Hidup Minimalis itu…

Gegara…

Image result for marie kondo
Source: konmari.com

Saya jadi benar-benar terinspirasi untuk hidup minimalis.

Ya meski masih dalam tahap pengenalan, tapi rasanya hidup minimalis itu juga bisa sangat berpengaruh terhadap pengendalian diri – yang ku rasa diperlukan di dunia yang sudah sangat bising ini.

Reaksi kali pertama setelah membaca ‘The Life – Changing Magic of Tidying Up” Marie Kondo, aku tutup buku berkali-kali, sambil melihat sekeliling “does this thing sparkling my joy or not?” 

Baca buku selesai, then what?

Dengan dibantu Mbak, saya beberes tumpukan barang di gudang rumah.

Dari mainan-mainan keponakan, baju tidak terpakai, buku-buku yang sudah lama tidak disentuh, berkas-berkas, dsb.

Saya juga melibatkan keponakan-keponakan tentunya, karena itu barang-barang mereka. Sambil berpesan: “Simpan barang yang memang benar-benar masih disukai dan dipakai. Kalo udah gak suka, ya buang aja atau kasih ke yang membutuhkan.”

Alhasil ketika itu (mungkin sekitar) 5 trash bag jumbo dipindah tangankan ke yang membutuhkan.

Rasanya?

Plong.

Oh jadi ini ya rasanya, menyeleksi barang, bukan hanya dari segi: masih dipakai atau tidak, tapi apakah jika menggunakan barang ini, am I happy or not.

Cara berpikir ini akhirnya sangat berpengaruh terhadap cara berbelanja.

Mungkin dulu, alasan -misal- beli baju. Cuma karena “ih lucu ya!” atau “eh warna ini lagi ngetrend”, or so on.

Tapi kalau sekarang, pelan-pelan memilih barang yang memang akan bikin happy saat menggunakannya.

Bukan hanya sekedar melihat fungsi, tapi juga melibatkan rasa.

Lalu, dari Marie Kondo, saya juga belajar sedikit-sedikit tentang hidup minimalis dari IG Mbak Atiit. 

Pertama, mengenai how to packing nicely, terus berlanjut ke quality time dengan keluarga atau diri sendiri, dan akhirnya kebawa aja gitu lihat-lihat youtube tentang minimalist living.

Dari mereka, saya belajar untuk menyeleksi barang-barang (lagi) di kamar.

Misalnya, setelah beli 1 baju, maka dilatih untuk mengeluarkan 1 baju yang sudah tidak sparkling joy lagi buat saya. Terus…aja kayak gitu. Berlanjut ke buku dan ke tas.

Masya Allah, when you can let them go, eh Allah ngasih lagi tuh rejeki untuk mengganti barang-barang tersebut dengan kualitas yang lebih baik. Rejeki mah ya datang aja dari segala sudut. Asal ya lurusin niat, insya Allah.

Puncaknya sih pas kemarin pindahan rumah.

Tidak mudah lho pindahan rumah itu (hehe…)

Mungkin barang-barang diri sendiri mudah untuk kita seleksi tapi bagaimana dengan barang keluarga?

Seperti lemari yang sudah belasan tahun dimiliki, barang-barang dapur yang bagi orang tua kita itu penting, tas-tas yang “ah masih cakep kok, dipake kalo pergi”, dsb.

Padahal ndak dipakai.

Syukurlah ketika itu, pendapatku dikuatkan oleh kakak-kakak yang lain.

Jadi ada bala bantuan dalam hal penjelasan ke orang tua. Hasilnya?

Rumah yang sekarang hanya diisi barang-barang yang kami sukai dan itu berdampak banget kepada suasana hati. Alhamdulillah 🙂

Dengan adanya space yang kosong, jadi merasa terpacu untuk mengisinya dengan barang-barang yang kita sukai saja dan tepat akan fungsinya, bukan sekedar: ih beli itu kan lagi tren.

Perlahan, hal ini juga mengajari saya untuk: menyeleksi apa yang harusnya dipikirkan, dan yang mana yang tidak perlu dipikirkan.

Choose your battle wisely.

Karena kita sudah memilih dengan kesadaran, maka harus terima konsekuensinya dengan sadar pula.

Kalau kamu, tertarik ndak dengan konsep minimalis? Jika iya, share dong pendapatmu, atau tips dan triknya. 😉

14 thoughts on “Hidup Minimalis itu…

  1. Aku udah baca si konmarie itu, huehehe.. tapi nerapinnya masih magerrr.. kalau aku cuma lihat barang yang kupunya, rasanya semunya menyenangkan dan butuh.. lalu aku tulisin (kayak inventaris gitu), akhirnya baru berasa banyaknya.. hanya beberapa yang dieliminasi, tapi setiap mupeng sesuatu lalu lihat list itu, ternyata udah punya banyak dan tinggal beneran pakai apa yang sudah dipuna aja..

    Like

  2. Ah suka Dev dengan “beli 1 baju, 1 baju di rumah harus keluar”. Bikin hemat tempat juga! Kemarin aku juga ada membuang sebagian pakaian yang sudah lama banget dan nggak pernah dipakai, tapi tetap aja aku rasa banyaknya masih agak “kurang” sehingga lemari masih terasa lumayan penuh, hahaha 😆

    Like

  3. Aku masih semangat decluttering meski klo minimalist living sih masih jauh ya. Yg penting decluttering nya beres dulu— selanjutnya bagaimana? “Ya nanti kita komunikasikan lagi,” – Vicky Prasetyo.

    Like

      1. Aku declutering abis2an pas kmrn pindahan rumah. Wah itu perjuangan banget, Mem. Mudah2an kita bisa istiqomah memilih dan memilah agar hidup makin enteng 😍

        Like

      2. Aamiin ya Rabb. Ya bener, momen pindahah itu memang benar2 momen yg menguras energi tp juga one of the very best moment unt decluttering. Apalagi klo pindah ke space yg lbh kecil.

        Liked by 1 person

  4. Berhubung apartemen kami kecil, kami hidup minimalis. Kok ya pas aku mau nulis soal ini pas kamu udah nulis. Nanti kalau aku nulis juga jangan dibilang menjiplak ya ehehehe….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s