Review; Handmade Travelers’s Notebook Sketchandpapers

Disclaimer: ini bukan endorse, hanya sebuah tulisan review dari happy customer.

Duile penting banget nulis dislaimer, Dep.

Iya penting, soalnya daku sudah mabuk dengan endorse segala produk di media-media sosial dari segala insan selebgram, dan sejenisnya. Hehe…

Begini, siapa yang belakangan ini sudah mengincar notebook 2019?

Saya sendiri sudah bolak-balik ke Typo, Gramedia, Tokopedia dan online-online shop lainnya untuk mencari Travelers’s Notebook yang ciamik dan aman untuk di kantong. Bahkan hingga nonton baca blog dan Youtube-nya Hanny agar bisa mendapat insipirasi tentang jurnal seperti apa yang saya inginkan di 2019 nanti.

Singkat cerita, saya search harga-harga Travelers’s Notebook dan ya yang bagus pastinya tidak murah.

Sampai akhirnya ada seorang teman yang share di story IG-nya tentang travelers’s notebook yang -dari segi bentuk- saya suka banget.

Itulah kali pertama saya mengetahui Sketchandpapers ini.

Ini impresi awalnya

Saya langsung: suka banget.

Saya DM miminnya dan berlanjut ke WA untuk transaksi.

Saat diinfokan bahwa lokasi ols ini di Jogja, saya tidak berpikir buruk sama sekali tentang kualitas buku ini, bahkan antusias banget. Karena dulu pernah pesan kartu di Jogja dan hasilnya bagus. Sehingga mindset saya: hasil kerajinan tangan orang Jogja pasti bagus.

Dangkal ya? 😀

Tapi alhamdulillah ternyata itu benar adanya.

Kualitas kertasnya bagus dan ringan. Jadi meski setebal itu, tetap saja ringan untuk selalu dibawa ke manapun.

Lalu tentang cover kulitnya. Bagus juga.

Terutama warna coklatnya sih, kental dan memang sejenis warna coklat yang saya suka.

Tempelan kalendarnya saya print dari desainnya Hani beradadisini.com

Bagaimana tentang lama pengiriman? Karena mereka sudah ada stoknya, jadi bisa langsung dikirim. Saya terima selang 2 hari kok. Alhamdulillah…

Coba dicolek-colek miminya di Sketchandpapers, siapa tahu ada notebook yang cocok buat kalian yang lagi cari-carijurnal 2019.

Happy hunting!

Ladeva

Advertisements

Terima Apa Adanya; Susah?

Pagi ini ngeliat-liat lemari dan sengaja mengambil kaos paling bawah, berarti kan itu baju yang paling jarang terpakai ya?

Dan saat saya memakainya, seketika berpikir, “ya pantas aja jarang dipakai, lah wong kegedean.”

Hal itu membuat saya keingetan jaman kecil dulu. Mama saya berujar, “klo baju-baju pergi udah gak mau dipake, pake aja di rumah.”

Saya tersenyum.

Iya ya, ketika kita ke luar rumah, kita usaha banget nyari baju yang enak dipakai, enak dilihat orang lain, syukur-syukur berbuah pujian. Astaghfirullah…

Sedangkan di rumah, bebas menggunakan baju apapun. Padahal sebenarnya orang di rumah lah yang paling berhak mendapatkan kerapihan, kesegaran dan kecantikan penampilan kita.

Pikiranku pun juga lari ke: mungkin kita serasa bebas menggunakan baju sejelek apapun di rumah karena orang di rumah sudah menerima kita apa adanya. Berbeda dengan orang-orang di luar rumah, yang mungkin dalam pikiran kita: gw harus tampil ciamik dulu nih agar dapat atensi dari mereka.

Semakin kita nyaman dengan lingkungan, semakin kita menomor duakan penampilan. Karena merasa: mereka sudah menerima kita apa adanya. Iya gak sih?

Lalu proses seseorang menerima kondisi apa adanya itu, pasti butuh proses, yang tidak mudah – mungkin?

Lalu, bukankah sebelum menuntut orang lain menerima kita apa adanya, kita perlu menerima diri kita sendiri dulu apa adanya?

Source: Pinterest

Ladeva

Keberkahan

Masya Allah ya Allah selalu punya cara untuk bicara dengan kita tentang hal-hal yang selama ini kita bingungkan, atau kita gundah-gulana-kan.

Jadi ceritanya begini:

Belakangan ini, aku selalu mempertanyakan hasil keputusan yang ingin ku ambil.

Bagaimana jika ini, jika itu, jika gagal, jika bla bla dan bla…

Tapi pagi ini masya Allah, Allah takdirkan saya bertemu dengan seorang karyawan perempuan, yang ‘secara tidak sengaja’ menyeberang bersama dengan saya.

Beliau lebih dulu tersenyum ke saya dan akhirnya sepanjang jalan menuju tempat kantor (ternyata kantor kami berjarak 1 blok) kami mengobrol. Beliau lebih banyak yang bertanya tentang tempat kerja saya yang mungkin bagi sebagian orang tidak biasa, karena berupa yayasan Islam namun kok bekerja layaknya karyawan pada umumnya.

Singkat cerita, beliau ternyata ingin hijrah dan butuh komunitas yang support niatnya.

Saya merasa: masya Allah ya, banyak sekali orang yang ingin punya komunitas yang baik, lantas mengapa kami yang di dalam ini tidak bersyukur?

Itu yang pertama.

Cerita kedua adalah saat saya harus menyampaikan kepada salah satu anggota tim tentang kemungkinan mutasi amanahnya. Saya kira akan berlangsung dramatis, tapi ternyata masya Allah, Allah gerakkan hatinya untuk memberikan banyak hikmah ke saya.

Betapa bersyukurnya ia bisa ada di Yayasan ini dan keberkahan rejekinya yang belum pernah ia temui selama ini.

Berkah, bukan hanya tentang jumlah, namun ‘content’ dari rejeki itu sendiri.

Justru di diskusi kami tadi, saya yang banyak belajar dari sosoknya.

***

Kadang memang kita perlu mendudukkan hati agar dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jernih.

Dan niat memang harus secara intens diluruskan, kembali lagi kepada ‘kejar berkahNya Allah, kejar ridhoNya Allah’.

Bismillah

Ladeva