Omongan itu Doa

Hari Rabu sore saya naik bajaj ke arah Wijaya dari Blok M demi menghadiri acara Ted X. Nah, ketika saya memberhentikan bajaj, saya kasih tau dong tujuan saya Wijaya 1.

Saya: 15 ribu ya, Pak.

Tukang Bajaj (TB): Iya Mbak *sambil ngebuka pintu bajaj dan bergegas nyalain gas*

Apa dalam pikiranmu?

TB itu setuju kalau bayarannya 15 ribu dan tahu arah ke Wijaya 1 kan?

Tidak lama, di perempatan jalan TB nanya banyak hal.

TB: Patokannya di mana, Mbak?

Saya: Pokoknya lurus aja Pak. Sebelah kanan lokasinya.

Jalan lagi.

TB: Mbak, itu sebelum SPBU?

Saya: Gak tau Pak. Beneran deh, cuma tinggal lurus aja kok.

Rasanya saya sudah cukup jelas untuk bilang saya tidak tahu patokannya. Saya baru 2 kali ke lokasi ini dan juga tidak bisa baca peta. Memasuki Wijaya, jalanan macet total dan hujan. Cara TB mengendarai bajaj pun sudah semakin ugal-ugalan demi bisa nyelip sana-sini. Pikir saya ketika itu, yawda deh ditambahin ongkosnya.

TB: Mbak, patokannya itu dimana sih?! *sedikit membentak*

Saya: Pak, dari tadi saya kan bilang saya gak tau…

TB: Itu sebelum SPBU atau di mana? Dari lampu merah masih jauh?

Saya: Pak, beneran…gak tau.

Hujan deras banget!

TB nanya hal serupa sampai saya bilang, “Pak, ini tinggal lurus. Nanti ongkosnya saya tambah.”

Eh, TB nyerocos gak jelas. Terus, dia minggirin bajajnya sambil ngebuka pintu.

TB: Mbak keluar aja sekarang. Ini macet banget. Saya gak dibayar juga gpp. Apa-apa gak tau kalo ditanya.

Saya: Ya ampun Pak, ini kan ongkosnya juga mau ditambah. Ini hujan, Pak.

TB: Udah keluar aja sekarang. Mau nyampe jam berapa ini! Keluar keluar!

Saya: *&%#

Emosi.

Jadi kemarin itu, hujan-hujanan lho! Gak ada payung juga. T_T

Terus cerita di atas, saya share ke Bang Dani dan Ryan, yang ketika itu juga mau menghadiri Tedx Jakarta.

Bang Dani: Iya sih emosi banget tapi kalau gw Dev, gw kasih uangnya. Gw doain dia biar berkah usahanya. Dia gak mikir kalau siapa tahu abis ngedrop lo, justru dia dapat penumpang lagi.

Saya: Duh, jadi bersalah banget udah emosi tadi.

Bang Dani: Wajar. Tapi coba diinget, kita kan gak tau doa apa dan kapan yang dikabulkan Malaikat.

DEG!

Jadi ingat kejadian beberapa hari lalu saat saya lagi main ke rumah Tante. Beliau lagi sakit. Terus ngomong gini ke anaknya yang masih kelas 1 SD: “Duh, Ibu pusing banget nih Dek. Berasa mau pingsan.” – ini ngomongnya becanda ya.

Terus sepupu saya yang kelas 1 SD itu ngejawab, “Ih Ibu, omongan kan itu doa.”

DEG!

Wah…kalau dilanjutin kontemplasi saya tentang omongan adalah doa bisa panjang bener. 🙂

Be careful to what you want to saySementara saya mau mikir-mikir lagi tentang kontemplasi hari ini, coba deh baca tulisan tentang doa yang linknya saya dapatkan dari Nadia.

R.I

Advertisements

Morning Dew

The sweet reminder from Mbak Mikan.

Doh…I am so bad to write some short opening in the rebloged post. 😐

Just click the original post, readers!

riemikan

I recently came across Steve Harvey’s new book,”Act Like a Success Think Like a Success” (actually published in September 2014). I remember reading his first #1 New York Times bestseller, ” Act Like a Lady, Think Like a Man” which was a really good guidance for those single ladies waiting to find their plus one. The book helps women to be successful in love by sorting out characteristics and criteria that really matter to them in finding their life time partner. I really like the book because it is practical and told from a man’s perspective giving its female readers a powerful insight on what this species is really thinking when they say something 😀

With the same funny yet firm style, Steve gives warm and insightful voice in simple and easy language on how to succeed in life by defining your gift, perfecting it and riding it to success. I…

View original post 226 more words

Pilih Kenyamanan atau Kelezatan?

Selera saya ini selera orang Indonesia kebanyakan. Suka masakan yang pedas, porsi masakan yang cukup di perut, ada nasinya, dan yang paling penting bisa ngobrol dengan lama.

Tapi sekarang untuk mendapatkan hal-hal di atas, harus dibarengi dengan harga yang mahal. Karena…iya, harga dolar lagi naik gila-gilaan. Merembet ke kenaikan harga beras, harga bawang juga. Apalagi…cabe. Wajar juga kalau semua pihak yang terkait makan-makanan kayak pemilik restoran dan pedagang kaki lima menaikkan harga dagangannya mereka.

Sedihnya, kenaikan harga ini gak serta merta menaikkan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus pintar-pintar banget jika mau membuat keputusan yang terkait sama uang. Kayak misalnya mau makan di luar. Harus banget tuh tanya ke diri sendiri: cari tempat yang nyaman banget dengan risiko harga menu yang (sering banget) di luar nalar dan rasa masakannya yang mungkin biasa-biasa aja. Atau mau makan di kaki lima dengan rasa masakan yang biasanya cocok dengan lidah, tapi gak bisa ngobrol lama dan kadang lokasinya harus di pinggir jalan, yang mana debu dan asap berebutan minta disapa.

Ya, perbedaan sederhananya gini deh: mau makan di restoran yang mengutamakan kenyamanan tapi rasa biasa atau kaki lima yang mengutamakan rasa tapi kita makan harus buru-buru?

Malah ya, yang saya dengar dari Ryan semalam bahwa restoran di bilangan Jakarta sonoan dikit, setiap 2-3 bulan sekali, silih datang berganti. Dekorasi oke banget tapi rasa masakan yang biasa banget sehingga gak ada customer yang setia untuk datang berkali-kali. Dan teman-teman, pernah dengan ZMOT? Zero Moment of Truth. Biasanya istilah ini dipakai dalam bidang marketing, di mana jaman sekarang orang-orang gampang banget bikin keputusan jadi makan di restoran A atau gak, hanya dengan cari referensi di media sosial, tanpa merasa perlu untuk mencobanya sendiri dulu.

Kebayang ya, betapa keras usaha para pelaku usaha restoran atau kaki lima untuk mempertahankan bisnis mereka.

Sembari nulis ini, hati kecil saya kayak ngomong: “Masih mending kita punya pilihan mau makan di mana? Coba liat bapak yang jualan tissue di lampu merah, apa beliau punya pilihan mau makan di mana? Mereka (kemungkinan besar) lebih berpikir mau makan apa hari ini!”

Gak tau sih, ini perasaan saya aja atau memang kenyataannya di lapangan seperti ini. Tapi yang ingin saya tulis, harga memang udah gila-gilaan naik. Dan beberapa kali menerima laporan klien tentang pendapatan mereka, pada bilang lesu. Padahal mereka bergerak di bidang yang sering kita bilang “basah banget kalau kerja di situ”.

Maaf ya kalau pembahasannya ruwet. Kalau dolar terus naik, saya rasa semakin banyak lagi konsumen yang lebih mementingkan rasa daripada kenyamanan di sebuah restoran. Dan para pelaku usaha restoran harus benar-benar membuat strategi yang tepat agar para konsumen tetap mau datang ke restoran mereka berkali-kali meski harga yang mereka tetapkan jauh lebih tinggi dibandingkan di kaki lima.

R.I