iTravel

iTravel: Mataku Melihat Manado di 2010

Disclaimer: Tulisan ini merupakan tulisan lama yang saya edit sedikit dari blog sebelumnya.

Akhirnya, setelah melewati perjalanan selama lebih kurang 3 jam melalui udara, saya dan tim tiba di Manado pukul 9.30 WITA (artinya 8.30 WIB). Kami berangkat dari Jakarta tepat pukul 05.00 subuh. Tiada snack dari maskapai penerbangan membuat kami lapar, tentu saja, 3 jam tanpa asupan makanan. Oleh karena itu, setiba kami di Manado, sopir kami, yang sudah kami pesan 1 hari sebelumnya, mengantarkan kami ke sebuah restoran, yang katanya, menjual bubur Manado paling enak di Manado. Yummmy…kami pun tergoda.

Selama perjalanan, Pak Stevi (nama sopir kami) langsung bercerita mengenai Manado, keistimewaan dan kebanggaannya terhadap kota ini. Saat ia bercerita, saya pun langsung melahap semua pemandangan yang ada di depan mata. Bersih adalah kata yang paling tepat, menurut saya, untuk mengungkapkan kota Manado di awal perjalanan ini. Tiada sampah. Bersih. Beda dengan Jakarta. Manado tidak bising. Manado tidak hiruk pikuk, mungkin tahun lalu, Manado pikuk dengan segala persiapan World Ocean Summit. Selain itu, saya berpendapat bahwa Manado merupakan kota religius. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah gereja yang, (lagi…lagi) menurut saya, buanyuak sekali, dengan segala jenis ajaran Kristen. Yang saya baca di papan nama gereja, ada gereja Advent, Pantekosta, Katolik, Prostestan, dan aliran lainnya yang saya tidak saya ingat. Saya pun iseng menghitung jumlah gereja sejak saya keluar dari Bandara Sam Ratulangi hingga ke restoran “terenak” yang menjual Bubur Manado, jumlahnya 7 gereja. Jarak antar 1 gereja ke gereja lainnya pun tidak jauh, bahkan ada yang berhadap-hadapan. Analisa sederhana saya, penduduk mayoritas Manado beragama Nasrani. Hal ini mengingatkan saya dengan Kupang, yang penduduknya juga mayoritas Nasrani, tapi (seingat saya) jumlah gereja di Kupang tidak sebanyak di Manado.

Lima belas menit, kami habiskan di perjalanan sambil menahan lapar dan sungguh menantikan kelezatan bubur Manado. Setibanya kami di restoran, kami langsung memesan bubur Manado dan ayam mentega. Selama menunggu, Pak Stevi menjelaskan tiga jenis sambal Manado yang ada di meja kami. Menurut penjelasannya, orang Manado sangat suka pedas jadi hati-hati makan di Manado jika tidak bisa makan pedas. Saya, asli Padang, yakin bahwa saya bisa melahap makanan Manado, toh orang Padang juga suka pedas. Tidak lama, bubur kami pun tiba. Saya kaget luar biasa.

Muka ngantuk, lapar, dan kaget. :D
Muka ngantuk, lapar, dan kaget. 😀

Inilah akibat orang yang tidak suka mencari tahu makanan yang baru di luar Jakarta. Bubur Manado, bukan sekedar bubur. Bubur Manado adalah makanan yang terbuat dari sedikit nasi (benar-benar sedikit nasi…) yang sudah “lembek” tapi tidak selembek bubur biasanya, berkuah dan isi utama makanan ini adalah daun kemangi yang banyaaaaak sekali. Saya belum pernah makan daun kemangi sebanyak ini! Serius! Saya pun memberanikan diri makan bubur ini menggunakan sambal yang paling pedas di meja kami. Mmmm…tidak pedas. Tambah lagi sambalnya. Tidak pedas. Baiklah, saat itu saya yakin bahwa kepedasan masakan Manado masih bisa ditoleransi dengan lidah saya.

Makanan kami pun habis. Kami berkeringat tapiiii kami masih lapar (hahaha…yah porsi bubur ini belum mengenyangkan perut kami). Akhirnya kami berencana untuk istirahat sebentar di hotel dan kumpul lagi saat akan makan siang.

***

Ting….tong…waktu makan siang pun datang. Kami memutuskan untuk berkeliling Manado, mengingat tugas baru akan dikerjakan esok hari. Kami pun menuju Tondano. Di tengah perjalanan, kami melewati komplek perumahan Citraland, pemiliknya siapa lagi kalau bukan Ciputra. Komplek rumah yang mewah dan banyak patungnya. Salah satu patung di komplek itu adalah patung Yesus yang sangat tinggi. Belum pernah saya lihat di tempat lain. Dan di samping kiri belakang patung itu terlihat gunung tertinggi di Sulawesi Utara, Gunung Mamesa. Ketua tim saya, yang seorang Youtub-ers pun langung berinisiatif membuat video singkat mengenai patung ini. Setelah berfoto-foto kami pun melanjutkan perjalanan.

Tujuan kami selanjutnya adalah ke Desa Kombi. Pemandangan menarik di Kombi adalah banyaknya cengkeh yang sedang dijemur. Kata Pak Stevi, saat ini penduduk sedang panen cengkeh. Akhirnya ketua tim dan Pak Stevi pun bercerita tentang sejarah rempah-rempah, terutama cengkeh, di Manado yang harganya pernah sangat mahal di Era Orde Baru.

Kami pun singgah di sebuah rumah makan kecil, milik penduduk asli Manado, sukunya Minahasa. Kami memesan nasi kuning. Lagi…lagi dalam pikiran saya, yang mempunyai sedikit referensi makanan Indonesia, berpikir nasi kuning adalah nasi yang ada di Jakarta, yang biasa dimakan jika ada acara khusus. Ternyata oh ternyata, nasi kuning Manado beda dengan yang di Jakarta. Nasinya memang kuning. Lauknya terdiri dari ikan cakalang yang sudah disuwir halus, telur rebus, sambal (yang saya pikir sebelumnya tidak pedas), dan tempe. Saya pun makan dengan lahapnya menggunakan sambal, dan…pedas luar biasa! Nasi memang habis tapi tanpa menggunakan sambal! Menyerah!

Setelah menghabiskan makanan, perjalanan kami pun dilanjutkan ke Bukit Doa. Saya sendiri tidak mendapatkan penjelasan banyak mengenai tempat ini. Masuk ke sini, harus bayar. Pak Stevi hanya menjelaskan bahwa tempat ini biasa digunakan untuk outbond dan retreat. Katanya lagi, tempat ini layaknya Puncak Bogor. Mmm…yang saya rasakan, dingin, meskipun tadi di Manado panas. Tempat ini banyak pohon, kita dapat melihat Manado keseluruhan, dan ada beberapa orang yang sedang persiapan outbond.

Bukit Doa
Bukit Doa

Karena ketua tim saya harus bertemu dengan teman lamanya, kami pun menuju ke Gardenia di Tomohon. Sebuah penginapan mahal, yang katanya Pak Stevi (lagi…) biaya penginapan di sini Rp 1 juta/ malam. Kebanyakan ekspatriat yang menginap. Tentu saja, kami tidak berniat menginap di sini tapi kami hanya akan makan malam. Jangan tanya pemandangannya, luar biasa indah! Bunga-bunga yang tertata rapi dan ada papan nama di masing-masing bunga. (Kata Pak Stevi lagi…) Tomohon terkenal dengan bunga-bunganya yang indah. Saya percaya. Bunga-bunga tersebut indah sekali.

Flower

Flower-2

Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIT, perjalanan kami belumlah selesai. Kami pun harus bertemu klien dan makan malam dengannya. Akhirnya kami makan malam di sebuah restoran yang besar dan menjual makanan laut yang masih hidup, kami bisa memilih dengan sesuka hati bahan baku dan pengolahannya. Kami pun memesan udang, ikan, cumi-cumi dan kangkung (yang beda dengan kangkung di Jakarta. Di sini kangkungnya besar dan segarrrr banget). Makan kami, lahap!

Yummy!

***

Setelah mempubish ulang tulisan ini, kok ya jadi pengin makan sea food di Manado lagi ya? 😀

Oh ya, tahukah kamu bahwa di Manado ada joke yang sering dilempar masyarakat setempat, yaitu:

“Di Manado, apapun pasti dimakan! Kelelawar pun kami makan. Kaki empat semuanya kami makan, kecuali kaki meja.” 😀

R.I

Advertisements