iLearn

Support Group

Support group tidak melulu identik dengan komunitas atau perkumpulan di sebuah organisasi – bagi saya. Tapi support group lebih dimaksudkan dua atau sekelompok orang yang mendukung seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan segala bakat, kemampuan, dan cita-cita yang dimilikinya.

Sound so serious? πŸ˜€

Gini, saya ini suka banget nulis. Suka banget! Banget suka! Whatever.

Tapi…ada masa di mana saya merasa malas banget buka laptop untuk sekedar nulis hal-hal random. Bahkan saya juga pernah berada di masa malas nulis, malas baca, malas ngapa-ngapain. All that I did just staring at my phone to chat, to talk with friends – yang mana biasanya penuh dengan isi curhat.

Sampai akhirnya blog sempat tidak saya buka-buka lagi. Media sosial juga tidak saya buka lagi. Buku, apalagi. Gak ada bacaan yang saya baca. Kelam banget.

Di masa-masa itu, ada beberapa teman yang mengirimkan pesan singkat ke saya, “Lo apa kabar Dev?” Dan saya jawab, “Baik”. Terus teman saya kirim lagi balasan, “Yakin baik? Kok blog gak pernah ditulis lagi? Lo kenapa?”

Waktu membaca pesan tersebut, saya tersenyum.

Jujur saat itu saya ngerasa kayak artis yang dirindukan fansnya, halah! Padahal isi blog juga gak penting-penting banget! Tapi ditanya seperti itu, saya sungguh merasa dihargai.

“Iya, lagi malas nulis euy,” jawab saya singkat.

Teman saya balas lagi, “Pantes! Ada apa?”

Apakah saya melanjutkan pesan tersebut? Ya gak.

I am an extrovert person tapi ada beberapa hal yang saya pilih untuk tidak ditulis di blog. Ada hal yang memang hanya saya dan orang-orang terdekat saja yang perlu tahu.

Ketika di masa-masa “tidak mau menulis”, sahabat saya pun seakan cemas dengan kondisi saya, sampai bilang, “Dev, lo nulis karena itu sanctuary lo. Come on, nulis lagi. Let your fingers dancing in the keyboard, like yesterday.”

Nyes banget digituin. Nyes banget sama kata-kata itu. Nyes banget sama spirit yang hendak dimasukkan ke nurani saya.

Kenapa tiba-tiba saya nulis seperti ini?

Karena oh karena…pagi ini saya disuntikkan lagi oleh seorang sahabat, yang selaluuuuu mendukung passion menulis saya. Dan Allah tuch keren banget lah! Saya dipertemukan oleh lingkungan yang tahu saya suka nulis dan mereka mendukung saya untuk nulis.

Write your future wisely - @ranselijo's IG
Write your future wisely – @ranselijo‘s IG

Bayangin aja, tadi saya lagi kepanasan nunggu bis. Lama banget bis itu datang, tumben pisan. Lagi kipas-kipas, eh ada pesan yang masuk ke ponsel saya.

“Gw selalu yakin dech someday we’ll go to Europe or somewhere over the rainbow beduaan. Free because your writing. *deep pray* So, keep writing ya, Dev. Apapun yang kamu hadapi.”

NYES PARAH!!!

I don’t need to write your name in here. ‘Coz you know who you are, mate! πŸ˜€

Berasa kan senangnya kayak apa didukung gitu? πŸ˜€

Munculnya blog ini juga sebenarnya karenaΒ mau mulai lebih serius lagi dalam dunia per-blog-an. Blog yang dulu juga serius sich, tapi pengen punya rumah baru aja. Nah, saat memutuskan untuk membeli domain ini pun maju mundur. Mundurnya lebih ke alasan: gak punya kartu kredit. Hahahaha…tapi akhirnya nyoba ngomong sama kakak yang punya kartu kredit, akhirnya tanpa banyak ditanya-tanya, dia langsung iyain untuk urus pembayaran domain ini. Kerenlah kakak saya, mah!

Balik lagi ke awal tulisan ini.

Buat siapapun yang mempunyai cita-cita, punya bakat dan keterampilan yang ingin selalu diasah, rasanya kamu perlu untuk punya support group agar langkahmu mencapai cita-cita bisa lebih ringan. Perjalanan pastiΒ akan ada riaknya, tapi dengan adanya support group maka akan ada yang selalu mendukung, baik dengan kritik maupun nasihat. Semangat! πŸ˜€

Dan jika kamu sudah berhasil di titik atas, maka sadarilah bahwa ada banyak nama yang selalu mendoakan keberhasilanmu, tanpa pernah sekalipun kamu minta. πŸ˜‰

R.I

Advertisements

24 thoughts on “Support Group”

      1. Mungkin karena sebelumnya udah ada yang pernah nulis topik sama πŸ™‚
        Coba beli majalah yang pengen dituju, trus baca daftar redaksi. Biasanya di situ ada alamat email editor. Nah email-emailan sama editor, tanya kalo topik X udah pernah ditulis atau belum. Kalo belum, tawarin diri buat nulis. Trus sesuaikan gaya bahasa tulisan kamu dengan gaya bahasa majalahnya, jangan lupa kiriman fotonya harus resolusi tinggi semua. Pasti someday ada yang nyangkut. FYI, majalah itu paling suka kok kalo ada kontributor yang penulisannya bagus dan nggak perlu banyak editan, soalnya jatah kerjaan nulis redaksinya kan jadi berkurang hahaha

        Liked by 1 person

      2. Wah…terima kasih untuk tipsnya, Mbak Amel! πŸ˜€

        Iya, waktu itu kan aku mau nulis untuk majalah travelling. Terus aku beli majalahnya, aku pelajarin gaya nulisnya. Nah, ada satu rubrik yang menyediakan tempat untuk para blogger. Aku kirim, belum ditayangin.

        Sarannya Mbak Amel untuk kirim email ke Editor, boleh juga dicoba. Thanks again, Mbak Amel. *ketjup*

        Liked by 1 person

      3. Iyaaa… karena kalo majalah kan nggak bisa nampilin cerita tempat yang sama kalo di beberapa edisi sebelumnya udah pernah. Sementara kalo kita nggak langganan majalahnya kan mana tau ya, tempatnya udah pernah dibahas atau belum. Jadi paling gampang ya tanya aja dulu ke editornya πŸ™‚
        Selamat mencoba Devaaaa… IMO, nembus majalah traveling agak susah kalo ceritanya kurang mendalam. Coba ke majalah lifestyle aja dulu, karena penulisannya biasanya nggak perlu terlalu dalam asal foto-fotonya bagus cenderung diterima πŸ™‚

        Liked by 1 person

      4. Yang di bawah-bawahnya aja. Misalnya redaktur pelaksana atau redaktur feature. Atauuu, tanya via twitter, kalo mau kirim artikel ke mana. Biasanya ada alamat email khusus gitu, meski menurutku paling cepet ya kalo langsung kirim email japri ke penanggung jawab rubrik travelingnya ya. Kalo info di majalahnya kurang kelas, coba aja telpon redaksinya, trus minta alamat email yang bersangkutan.

        Liked by 1 person

  1. kata “siapa tahu lho nanti …. ” itu sangat berharga sekali. Apalagi mereka-mereka yang setiap hari selalu optimis dengan kehidupan yang penuh perjuangan ini. Terus menulis ya. Kirim-kirim saja, nanti kalau sudah 50 artikel dikirim dan ditolak semua, langsung bisa dibendel jadi buku sendiri.

    Like

    1. Huaaaa…terima kasih supportnya Bang Mandor!
      Dulu ya *sekedar cerita2 aja* berniat blog itu dijadiin buku, udah dipilih2 nich beberapa tulisan eh ampe sekarang malah belum diapa-apain. πŸ˜€

      Like

  2. Iya Dev, setuju banget. Namanya juga manusia ya sehingga apa pun yg ia lakukan/kerjakan nggak melulu 100% soalnya pekerjaannya itu, ia juga butuh bantuan/dukungan moral dari manusia-manusia lainnya. Maklum, manusia kan bukan mesin/robot. Padahal kalau dipikir2, mesin/robot juga butuh maintenance kan di samping pekerjaan/fungsi utama mereka, hehehehe πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s