Lebaran yang Tidak Biasa

Malam takbiran, rumah sudah rapi. Makanan sudah siap untuk disantap saat hari Raya.

Tapi memang manusia hanya bisa berencana.

Pukul 3 dini hari, sepupu menelepon. Mengabari bahwa rumah mereka kebakaran. Dan salah satu sepupu saya (mereka kembar) menjadi korbannya. Dijelaskan terkena di kaki dan pinggang. Hanya itu saja.

Tapi hati udah langsung mikir, “I need to check it directly. Gak bisa nunggu subuh. Gak bisa nanti. Harus sekarang ke RS!”

Dan pukul 4 dini hari, saya ditemani abang ke RS. Saya bertemu sepupu saya yang sedang dirawat. Sedih, kaget, pedih banget lihat luka-luka itu di sekujur tubuhnya. Mengerikan.

“Cipa, kalau mau nangis keluar aja ya. Dicki gak tahan lihat Cipa nangis,” he said.

Sebagai context, mereka itu dari bayi bersama saya dan keluarga. Jadi bukan “sekedar” sepupu tapi benar-benar udah kayak adik kandung. Luka di mereka, pedih di saya.

Akhirnya saya coba tahan air mata dan fokus ke kondisinya.

Perlahan ditangani oleh pihak RS.

Ada 7 korban atas peristiwa tersebut, yang disebabkan karena gas kompor yang meledak. Qadarallahu wa ma sha’a fa’ala.

Jadi, lebaran hari pertama dihabiskan oleh saya dan keluarga besar ya di RS. Satu per satu datang. Keluarga di Padang pun turut memantau kejadian ini.

Tidak ada yang menyangka bahwa kami harus mengalami ini di hari Raya. Di saat media sosial penuh dengan berita kebahagiaan. Allah pasti punya rencana terbaik atas hal ini.

Yang membuat semakin pedih adalah hampir tepat setahun lalu, tante saya (ibu dari sepupu kembar ini) wafat di RS ini. Terbayang kan pedihnya bagaimana? Mereka piatu dan mengalami fase kebakaran seperti ini, di hari Raya. Allah…

Tapi ya memang inilah fase yang harus saya dan keluarga lewati.

Alhamdulillah di hari ke 4 ini, kondisi Dicki sudah semakin baik. Sudah selesai dioperasi dan mulai diterapi untuk bisa kembali jalan. Alhamdulillah penanganan RS Yarsi sangat baik dan memuaskan. Oiya, sebelumnya dia dirawat di RS Omni Pulogadung, lalu dirujuk ke RS Yarsi karena di RS Omni belum ada fasilitas untuk korban kebakaran yang mumpuni.

Di masa pandemi ini, pengunjung belum bisa seperti dulu. Jadi hanya boleh 1 pengunjung dan itu pun harus test antigen. Tidak boleh bergantian. Jadi kami hanya bisa melihat dari video call.

Dokter bilang bahwa butuh kurang lebih 2 pekan dirawat di RS.

Setiap kali saya melihat mereka, saya benar-benar berdoa agar Allah beri mereka kekuatan untuk menjalani ini semua. Jika saya di posisi mereka saat berusia 19 tahun, gak yakin bisa kuat.

Tapi akhirnya kita harus yakin bahwa gak mungkin ada musibah yang meleset dari pantauan Allah. Semua pasti sudah terukur secara persisi. Saat ini kita belum paham maknanya apa, tapi suatu saat pasti bisa memahaminya.

Surrender.

Deva