iLearn, iTalk

Terima Apa Adanya; Susah?

Pagi ini ngeliat-liat lemari dan sengaja mengambil kaos paling bawah, berarti kan itu baju yang paling jarang terpakai ya?

Dan saat saya memakainya, seketika berpikir, “ya pantas aja jarang dipakai, lah wong kegedean.”

Hal itu membuat saya keingetan jaman kecil dulu. Mama saya berujar, “klo baju-baju pergi udah gak mau dipake, pake aja di rumah.”

Saya tersenyum.

Iya ya, ketika kita ke luar rumah, kita usaha banget nyari baju yang enak dipakai, enak dilihat orang lain, syukur-syukur berbuah pujian. Astaghfirullah…

Sedangkan di rumah, bebas menggunakan baju apapun. Padahal sebenarnya orang di rumah lah yang paling berhak mendapatkan kerapihan, kesegaran dan kecantikan penampilan kita.

Pikiranku pun juga lari ke: mungkin kita serasa bebas menggunakan baju sejelek apapun di rumah karena orang di rumah sudah menerima kita apa adanya. Berbeda dengan orang-orang di luar rumah, yang mungkin dalam pikiran kita: gw harus tampil ciamik dulu nih agar dapat atensi dari mereka.

Semakin kita nyaman dengan lingkungan, semakin kita menomor duakan penampilan. Karena merasa: mereka sudah menerima kita apa adanya. Iya gak sih?

Lalu proses seseorang menerima kondisi apa adanya itu, pasti butuh proses, yang tidak mudah – mungkin?

Lalu, bukankah sebelum menuntut orang lain menerima kita apa adanya, kita perlu menerima diri kita sendiri dulu apa adanya?

Source: Pinterest

Ladeva

Advertisements