Musibah; Haruskah Membuat Kita Menjauh dariNya?

Mengawali tulisan ini, karena kemarin baru saja alhamdulillah kita memasuki Idulfitri 1441 H, mari saling bermaaf-maafan 🙂

Taqaballahu minna wa minkum. Minal Aidzin Wal Faidzin ya semuanya 🙂

Semoga Allah berkenan mempertemukan kita di bulan Ramadhan tahun depan dengan kondisi yang lebih baik lagi. Aamiin…

Di pekan ketiga kelas Martikulasi Nouman Ali Khan Indonesia, kami diminta untuk summary 3 video di 1 tulisan. So, let’s start.

Bismillah…

Selama membaca tulisan ini, Sahabat bisa klik 3 video yang terdapat dalam pembahasan ini ya 🙂

Nouman Ali Khan – ‘Juz 28 – Mengapa Musibah Menimpaku?

Nouman Ali Khan – ‘Juz 20 – Menyembuhkan Hati Yang Terluka’

Nouman Ali Khan – ‘Juz 17 – Orang Yang Paling Merugi’

Bagaimana? Sudah klik video-videonya? Masyaa Allah ya, kalau bicara tentang musibah, siapa sih ya yang gak pernah melewati fase tersebut.

Dalam video pertama, Ustadz NAK memulainya dengan membahas QS At Taghabuun; 11

Source: https://tafsirweb.com/

Di dalam ayat ini, tertulis kata “musibah” dari bahasa arab yang artinya bencana.

Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah.

Renungi deh…

Ketika mendengar ini, suara hati seperti berbisik: Iya, sebagai orang beriman, harus percaya – meski mungkin di hantaman pertama ada rasa sedihnya. Tapi, coba deh dengerin penjelasan Ustadz NAK selanjutnya di video ini.

Kata “musibah” berasal dari kata “asaba” yang dalam bahasa arab berarti “mentargetkan”.

Dari penjelasan ini, Allah ingin mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, apapun – bener-bener apapun, tanpa kecuali, segalanya memang sudah terukur, terarah dan diperuntukkan untuk kita, bukan untuk orang lain. Dan musibah itu, tidak melulu hal yang buruk, tapi memang sesuatu yang Allah inginkan terjadi kepada kita, bukan kepada orang lain.

Dan kalimat selanjutnya di dalam ayat di atas adalah “…dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya…”

Berasa gak getarannya? 🙂

Jika di hati kita percaya kepada Allah, atas apapun musibah yang Allah berikan kepada kita, Allah akan kasih hadiah – yaitu: hati kita akan selalu dibimbing Allah. Indah banget kan?

Kebayang gak sih kalau hati kita selalu dibimbing Allah? Semua keputusan kita maka akan baik, jika di dalam hati kita selalu meletakkan Allah di prioritas utama.

Contohnya kayak gimana, Dep?

Yuk, klik video ke-2. Ustadz langsung ambil contoh QS Al Qashash; 10

Source: https://tafsirweb.com/

Inhale exhale…

Bagi saya, mendengar kisah Nabi Musa selalu meninggalkan kesan yang luar biasa. Kisahnya seakan tidak pernah habis untuk digali hikmahnya. Masyaa Allah. Kali ini, di QS Al Qashash ayat 10, Allah ingin kita mengambil contoh kisah Ibunda Nabi Musa yang ketika Nabi Musa lahir, harus diletakkan ke air dan membuatnya jauh dari sang ibu, sebagai salah satu solusi agar bayi Musa tidak dibunuh oleh Firaun. 😦

Bayangkan perasaan Ibunda Nabi Musa.

Dan itu lah yang menjadi bridging hikmah kali ini. Bahwasanya setiap orang pasti pernah mengalami musibah yang berat sekali hingga meninggalkan trauma di hati, seperti kehilangan orang yang dicintai, luka karena sikap dan perbuatan orang lain, dsb.

Namun, di saat fase ini terjadi kepada kita, hati kita harus terus percaya bahwa ada Allah, beriman kepada ketetapanNya. Karena di situlah kuncinya, kunci pertolongan Allah. Seperti yakinnya ibunda Nabi Musa untuk meletakkan bayi Musa ke air, yang belum jelas nih akan aman atau tidak. Tapi karena beliau yakin sepenuhnya ke Allah (diberikan petunjuk dari Allah di hati Ibunda Nabi Musa) maka lihatlah betapa dahsyatnya kisah-kisah Nabi Musa. 🙂

Keyakinan kepada Allah itu memang terkadang terasanya ya di hati. Tetiba yakin aja mau ambil keputusan itu sembari terus bertawakal dan berdoa kepada Allah.

Karena jika Allah tidak ikut campur untuk menenangkan hati kita dalam menghadapi masalah, lalu bagaimana caranya hati kita akan tenang?

Dan memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada yang ketika ditimpa musibah, justru membuatnya jauh dari Allah.

Penjelasan tersebut ada di video ke-3, mengenai QS Al Hajj; 11:

Source: https://tafsirweb.com/

Ayat ini menceritakan tentang seseorang yang mau masuk Islam, hanya jika ajaran tersebut nyaman baginya. Misal ia dapat sesuatu yang baik, ia senang dan berucap Alhamdulillah, namun sebaliknya jika sedang ditimpa musibah, ia justru mempertanyakan: kenapa Allah lakuin ini ke saya? Saya gak butuh agama ini!

Na’udzubillah…

Jenis orang-orang tersebutlah yang Allah sebutkan sebagai manusia yang merugi di dunia dan di akhirat.

😦

Jika sedang ditimpa musibah, lalu kita berpaling dari Allah maka itu bukanlah keimanan.

Ustadz Nouman Ali Khan

Makanya sangat penting ya bagi kita – mahluk yang lemah ini untuk selalu berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
HR. Tirmidzi no. 3522

Menonton 3 video di atas membuat saya meyakini bahwa belajar untuk selalu meyakini Allah dan ketetapanNya adalah life learning process. Bagaimana caranya kita untuk selalu meningkatkan keimanan kepada Allah – apapun kondisinya. Karena beneran deh, ketika ada musibah dan hati langsung kosong, maka mudah bagi setan untuk membisiki nurani kita dengan hal-hal yang negatif.

Terus gimana dong kalo ada musibah?

Pasti sulit, namun coba rasakan saja dulu perasaan sedihnya, marahnya. Rasakan sambil terus ingat bahwa Allah itu melihat dan sungguh mengetahui apa yang kita rasakan. Allah itu ada. Dan musibah apapun yang terjadi pada diri kita, tidak mengurangi sedikitpun mengenai kasih sayangNya kepada kita semua. 🙂

Bukankah apa yang kita miliki saat ini, sejatinya semua adalah milik Allah?

Life learning process. Ketika hati terus merintih berdoa padaNya, kelak pasti pertolongan akan datang di waktu yang tepat. 🙂

Source: quotefancy.com

Terus berdoa dan mohon ampun padaNya ya. 🙂

Ladeva