Blog English Club

[EF #15] Where Are All Those Games?

“Generasi menunduk” – said my Mom one time, when we were on the bus. Almost every people looked to their phone, either young adult or kids.

Suddenly I was looked into outside of the window. I saw a group of kids were busy with their phone and I was recalled my memory. When I was on 10 years old, I was busy playing hide and seek with my friends. I even don’t know how to use my daddy’s mobile phone. If I am not playing with my friends, I’d prefer to spend my time with reading some books.

But now we can see many kids busy typing with their mobile phone, busy to take a selfie picture, busy to share their moment through social media. And when I asked my nephew – 8 years old, “Do you know Bu Kasur?” She answered, “Who is she?”

:/

“Do you know how to play petak jongkok?

“No. What is that?”

:/

Taken from here

I believe many kids in urban area have the same issue with my nephew. They love playing, they love singing and dancing but yeah…they are too busy with their gadget.

In my opinion, this “gadget-freak era” has plus and minus. The plus thing is they have good skill and capability to know technology earlier than us – when we were on their age. The minus thing is kids need to move their body actively rather than only staring on their gadget. A friend of mine only gives maximum 2 hours for their kids to play a gadget, after that they need to turn off the gadget and do another activity.

How about my nephew? Well, they love gadget also but their parents do not know want to give a sophisticated gadget and do not install many games on it. Me and my sisters trying as best as we can to turn off our gadget when we are around the kids so they will know that we can do anything else, not just depending on our gadget. Hopefully it works.

Ah, by writing this post, make me missing my congklak, lompat tali, bola bekel, etc.

How about you? Want to be kids again?

R.I

Uncategorized

Sate Djono yang Menggoda

Celingak-celinguk di sini.

Haloooo semuanya! Ada yang rindukah dengan tulisan Ransel Ijo? 😀

Seminggu berkarya di kantor baru berhasil membuat pikiran teralihkan dari blog. Alhamdulillah tempat baru ini berhasil memberikan semangat yang segar banget! 🙂

Oke, supaya Ransel Ijo tidak dicoret dari daftar travel blog, dengan segenap tenaga saya akan menulis ulasan…alah ulasan…apa ya, pengalaman makan Sate Djono di Benhil. Masuklah ya sebagai kategori iEat. :’)

Makan Sate Djono ini bermula dari kerinduan saya bertemu dengan Saad. Akhirnya karena Saad sedang ada di sekitar Petamburan, dipilihlah Benhil sebagai tempat pertemuan kami. Ya sebenarnya lebih kepada doyannya kami sama jajanan di Benhil sih yang memang belum mengecewakan. 

Sate Goreng Kambing

Lihat deh foto di atas. Namanya sate tapi tidak ada tusukannya. Kenapa? Karena harga tusukan sate mengalami inflasi, Kak. 

😀

Gak deng. Ya gak lah. Tapi karena ciri khas sate goreng ya kayak gitu. Jadi semula ini adalah sate kambing biasa yang telah diberi bumbu tapi digoreng lagi dan bumbunya makin meresap ke setiap irisan daging dan gajih kambing ini. Bayangkan betapa sudahnya hasil gorengan kambing ini kalau harus ditusuk lagi. *dibahas*

Udah deh daripada membayangkan betapa susahnya masukin daging di tusukannya, mendingan bayangkan gajih lemak kambing ini meleh di mulut! Rasanya? Beuh!!! Bikin saya dan Saad nyengir bahagia banget! 

Dagingnya karena telah diolah 2 kali jadi empuk banget. Kalau kurang pedas dengan bumbunya, tinggal minta cabe rawit aja ke waiter. Rasanya akan lebih nendang lagi. Doh! Nulis ini aja berhasil bikin cacing di perut demo!

Selain sate goreng kambing, ada apalagi?

Ada ini, Kak.

 

  

Gak lain gak bukan ya sate kambing! Seperti yang saya tulis sebelumnya, kalau dibandingkan dengan sate goreng kambing, saya lebih milih yang digoreng. Tapi siapalah yang mau dibandingkan. Begitu juga dengan menu di sini. #lah

Terus bagaimana dengan harganya? Jujur aja sih harganya lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan saya sebelumnya. Kira-kira untuk seporsi sate kambing dan sate gorengnya -yang tanpa tusuk satenya- *tetap dibahas •_• Rp 65ribuan. 

Apakah kami akan kembali lagi? Mmm kalau muka kami seperti ini kira-kira jawabannya apa?

  

Jelas doooong kami akan kembali lagi, Insya Allah. Apalagi kalau ditraktir. 😀

Nah ini alamat Sate Djononya:

Jl. Penjernihan 1 No 5B, Jakarta Pusat. 

Ntar share ya pengalaman kalian makan di sana. Atau mau traktir juga gak apa-apa. Hahaha teteup! 

See you!

R.I

Blog English Club

Do I Love Sport?

The answer is yes! Even not regularly. A few months ago I did squash every Wednesday after hour at Gelora Bung Karno but since I need to go home ontime, so I decided to stop it. 

Then what kind of sport I choose for now?

Riding a bicycle is the answer. 😀

  

Beside riding a bicycle, sometimes swimming could be my alternative option. Ssst…I can’t swimming profesionally. Just do some free style. :p

One of my fav swimming pool: Umbul Sidomukti, Semarang

So now you know that I do love some sport. 🙂

Like today. Me and my family went to GBK to do short jogging. I didn’t do jogging but I did this:

Of course it wasn’t me. :p

Thanks to GBK to facilitate this equipment for us. *burn fitness member card* Hahaha…

So this is my story to fulfill Weekly Challenge from BEC. How about you?

R.I

iTravel

Taman Lapangan Banteng

“Ini nama tamannya apa sih?” tanya saya saat berada di sebuah taman.

“Namanya Taman Lapangan Banteng.”

“Ooooh ini yang namanya Lapangan Banteng!”

Sebagai orang yang ngaku suka jalan, rasanya kok ya bisa gitu gak tahu yang namanya Taman Lapangan Banteng.

Jujur sih saya kagum dengan luasnya taman ini. Tahu gak luasnya berapa? 4,5 hektar! Ini juga tahunya dari Google. 

  

Sayang sih jika dibandingkan dengan Taman Ayodya, Taman Lapangan Banteng ini seperti kurang terawat. Meski ada beberapa petugas kebersihan yang saya lihat sedang bertugas. Kurang terawatnya tuh bukan karena kotor tapi lebih gak ada peremajaan cat-ct bangkunya gitu. 

Untuk duduk-duduk cantik di sore hari, Taman Lapangan Banteng ini bisa menjadi referensi. 

 ***

Hasil kutipan dari jalan2.com:

Dalam konteks sejarahnya yang panjang ternyata kawasan ini sudah ada sejak masa Belanda. Kala itu, Belanda menamainya dengan Waterloo Plein (mungkin karena banyaknya ditumbuhi oleh pepohonan rindang yang mereka sebut dengan Waterloo Plein).

Namun demikian, penduduk sekitar taman tersebut kala itu malah menyebutnya dengan Taman Lapangan Singa karena ada patung yang berwujud singa yang berdiri dengan gagahnya di lapangan yang arealnya luas ini.

Waktu terus berjalan dan dinamika perpolitikan nasional juga terus mengalami perubahan yang signifikan. Dikala pemerintahan Indonesia membebaskan Irian Barat maka dibangunlah Monumen Pembebasan Irian Barat.

Dan sejak saat itulah kawasan ini kemudian berubah nama menjadi Taman Lapangan Banteng hingga kini.

***

Jadi, ada yang pernah ke Taman Lapangan Banteng?

R.I

iEat

Review Rujak Jangkung 212 Megaria

Hayooo kalo liat angka 212 langsung ingat apa?

Sayup-sayup terdengar jawaban: Wiro Sableng! Yes, kamu masuk jebakan umur. Hahaha…

Ampun…ampun…balik lagi ke Rujang Jangkung 212 Megaria. 

Tempat makan rujak yang berlokasi di dekat Stasiun Cikini, menawarkan ragam buah-buahan yang segar. Ketika saya memesan rujak ini, mata saya tidak mau lepas dari tumpukan pepaya mengkal yang sudah dikupas! Alamak, saya bisa banget membayangkan bunyi kretek saat pepaya itu saya gigit. Saya suka banget!

  

Keliatan kan tuh pepaya mengkalnya? Slurp!

Entah saya yang kurang pergaulan atau apa *halah* tapi ini kali pertama saya makan rujak dengan jeruk bali. Rasanya bagaimana? Asem-asem segar dan pedas. Dahsyat banget bumbunya. Tidak perlu repot bilang, “Mau pedas” atau “Sedang aja pedasnya”, bumbu ini pas banget di lidah saya. Kentalnya itu lho…haduh!

Selain pepaya mengkal dan jeruk bali, ada pula jambu, kedondong, nanas, bengkoang, dan jambu biji sebagai kesatuan yang rancak di rujak ini. Ada buah yang manis tapi ada juga yang asem. Dan potongannya besar-besar. Kenyang dong? Kemarin saya makan gado-gado ini bertiga dan kenyang! Apalagi jika sendiri. Saran nih jika makan rujak, minumnya air putih saja biar rasanya gak ambyar. 

Harga seporsi rujak ini Rp 20.000. Sedikit lebih mahal dibanding rujak di pinggir jalan tapi rasa dan tempat yang nyaman ya sebandinglah dengan harganya.

Tapi Dev, kalau saya gak suka rujak gimana? Tapi harus nemenin orang di restoran ini. :/

Jangan manyun, kamu bisa sekalian icip mpek-mpeknya yang bervariasi. Ada mpek-mpek kapal selam, lenjer, dan sebagainya.

  

Okesip, saya mau dong ke sana! 

Catat nih alamatnya: 

Metropole, Jalan Pegangsaan no. 21, Jakarta – Indonesia

Buka setiap hari dari jam 12 siang sampai jam 9 malam. 

Perut kenyang, hati senang. Tinggal melipir sedikit…ke bioskop deh! 😀

R.I