Jelang Akhir 2019

Sudah sejauh apa dream list kamu tercapai?

Buatku, 9 bulan di 2019 ini berjalan sangat cepat. Tau-tau sudah September 2019. Sebentar lagi Desember 2019.

Kalo hitungan kalendar Hijriah sih, baru bulan lalu kami merayakan tahun baru Islam.

Nah, oleh karena itu, aku kepikir untuk re-design dream listku.

DREAM LIST 2019

Saat tadi re-design dream list di Trello (ada yang pake Trello juga gak, duhai teman blogku…), aku mikir: ada gak ya yang sungguh-sungguh membuat dream list dan ikhtiar maksimal untuk mewujudkannya? Karena jika ada, aku ingin sekali mendengarkan kisah mereka. Kalo kalian ada cerita, boleh dong dishare. 🙂

Di sisi lain, ada sebagian jenis orang yang ku tahu – merasa takut dalam membuat dream list.

“Takut gak kesampaian, Dev. Nanti kecewa. Jadi let it flow aja semuanya,” alasannya demikian.

Saat mendengar itu sih, aku hanya mencoba menempatkan posisi: “Iya sih, kadang punya ketakutan juga akan kecewa jika sudah set the target tapi gak tercapai.”

Tapi jauh di diriku, aku ingin belajar mempunyai target sedikit demi sedikit agar bisa melihat sejauh apa sih ikhtiar aku meraihnya.

My simple dream list: bisa terus nulis di ranselijo.com ini. Haha…konsistensi itu ndak mudah, Sahabat!

Doain yaaaa 😀

Share yuk cerita kalian tentang dream list 2019 ini. Bismillah, bisa jadi jalan inspirasi yang membaca 😉

Ladeva

Advertisements

Tentang Hijrah

Kemarin alhamdulillah saya mendapat kesempatan mendampingi seorang perempuan yang hendak menjadi mualaf.

Kisaran 23 tahun dan merantau dari Medan ke Jakarta.

Saat ditanya kenapa ingin masuk Islam, ia menjawab: saya punya teman sekosan, saya liat dia sholat – hati saya tenang.

Alhamdulillah prosesi syahadatnya mudah dan lancar, biidznillah.

Tapi, yang agak menarik adalah saat selepas prosesi, beberapa jamaah masjid memberikan sejumlah infak via kami untuk beliau.

Bahkan seorang teman – yang qadarullah Mualaf juga – langsung menghampiri saya dan memberikan sedekah saat itu juga, dengan nominal yang cukup banyak. Masya Allah.

Seketika pikiran saya kembali ke kata-kata abang saat ada fenomena artis yang sudah hijrah namun kembali ke jalan sebelumnya.

“Kemana kita saat ia membutuhkan pertolongan saat hijrah? Jika seseorang hijrah, jangan lepaskan tangannya. Bantu ia dalam ekonominya.”

Allahu ya kariim.

Jadi, saat seseorang hijrah, tidak cukup hanya ucapkan doa dan pelukan. Tapi juga perlu dibantu dari segi materi dan psikologinya.

“Mereka hijrah, pasti mulai semuanya dari nol,” ujar teman saya.

Lagi, lagi hati saya berucap: betapa manfaatnya muslim yang kuat. Bisa selalu menebarkan manfaat kapan dan dimana saja.

Semoga Allah mampukan kita untuk terus bermanfaat ke sesama. Aamiin…

Jkt, 10 Agustus 2019

Ladeva

Let’s Talk

Beberapa waktu belakangan ini, hati dan pikiran saya sedang riuh sekali. Terlalu banyak berpikir terhadap berbagai kemungkinan – yang belum pasti akan terjadi.

Takut terlalu awal – menjadi tidak sehat dalam cara berpikir.

Perlahan dikeluarkan, mungkin ringan (sesaat), namun rasanya belum sampai ke orang yang tepat.

Seorang teman memberikan saran, “Tidurlah. Beristirahat sejenak” tapi bagaimana bisa masalah selesai dengan tidur? Padahal mungkin itu saran yang ia berikan agar saya ambil jarak sejenak dengan kekhawatiran yang tidak berlandaskan apapun.

Saya pun meengikuti saran tersebut.

Seeketika terbangun, memang masalah belum langsung selesai namun istirahat yang cukup membuat mood lebih baik sehingga bisa lebih jernih dalam berpikir.

Dan alhamdulillah, setelah bicara dengan orang yang insyaa Allah tepat – rasanya langsung plong. Mengeluarkan semuanya dengan tanpa rasa takut akan disalahkan atau alih-alih diacuhkan.

Just focus on yourself. Don’t take any decision just because peer pressure – anykind of pressure.

Thank you, Kakak – for always be here. Lagi-lagi diyakini bahwa jarak tinggal hanya tentang hitungan angka di atas kertas, tapi hati yang terpaut pasti akan dapat melalui itu semua.

Sometimes, all you need is just talking to the right person.

Ladeva

Freelance itu…

Menggiurkan.

Kalau sudah tahu keahlian dan cara bagi waktu antara mengerjakan pekerjaan sampingan tersebut vs pekerjaan utama.

Kenapa tetiba membahas freelance?

Karena di salah satu akun twitter finplan, ada yang sedang buka topik diskusi tentang macam-macam job freelance dan berapa bayarannya.

Dan ternyata emang 1001 macam jenis pekerjaan freelance. Ada yang online shop dari skin care, peralatan rumah tangga, hingga baju bayi. Ada juga yang desainer grafis, survey online dan penulis artikel ataupun copywriting.

Menarik banget.

Diskusi tersebut jadi membuat saya ingat perjalanan freelance saya dari tahun 2010 hingga saat ini (meskipun sudah banyak berkurang frekuensinya).

Dulu, saya kerap terlibat dalam projek penulisan artikel, laporan perusahaan klien, translet, hingga transkrip juga.

Kalau sekarang, paling ndak masih terlibat di projek training komunikasi, alhamdulillah.

Lalu bagaimana membagi waktunya?

Ya harus tetap memprioritaskan pekerjaan utama ya. Selain itu juga pastikan memilih freelance yang kita sukai. Namanya juga pekerjaan sampingan. Sayang aja jika pekerjaan sampingan eh malah bikin kita pusing, hehehe 😀

Lalu tentang besaran pendapatan, bagaimana? Relatif sih. Tapi ya biasanya yang namanya jasa freelance memang lebih besar daripada yang utama – tapi jika freelance pasti tidak mendapatkan monthly benefit layaknya full time worker, seperti asuransi kesehatan.

Saat membaca diskusi di twitter tadi, rasanya semangat saya terpompa lagi untuk giat mencari media freelance yang lebih frekuentatif deh – terutama dalam bidang penulisan.

Nambah income agar bisa traveling? (Source: @pexels)

Kalau kalian, ada yang punya pengalaman freelance juga ndak? Sharing yuk!