iLearn, Uncategorized

Think for The Best

“Jangan tutup pintu rejeki orang. Siapa tahu di sana ada berkah orang tersebut yang dititipkan ke kamu.”

Kalimat sederhana yang dikeluarkan oleh Tella semalam saat saya bercerita tentang rekomendasi nama untuk di tim saya, yang tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

“Coba aja dulu”.

Saya langsung merasa, “Eh iya benar juga. Siapa tahu memang ada berkah dia di tempat ini dan siapa tahu saya bisa menggali potensinya.”

Kadang ya…eh sering deng, pikiran negatif lebih cepat datang daripada pikiran positif. Rasanya kok ya lebih mudah berpikir kemungkinan terburuk daripada kemungkinan terbaik yang mungkin terjadi. Padahal di Al Quran sudah jelas bahwa ‘Allah sesuai prasangka umatNya.’

“Kamu percaya kalau pikiran negatif akan benar-benar terjadi jika kita terus memikirkannya?”

Dengan cepat, Tella mengangguk. “Percaya banget.”

 

Yeah…sering banget niat hati ingin berpikiran baik tapi yang keluar malah energi negatif. Mungkin ini saat yang tepat untuk piknik? Hahaha *buang kalendar yang udah gak jelas coretan sana sininya*

So yeah, apa kabar semuanya?

Sibuk menyiapkan diri untuk kemungkinan terbaik atau terburuk?

Deva

Advertisements
Uncategorized

Sakit Mata

Sekedar sharing aja 🙂

Kemarin saat terbangun, mata kanan saya sulit dibuka karena ternyata kotoran mata banyak sekali melekat di bulu mata. Masya Allah, rasanya ngeri jika tiba-tiba tidak lagi bisa melihat.

Saat di kantor, kotoran mata tetap keluar dengan jumlah di atas rata-rata. Sebagian teman menyadari ada yang berbeda dari mata saya. Alhasil ada yang menyarankan untuk membeli tetes mata yg herbal saja, yg sudah terbukti ampuh oleh mereka. Ada rasa terharu saat diperhatikan seperti itu. :’)

Saya pun juga tidak kalah khawatir dan risih dengan rasa sakit ini. Kali terakhir sakit mata adalah saat sekolah dasar, jika tidak salah ingat.

Saking tidak nyamannya, saya ijin pulang cepat. Demi beristirahat. Sesampainya di rumah, saya langsung meminta bantuan Mama untuk memeras daun sirih. Alhamdulillah, Allah Maha Baik ke saya. Ada Mama yg gesit dan ikhlas mengerjakannya. Ada sirih yg tumbuh subur di rumah. Masya Allah.

Singkat cerita, hari ini saya ke kantor menggunakan kacamata demi menghindari debu dan menjaga agar teman-teman kantor tdk tertular oleh penyakit mata ini. Sepanjang jalan ke kantor saya berpikir, tidaklah Allah beri kita sakit jika tidak ada alasannya. Pasti ada urusan orang lain yg bukan hak saya, tapi saya lihat. Pasti ada kezoliman yg saya lakukan dgn mata ini. Saat mata sehat, rasanya mata diacuhkan begitu saja. Merasa seperti “yawda sih mata doang”. Tapi ketika sakit, Allahu Akbar…baru terasa mata itu berharga sekali. Mata saya tdk terlalu besar, tapi Allah beri kenikmatan bisa melihat berbagai hal, sama seperti seseorang yg bentuk matanya lebih besar dari saya.

Jika sehat diacuhkan. Baru diperhatikan saat sakit. Dan menganggap bahwa melihat apa yg bukan hak kita adalah hal yg lumrah. Padahal mah ya bukankah Allah itu menilai sekecil apapun amal perbuatan kita.

Itu aja sharingnya. Semoga Allah selalu mengistiqomahkan diri kita di jalanNya. Mengampuni sebesar apapun dosa-dosa kita. Memberi barokah di setiap keputusan kita. Dan semoga kita pantas untuk berada di JannahNya. Aamiin…

Uncategorized

Hargai Privasi Orang Lain

So true. Asked permission and the willingness to join that group or not are two different thing.

😉

Catatan Kaki

KeyboardPrivacyButton650 foto dari SINI

I take privacy seriously.

Saat ini kita begitu familier dengan berbagai kanal komunikasi, salah satunya chat group, baik itu WhatsApp, Line, dan lainnya. Dari dulu saya merasa salah satu drawback dari WhatsApp adalah saat orang lain menambahkan nomor kita ke suatu grup, sistemnya tidak meminta konfirmasi kita terlebih dahulu apakah akan approve atau decline. Alih-alih sistem malah otomatis menambahkan kita ke grup.

View original post 288 more words

Uncategorized

Sate Djono yang Menggoda

Celingak-celinguk di sini.

Haloooo semuanya! Ada yang rindukah dengan tulisan Ransel Ijo? 😀

Seminggu berkarya di kantor baru berhasil membuat pikiran teralihkan dari blog. Alhamdulillah tempat baru ini berhasil memberikan semangat yang segar banget! 🙂

Oke, supaya Ransel Ijo tidak dicoret dari daftar travel blog, dengan segenap tenaga saya akan menulis ulasan…alah ulasan…apa ya, pengalaman makan Sate Djono di Benhil. Masuklah ya sebagai kategori iEat. :’)

Makan Sate Djono ini bermula dari kerinduan saya bertemu dengan Saad. Akhirnya karena Saad sedang ada di sekitar Petamburan, dipilihlah Benhil sebagai tempat pertemuan kami. Ya sebenarnya lebih kepada doyannya kami sama jajanan di Benhil sih yang memang belum mengecewakan. 

Sate Goreng Kambing

Lihat deh foto di atas. Namanya sate tapi tidak ada tusukannya. Kenapa? Karena harga tusukan sate mengalami inflasi, Kak. 

😀

Gak deng. Ya gak lah. Tapi karena ciri khas sate goreng ya kayak gitu. Jadi semula ini adalah sate kambing biasa yang telah diberi bumbu tapi digoreng lagi dan bumbunya makin meresap ke setiap irisan daging dan gajih kambing ini. Bayangkan betapa sudahnya hasil gorengan kambing ini kalau harus ditusuk lagi. *dibahas*

Udah deh daripada membayangkan betapa susahnya masukin daging di tusukannya, mendingan bayangkan gajih lemak kambing ini meleh di mulut! Rasanya? Beuh!!! Bikin saya dan Saad nyengir bahagia banget! 

Dagingnya karena telah diolah 2 kali jadi empuk banget. Kalau kurang pedas dengan bumbunya, tinggal minta cabe rawit aja ke waiter. Rasanya akan lebih nendang lagi. Doh! Nulis ini aja berhasil bikin cacing di perut demo!

Selain sate goreng kambing, ada apalagi?

Ada ini, Kak.

 

  

Gak lain gak bukan ya sate kambing! Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau dibandingkan dengan sate goreng kambing, saya lebih milih yang digoreng. Tapi siapalah yang mau dibandingkan. Begitu juga dengan menu di sini. #lah

Terus bagaimana dengan harganya? Jujur aja sih harganya lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan saya sebelumnya. Kira-kira untuk seporsi sate kambing dan sate gorengnya -yang tanpa tusuk satenya- *tetap dibahas •_• Rp 65ribuan. 

Apakah kami akan kembali lagi? Mmm kalau muka kami seperti ini kira-kira jawabannya apa?

  

Jelas doooong kami akan kembali lagi, Insya Allah. Apalagi kalau ditraktir. 😀

Nah ini alamat Sate Djononya:

Jl. Penjernihan 1 No 5B, Jakarta Pusat. 

Ntar share ya pengalaman kalian makan di sana. Atau mau traktir juga gak apa-apa. Hahaha teteup! 

See you!

R.I

Uncategorized

Morning Dew

The sweet reminder from Mbak Mikan.

Doh…I am so bad to write some short opening in the rebloged post. 😐

Just click the original post, readers!

riemikan

I recently came across Steve Harvey’s new book,”Act Like a Success Think Like a Success” (actually published in September 2014). I remember reading his first #1 New York Times bestseller, ” Act Like a Lady, Think Like a Man” which was a really good guidance for those single ladies waiting to find their plus one. The book helps women to be successful in love by sorting out characteristics and criteria that really matter to them in finding their life time partner. I really like the book because it is practical and told from a man’s perspective giving its female readers a powerful insight on what this species is really thinking when they say something 😀

With the same funny yet firm style, Steve gives warm and insightful voice in simple and easy language on how to succeed in life by defining your gift, perfecting it and riding it to success. I…

View original post 226 more words