Labelling

Ada gak di sini yang pernah merasa insecure karena penilaian orang lain terhadap diri sendiri?

Merasa bahwa: kok bisa sih mereka mikir aku kayak gitu? Jahat banget!

Atau merasa bahwa apa yang dilakukan sudah benar, tapi dinilai berbeda oleh orang lain. Alih-alih mengklarifikasi ke kita, mereka justru menjustifikasi negatif dengan mudahnya. Kemudian pelan-pelan berpikir: apa iya kali ya aku kayak yang mereka bilang?

Lambat laun memercayai label negatif yang orang sematkan ke kita.

Label yang awalnya tidak kita percayai.

Lalu, semalam menemukan twit Mufti Menk ini:

Never allow people who use words so irresponsibly to sabotage your self-image! – Mufti Menk

Menurut saya, yang sangat mengetahui diri sendiri ya kita sendiri. Benar, ada orang-orang terdekat yang juga mengenal kita. Penilaian mereka penting ndak? Penting, untuk kamu terus upgrade kualitas diri dan disampaikan dengan cara yang bijak. Tapi jika yang menilai buruk dirimu adalah orang di luar circle A1-mu, lalu dengan cara yang tidak arif – untuk apa dipikirkan?

Begini, orang bebas berbicara apapun tentangmu.

Tapi kamu juga bebas merespon hal tersebut.

Jangan semua penilaian orang, terutama yang sekiranya bisa mengecilkan valuemu, didengarkan. Namun, jika penilaian tersebut juga disematkan oleh orang terdekatmu, bisa jadi memang hal tersebut perlu dikoreksi dari dirimu.

Dan bagi yang terbiasa menilai orang: stop it!

Berhentilah menilai orang, berasumsi dengan karakter orang. Apalagi jika tidak terlalu mengenalnya. Tahan semua penilaian ke orang lain. Karena kamu tidak tahu apa dampak dari kata-katamu. Pernah terpikirkah bahwa kata-kata itu bisa membuat seseorang depresi?

Kita tidak pernah tahu secara pasti apa saja yang sudah dilalui seseorang. Sedekat apapun kita. Kenapa? Karena bukan kita yang menjalaninya. Bisa dari luar, mereka baik-baik saja. Tapi siapa yang bisa menebak isi hati orang lain?

Semoga kita dimudahkan Allah untuk mengamalkan hadist:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Dan bagi yang saat ini sedang berjuang untuk kembali memercayai valuemu lebih baik dari penilaian yang orang sematkan ke dirimu, “Kamu lah yang paling mengenal dirimu sendiri dan teruslah berusaha menjadi orang yang disukai Allah. Bukan disukai mahluk.”

L

Legacy

Hidup tuh gitu ya, ups and down.

Di waktu yang gak bisa kita tebak, prediksi dan asumsikan.

Tiba-tiba, langsung saja terjadi.

Seperti kemarin, mendengar kabar yang tidak menyenangkan.

Merasa bahwa: berat untuk dijalani.

Kemudian setelah tenang, mencoba melanjutkan kegiatan seperti biasanya. Lalu terucaplah: “Ya, kalo aku sih mikirnya legacy apa yang ingin kita tinggalkan di dunia ini, bagi orang-orang yang akan nerusin langkah kita ini” – ucap seorang partner kerja, yang memang sedang dalam ranah diskusi pekerjaan.

I mean – saya lagi gak minta dinasihati, memang benar-benar fokus kerja, lalu tetiba ada kata-kata itu yang pas sekali dengan kesedihan sebelumnya.

Saya langsung mikir: “Apa ini cara Allah ngasih tau saya sesuatu ya? Membuat saya sadar bahwa kita ndak bisa hanya berfokus ke satu puzzle, ke goal yang dekat. Tapi perlu sering-sering mengingatkan diri kepada goal yang lebih jauh dan utama.

Kalau kamu pernah ndak merasa Allah bicara dengan cara yang unik?

L

Si Extrovert dan Pandemi

Pastinya ini tidak mewakili para ekstrovert di seluruh dunia. Ini hanya mengenai si extrovert, yang punya blog ranselijo.com saja🙃

Bulan ke berapa sih pandemi ini?

Bulan ke-7 ya?

Alhamdulillah fisik sehat, jiwa psikologi dan nalar diusahakan untuk selalu sehat karena harus yakin bahwa fase yang sedang dilalui saat ini adalah ketetapan yang terbaik dari Allah.

Apakah langsung nrimo?

Oh tentu tydac.

Ada masa muncul pertanyaan: separah ini ya?

Tapi alhamdulillah dipertemukan di momen dan orang-orang sholih dan sholihah yang selalu mengingatkan bahwa “apapun yang dari Allah, pasti baik”.

Di awal pandemi, saya pernah menulis mengenai hal serupa saat 2 bulan #dirumahaja.

Dan layaknya dunia saat ini, ada aja situasi di kantor yang membuat diri menghela nafas. Alhamdulillah saya masih bisa terus berkontribusi di kantor.

Pastinya ada beberapa bidang pekerjaan yang belum bisa running dulu, yaitu travel agent di kantor. Namun alhamdulillah ada usaha lain yang bisa dikerjakan dan cukup menghasilkan, semoga juga bermanfaat bagi pendapatan tim, yaitu membuat berbagai macam pelatihan online, diawali dengan english course, kemudian arabic course, coding class, dan sebagainya.

Doain ya agar Allah ridho dan berkahi. Aamiin…

Karena alhamdulillah banyak hal yang dikerjakan, sisi ekstrovert saya tidak banyak mengeluh. Bahkan bisa dibilang ada beberapa momen ya saya pengennya sendirian aja. Di kamar, bikin ini itu. Apakah saya sudah beralih menjadi ambivert ya? Hmm…

ranselijo.comSemoga kita bisa kembali makan di luar dengan aman ya

Apalagi ya yang mau diceritain?

Pelan-pelan ya akan kembali menulis di sini.

Semoga bermanfaat!

Ladeva