agak sedikit kurang nyaman dan saat saya lihat wajah anggota keluarga yang lain, terlihat sekali kelelahannya. Ya sudah kami memutuskan tidak terlalu mengeksplore istana tersebut.

Setelah kami keluar dari istana, eh ternyata keponakan-keponakan lebih suka untuk bermain mobil-mobilan dong dan yang keponakan perempuan lebih suka naik kereta keliling istana. Yuk ah, tante ikut naik kereta aja. 😀

Saat berkeliling, ternyata tidak hanya 1 istana tapi juga ada istana-istana kecil lainnya.

IMG_9401

IMG_9405

IMG_9417

Sungguh disayangkan bahwa ada timbunan sampah di beberapa tempat yang pasti mengganggu kenyamanan wisatawan. 😦

***

Oh  iya, teman-teman sudah pernah dengar kan kalau istana ini pernah terbakar tahun 2007? Jadi sebenarnya Istana Pagaruyuang yang sekarang ini adalah replikanya saja tapi desain dan konstruksinya masih mempertahankan bentuk aslinya.

Lain kali mau ah balik lagi ke Istana Pagaruyuang ini. Rasanya sejarah Istana Pagaruyuang masih maimbau awak (re: maimbau=memanggil, awak=saya).

Sementara menunggu kesempatan ke sana lagi, teman-teman bisa mengenal sejarah Istana Pagaruyuang dari sini ya.

See you!

Deva

 

iTravel

Tiga Alasan Kenapa Suka Gojek

Sebagai masyarakat Jakarta yang kotanya sedang dibangun abis-abisan, kehadiran Gojek dengan tarifnya yang terjangkau benar-benar seperti oase di padang savana. Bayangkan saja perjalanan dari kantor ke rumah sekitar pukul 5 sore berhasil menghabiskan waktu selama 2 jam lebih. Yang niatnya pulang on time, berujung kepada pulang terlambat karena baru tiba pukul 7 malam. Kendaraan roda empat bukan lagi pilihan saya di jam pulang kantor, mau itu kendaraannya ber-AC atau tidak ber-AC. Intinya mah ya…sudah tidak kuat lah dengan macetnya Jakarta.
Nah makanya sejak ada Gojek, rasanya hidup lebih mudah aja. 😀
Pergi tidak perlu terlalu pagi dan pulang pun tidak perlu energi tambahan menghadapi jalanan. Eits, di sini udah pada tau lah ya Gojek itu apa?
Iya, Gojek yang saya maksud adalah layanan ojeg yang sistem transaksinya itu via aplikasi di smart phone dengan tarif yang tidak terlalu mahal – dan di promo ini tarifnya Rp 10.000 ke mana saja asal masih di bawah 25 km!
Dari sudut pandang customer (dan ini subjektif banget) yang berhasil membuat banyak customer puas dengan pelayanan Gojek adalah karena keramahan drivers nya. Coba bayangkan secanggih apapun sebuah terobosan armada transportasi jika drivernya tidak ramah, ya besar kemungkinan customer sulit terpuaskan. Teman saya bahkan pernah bilang bahwa driver Gojeknya itu ramah banget karena saat bertemu, langsung menyapa dengan santun bahkan saat sudah sampai tujuan, drivernya mengucapkan ‘Semoga sukses ya, Bu’. Rasanya…keramahan itu sih yang bikin customer ketagihan untuk menyewa jasa Gojek.
Yang kedua adalah interface Gojek di smartphone yang clean, elegan, dan mudah dipahami. Di smartphone saya ada dua aplikasi layanan transportasi, nah jika dibandingkan antar kedua aplikasi tersebut, saya lebih mudah memahami aplikasi Gojek.
Yang ketiga, fast response dari drivernya. Meski beberapa kali (menurut pengakuan drivernya) server sedang hang, ya…so far, saya masih cukup puaslah dengan fast response driversnya Gojek. Paling gak, saya hanya butuh waktu 3-5 menit menunggu untuk di-approved.
Apalagi ya?
Kalau kamu, ada komen gak tentang Gojek? 😀
o_19icm012rtkjd2o1bjfn0okida
Last but not least, semoga Gojek bisa lebih baik servicenya agar customer tetap menggunakan Gojek meski harga tidak lagi dalam masa promo.
See you!
Deva
iLearn, iTravel

iLearn; Keberkahan dalam Kebahagiaan

Semalam seorang sahabat mengirim sebuah pesan via WhatsApp:

A beautiful speech by Sundar Pichai – Google CEO

The cockroach theory for self development.

At a restaurant, a cockroach suddenly flew from somewhere and sat on a lady.

She started screaming out of fear.

With a panic stricken face and trembling voice, she started jumping, with both her hands desperately trying to get rid of the cockroach.

Her reaction was contagious, as everyone in her group also got panicky.

The lady finally managed to push the cockroach away, but.. it landed on another lady in the group.

Now, it was the turn of the other lady in the group to continue the drama.

The waiter rushed forward to their rescue.

In the relay of throwing, the cockroach next fell upon the waiter.

The waiter stood firm, composed himself and observed the behavior of the cockroach on his shirt.

When he was confident enough, he grabbed it with his fingers and threw it out of the restaurant.

Sipping my coffee and watching the amusement, the antenna of my mind picked up a few thoughts and started wondering, was the cockroach responsible for their histrionic behavior?

If so, then why was the waiter not disturbed?

He handled it near to perfection, without any chaos.

It is not the cockroach, but the inability of those people to handle the disturbance caused by the cockroach, that disturbed the ladies.

I realized that, it is not the shouting of my father or my boss or my wife that disturbs me, but it’s my inability to handle the disturbances caused by their shouting that disturbs me.

It’s not the traffic jams on the road that disturbs me, but my inability to handle the disturbance caused by the traffic jam that disturbs me.

More than the problem, it’s my reaction to the problem that creates chaos in my life.

Lessons learnt from the story:

I understood, I should not react in life.
I should always respond.

The women reacted, whereas the waiter responded.

Reactions are always instinctive whereas responses are always well thought of.

A beautiful way to understand…………LIFE.

Person who is HAPPY is not because Everything is RIGHT in his Life.

He is HAPPY because his Attitude towards Everything in his Life is Right.

Berasa seperti kena teguran gak sih? 😀

Pesan ini saya baca tidak lama setelah ngobrol lama dengan kakak saya. Kami sedang berdiskusi bagaimana seseorang bisa dengan tidak sadar menyebarkan aura negatif hanya dengan terus menerus mengeluh tentang hidupnya dan dipublikasikan via media sosial. Padahal ya dengan menyebarkan negativitas, masalah atau keluhan tersebut tidak terselesaikan.

Lagipula jika kebahagiaan dikejar bukankah tidak akan bisa diraih? Kebahagiaan itu diciptakan, kan? Dan dimulai dengan rasa syukur yang tiada bertepi.

Menurut saya, daripada mengejar kebahagiaan…akan lebih baik jika berkejar-kejaran meraih berkahNya. Ah, jadi ingat kutipan buku Lapis-Lapis Keberkahan “Salim A. Fillah”,

Bahagia adalah kata palin menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal menharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika dipikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilan jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Di denging telinga yang tak menyimak bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain berkilau cahaya.

Dan di paragraf lainnya,

Ialah lapis-lapis keberkahan. Mungkin bukan nikmat atau musibahnya, tapi syukur dan sabarnya. Bukan kaya atau miskinnya, tapi shadaqah dan doanya. Bukan sakit atau sehatnya, tapi dzikir dan tafakkurnya. Bukan sedikit atau banyaknya, tapi ridho dan qana’ahnya. Bukan tinggi atau rendahnya, tapi takziyah dan tawadhu’nya. Bukan kua atau lemahnya, tapi adab dan akhlaqnya. Bukan sempit atau lapangnya, tapi zuhud dan wara’nya. Bukan sukar atau mudahnya, tapi amal dan jihadnya. Bukan berat atau ringannya, tapi ikhlas dan tawakkalnya.

Semoga kita dipermudahNya untuk selalu bersyukur dan mencari berkah di dalam setiap peristiwa.

Semoga keberkahan juga diberikanNya kepada anak-anak ini yang sedang tafakkur alam di Tangkuban Parahu
Semoga keberkahan juga diberikanNya kepada anak-anak ini yang sedang tafakkur alam di Tangkuban Parahu

Jum’at Mubarok!

Deva

iTravel

Taman Lapangan Banteng

“Ini nama tamannya apa sih?” tanya saya saat berada di sebuah taman.

“Namanya Taman Lapangan Banteng.”

“Ooooh ini yang namanya Lapangan Banteng!”

Sebagai orang yang ngaku suka jalan, rasanya kok ya bisa gitu gak tahu yang namanya Taman Lapangan Banteng.

Jujur sih saya kagum dengan luasnya taman ini. Tahu gak luasnya berapa? 4,5 hektar! Ini juga tahunya dari Google. 

  

Sayang sih jika dibandingkan dengan Taman Ayodya, Taman Lapangan Banteng ini seperti kurang terawat. Meski ada beberapa petugas kebersihan yang saya lihat sedang bertugas. Kurang terawatnya tuh bukan karena kotor tapi lebih gak ada peremajaan cat-ct bangkunya gitu. 

Untuk duduk-duduk cantik di sore hari, Taman Lapangan Banteng ini bisa menjadi referensi. 

 ***

Hasil kutipan dari jalan2.com:

Dalam konteks sejarahnya yang panjang ternyata kawasan ini sudah ada sejak masa Belanda. Kala itu, Belanda menamainya dengan Waterloo Plein (mungkin karena banyaknya ditumbuhi oleh pepohonan rindang yang mereka sebut dengan Waterloo Plein).

Namun demikian, penduduk sekitar taman tersebut kala itu malah menyebutnya dengan Taman Lapangan Singa karena ada patung yang berwujud singa yang berdiri dengan gagahnya di lapangan yang arealnya luas ini.

Waktu terus berjalan dan dinamika perpolitikan nasional juga terus mengalami perubahan yang signifikan. Dikala pemerintahan Indonesia membebaskan Irian Barat maka dibangunlah Monumen Pembebasan Irian Barat.

Dan sejak saat itulah kawasan ini kemudian berubah nama menjadi Taman Lapangan Banteng hingga kini.

***

Jadi, ada yang pernah ke Taman Lapangan Banteng?

R.I