iTalk

Four Women Travelers

Halo semuanya!

Komitmen nulis setiap hari sembari nunggu masuk kerja di tempat baru, buyar! Karena keenakan santai sambil tetap mengerjakan beberapa freelance. XD

Nah, kali ini saya mau share tentang 3 orang teman perempuan yang juga penyuka jalan-jalan. Kami, berempat karena kesamaan hobi tersebut memutuskan untuk membuat blog bareng. Yup, topiknya tentang jalan-jalan. Yang menariknya adalah blog kami ditulis oleh kami berempat yang pastinya punya gaya traveling dan bercerita masing-masing. 

Yuk kenalan sama mereka.

Yang pertama, Saad. Ah kayaknya saya sudah sering menulis tentangnya. Teman sedari SMA sampai sekarang! Berapa tahun tuh 😀

Dengan kesibukannya sebagai Ibu Guru mata pelajaran Fisika, dia selaluuuu aja bisa meluangkan waktu untuk traveling. Dan hebatnya, anak-anak didiknya tetap berprestasi lho! Saad ini lebih sering naik gunung daripada saya hahaha…

Nah, selain Saad, Ani juga suka banget naik gunung. Cocoklah mereka berdua kalau udah ngebahas gunung. Saya mah tim hore saja! Ani berprofesi sebagai sekretaris di Production House. Jadi dia hafal banget deh tanggal-tanggal merah yang bisa dipakai untuk traveling. 😛

Selain naik gunung, Ani juga jago free dive! Sebelas dua belas dengan Ani, ada Tella yang penyuka snorkling, pantai, dan trip-trip cantik lainnya. Gak mau susah lah kalo jalan-jalan. 😀 

Dan terakhir saya deh. Tim hore saja. *diulang lagi* 

***

Terus seberapa seriusnya sih kita sama blog keroyokan ini? Ya serius banget tapi santai. Intinya sih pengin lebih tahu dunia perblog-an itu kayak gimana. 

Kurang serius apa coba ngurus blog Four Women Travelers sampai muka Ani dan Tella kayak gini:

  

 😀

Kayaknya segitu aja dulu perkenalan tentang kami, Four Women Traveler. Main-main yuk di blog kami fourwomentraveler.com dan colek kami di twitter ya. 🙂

  

Semoga aja tulisan-tulisan kami bisa memberikan warna segar bagi blog traveling saat ini. 

See you!

R.I

Advertisements
iLearn, iTravel

Jangan Traveling!

Iya, ini kesimpulan yang saya dapatkan setelah pengalaman kurang menyenangkan saat traveling akhir pekan kemarin di Curug Bengkok Leuwi Hejo dan untungnya ini tidak mempengaruhi keseluruhan acara jalan-jalannya.

Jadi, ketika saya dan teman-teman sedang duduk santai di warung Curug Bengkok Leuwi Hejo, ada yang ngebuang sampah bungkus rokok sembarangan gitu! Doh itu ya bikin kaget dan miris.

Ada seorang teman yang menegur si pembuang sampah sembarangan itu. Teman saya negor dengan santai banget, “Itu sampah kenapa dibuang sembarangan?” Terus dijawab, “Ya elah…ini kan sampah kertas, bisa terurai.”

Saat mendengar itu saya shok! Bisa sih tapi itu makan waktu berapa belas tahun keleus!

“Yah gak gitulah. Kalo semua orang berpikiran sama kayak lo yang ada sampah di sini numpuk. Lo jangan mau jalan-jalannya doang dong!”

“Yawda sih…gak ada tempat sampah juga di sini…” – sambil celingak-celinguk nyari tempat sampah.

“Ya elaaaah…lo kan bisa bawa dulu. Ntar kalo ada tempat sampah baru dibuang.”

“Kotor! Lagian gak bakalan banjir lah di sini”

“Masukin tas lo lah. Tas lo gede ini. Selipin satu juga gak apa-apa.”

Akhirnya si pembuang sampah sembarangan itu pun memungut sampahnya lagi dan menyimpannya di tas.

***

Kesel gak?

Saya sih kesel banget!

Salut sama kegigihan teman saya yang negor dengan santai dan bisa membuat sampah terpungut lagi.

Terus ya, saya jadi ingat ketika saya ke Kupang sama bos saya. Saat itu, kami sedang di dalam mobil. Terus sopir sewaan membuang sampah teh kotak dari dalam mobil ke jalanan. Tahukah kamu apa yang bos saya lakukan?

Bos: “Eh A [sebut dia A, daripada Mawar, kan? Ini kan sopirnya laki-laki dibahas], itu kamu kenapa buang sampah sembarangan?

A: Hehehe…kan gak apa-apa, Bos!

Bos: Berhentikan mobilnya dan tolong pungut lagi sampah tersebut.

Mobil pun berhenti dan sopir tersebut ngambil lagi sampahnya dan dia pun cari tempat sampah terdekat.

***

Dari dua contoh di atas, coba deh…geleng-geleng kepala gak sih kalau sampai sekarang…masiiiiih aja ada orang yang harus kita ingatkan untuk membuang sampah di tempatnya. Kalau pun gak ada tempatnya, bisa kan masukin tas dulu atau tenteng aja dulu kek ya!

Pengin banget bilang, “Keponakan-keponakan saya aja tau kalau sampah itu harus dibuang di tempat sampah atau kantongin dulu sampai nemu tempat sampahnya”.

Balik lagi ke kejadian yang pertama.

Tadi si pembuang sampah sembarangan bilang “gak akan banjir di sana karena di sana air terjun?”

Nih dijawab secepatnya:

Foto: Ci Evi
Foto: Ci Evi

Teman-teman lihat ada warung kan di sisi sebelah kiri foto? Nah, itu lokasi kami duduk-duduk dan si pembuang sampah sembarangan sempat membuang sampah di dekat-dekat situ. Ini terjadi lebih kurang 2 jam setelah kami ngobrol itu.

Duduk santai…hujan gerimis….hujan deras…gerimis…terus kami sempat lanjut untuk ke air terjun yang lebih jauh lagi, eh pas sampai sana tiba-tiba gledek beberapa kali. Saya dan beberapa teman memutuskan untuk lanjut turun dari air terjun dan mencari kamar mandi untuk berganti pakaian tapi beberapa teman lainnya memilih untuk berada di warung dulu. Eh, tidak disangka hujan semakin deras dan banjir pun datang!

Alhamdulillah teman-teman saya selamat semua. Wah, untuk cerita lengkapnya nanti deh, Insya Allah.

Kembali ke topik, kebayang gak kalau setengah dari pengunjung berpikiran yang sama, “Ah, sampah rokok doang.” atau “Sampah plastik doang! Kan gak ada tempat sampah!”

Ya elah…sorry nih ya kalau rada galak.

Kita protes kalau tempat wisata kotor. Kesel karena itu ngerusak hasil foto kita yang mau kita share di media sosial. Bilang kalau media asing terlalu menggembar-gemborkan sampah di Kuta saat foto sampah menjadi cover majalahnya. Tapi untuk naro sampah di tempatnya aja atau membawanya kembali pulang – at least sampai menemukan tempat sampah – kita enggan. Maunya tempat wisata yang bersih, indah, dan segar tapi pernah gak nanya ke diri sendiri, jangan-jangan kita, kebiasaan, dan pola pikir kita lah yang sebenarnya membuat rusak kebersihan tempat wisata. Beneran deh, I told you one think, if you not ready to clean up your trash, better you not traveling to anywhere!

Doh…please, change your mindset and behaviour! Gak susah kan buang sampah pada tempatnya? Gak kan?

Image from here

 

R.I

iLearn

After 6 Years 1 Month

“Dev, kamu siap gak untuk terjun langsung ke Kupang for two weeks?”

“Hah?”

“Iya, saya tahu ini dadakan banget!”

“…”

10 minutes later, “Ok Pak, saya siap”.

Itu percakapan 6 tahun yang lalu. Februari 2009. Percakapan yang menjadi awal mula karir saya di kantor ini.

Saya masih ingat secara jelas bagaimana saya, bos, dan dua teman tim harus mengambil motor di sungai yang deras saat harus menyebrang ke sebuah desa di pedalaman Kupang, dekat sekali dengan perbatasan Timor Leste.

Atau pas jam 3 pagi harus ada di bandara -sering banget ada di bandara jam 3 pagi- -_-*

Atau saat harus melewati titian rapuh di Desa Simandulang, Tanjung Balai Asahan, Medan.

Ah…

Banyaklah cerita menyenangkan di kantor ini, yang sebagian besar karena tindakan dan kelakuan bos saya. Setiap teman yang tahu banget sepak terjang saya di kantor pasti selalu bilang, “Bos lo gak bisa ditransfer ke kantor gw aja ya?” Hahaha…

Di balik segala kesenangan ini, ada juga pengalaman berharga lainnya. Dulu, saya pernah melakukan proofreading yang tidak terlalu teliti sehingga ada satu kata yang salah. Klien marah-marah. Bos pun menyampaikan kemarahan itu ke saya. Sedih banget saat itu.

Ketika pulang, dia hanya bilang, “Dev, don’t take it personally. See you tomorrow!”

🙂

Bahkan ya kalau lagi weekend, terus ada pekerjaan yang harus dia share ke saya, pasti di awal emailnya ditulis permintaan maaf karena sudah ganggu waktu weekend saya. Pernah juga tuh lembur di hari Sabtu eh dikasih tiket bioskop 2 orang dan pastinya uang lembur lah ya.

Benar banget kalau ada yang bilang untuk betah di sebuah kantor, diperlukan seorang bos yang benar-benar bisa bikin nyaman karyawannya. Dan saya mengamini hal ini. Dia ingin sekali saya belajar banyak di kantor ini. Tidak takut jika saya pindah ke kantor lain asal itu lebih baik dari kantor ini. Percaya gak kalau dulu saya pernah dikasih cuti 6 bulan karena saya ingin terlibat di penelitian teman saya. Dulu minta ijinnya cuma 3 bulan tapi Bos saya bilang, “Come on Deva, kita sama-sama tahu kalau di lapangan, keadaan gak pasti. 6 bulan kamu saya ijinkan cuti.”

Yeap, he is my boss and always be!

Gak cuma tentang pekerjaan. He could be my friend if I need someone to talk to. Really!

Pernah ada sebuah momentum di mana saya perlu waktu lama menyelesaikan sesuatu, yang berimbas kepada frekuensi saya di kantor. Saya email panjang lebar dan dibalas singkat, “Let’s take a coffee, Dev”. Akhirnya kami ngopi berdua. And we talked as a friend. Baik bangetlah beliau ini.

***

Time flies so fast.

Saya merasa butuh udara segar setelah 6 tahun di tempat yang sama.

Email pengunduran diri pun saya kirim. Dibalas dengan nada yang santai sesantai-santainya dan dukungan penuh agar saya dapat berprestasi di tempat baru. Tapi ada satu kalimat dari beliau yang bikin saya tersenyum,

Saya juga tidak mau terlalu formalitas tetapi tolong membawa satu bungkus rendang mamamu di hari terakhir kerja.

🙂

Saya pun memenuhi janji itu beberapa hari lalu. Kayak drama queen bangetlah tapi pas saya menutup pintu ruangan, dia tersenyum. *lap air mata* 

Bismillah…I am ready to open my new page.

See you when I see you, Boss!

While I and my friends busy to enjoy the landscape on Bukit Doa, Manado, he always busy with his job. :P
Proud to be your team, Boss! [Bukit Doa, Manado]
R.I

Blog English Club

[EF #10] Ransel Ijo and Her Outfit

The first time I read in admin’s group that we want to take OOTD (outfit of the day) as our weekly challenges, my face was changed like this -_-*

Hahaha…pardon me.

I never posting about fashion stuff in my blog. So this topic very challenging for me.

Here we go!

IMG_5345

That picture was taken by my friend, when we were in Cirebon, last October. The weather was hot so I need to always open my umbrella.

Here are the details of my outfit, based on the photo:

  • Casual dress (bought at ITC Cipulir),
  • Socks (bought at Mayestik),
  • Red veil (bought at Pondok Gede’s Mall),
  • Sandals (bought at Citos Mall), and
  • Of course my lovely Deuter – Ransel Ijo (bought at Tandike Store).

I am not always use Ransel Ijo on my daily. It depends on what I need to bring. If I need to bring many things, then I will use Deuter but if not I will use my Top Shop Bag. Like on this photo:

photo
Why I am look tired on this photo? o_O

So, after you read this writing, do you agree with Ola’s opinion about me, that I am woman with girly look? 😀

R.I

iLearn

Omongan itu Doa

Hari Rabu sore saya naik bajaj ke arah Wijaya dari Blok M demi menghadiri acara Ted X. Nah, ketika saya memberhentikan bajaj, saya kasih tau dong tujuan saya Wijaya 1.

Saya: 15 ribu ya, Pak.

Tukang Bajaj (TB): Iya Mbak *sambil ngebuka pintu bajaj dan bergegas nyalain gas*

Apa dalam pikiranmu?

TB itu setuju kalau bayarannya 15 ribu dan tahu arah ke Wijaya 1 kan?

Tidak lama, di perempatan jalan TB nanya banyak hal.

TB: Patokannya di mana, Mbak?

Saya: Pokoknya lurus aja Pak. Sebelah kanan lokasinya.

Jalan lagi.

TB: Mbak, itu sebelum SPBU?

Saya: Gak tau Pak. Beneran deh, cuma tinggal lurus aja kok.

Rasanya saya sudah cukup jelas untuk bilang saya tidak tahu patokannya. Saya baru 2 kali ke lokasi ini dan juga tidak bisa baca peta. Memasuki Wijaya, jalanan macet total dan hujan. Cara TB mengendarai bajaj pun sudah semakin ugal-ugalan demi bisa nyelip sana-sini. Pikir saya ketika itu, yawda deh ditambahin ongkosnya.

TB: Mbak, patokannya itu dimana sih?! *sedikit membentak*

Saya: Pak, dari tadi saya kan bilang saya gak tau…

TB: Itu sebelum SPBU atau di mana? Dari lampu merah masih jauh?

Saya: Pak, beneran…gak tau.

Hujan deras banget!

TB nanya hal serupa sampai saya bilang, “Pak, ini tinggal lurus. Nanti ongkosnya saya tambah.”

Eh, TB nyerocos gak jelas. Terus, dia minggirin bajajnya sambil ngebuka pintu.

TB: Mbak keluar aja sekarang. Ini macet banget. Saya gak dibayar juga gpp. Apa-apa gak tau kalo ditanya.

Saya: Ya ampun Pak, ini kan ongkosnya juga mau ditambah. Ini hujan, Pak.

TB: Udah keluar aja sekarang. Mau nyampe jam berapa ini! Keluar keluar!

Saya: *&%#

Emosi.

Jadi kemarin itu, hujan-hujanan lho! Gak ada payung juga. T_T

Terus cerita di atas, saya share ke Bang Dani dan Ryan, yang ketika itu juga mau menghadiri Tedx Jakarta.

Bang Dani: Iya sih emosi banget tapi kalau gw Dev, gw kasih uangnya. Gw doain dia biar berkah usahanya. Dia gak mikir kalau siapa tahu abis ngedrop lo, justru dia dapat penumpang lagi.

Saya: Duh, jadi bersalah banget udah emosi tadi.

Bang Dani: Wajar. Tapi coba diinget, kita kan gak tau doa apa dan kapan yang dikabulkan Malaikat.

DEG!

Jadi ingat kejadian beberapa hari lalu saat saya lagi main ke rumah Tante. Beliau lagi sakit. Terus ngomong gini ke anaknya yang masih kelas 1 SD: “Duh, Ibu pusing banget nih Dek. Berasa mau pingsan.” – ini ngomongnya becanda ya.

Terus sepupu saya yang kelas 1 SD itu ngejawab, “Ih Ibu, omongan kan itu doa.”

DEG!

Wah…kalau dilanjutin kontemplasi saya tentang omongan adalah doa bisa panjang bener. 🙂

Be careful to what you want to saySementara saya mau mikir-mikir lagi tentang kontemplasi hari ini, coba deh baca tulisan tentang doa yang linknya saya dapatkan dari Nadia.

R.I

Uncategorized

Morning Dew

The sweet reminder from Mbak Mikan.

Doh…I am so bad to write some short opening in the rebloged post. 😐

Just click the original post, readers!

riemikan

I recently came across Steve Harvey’s new book,”Act Like a Success Think Like a Success” (actually published in September 2014). I remember reading his first #1 New York Times bestseller, ” Act Like a Lady, Think Like a Man” which was a really good guidance for those single ladies waiting to find their plus one. The book helps women to be successful in love by sorting out characteristics and criteria that really matter to them in finding their life time partner. I really like the book because it is practical and told from a man’s perspective giving its female readers a powerful insight on what this species is really thinking when they say something 😀

With the same funny yet firm style, Steve gives warm and insightful voice in simple and easy language on how to succeed in life by defining your gift, perfecting it and riding it to success. I…

View original post 226 more words

iTalk

Pilih Kenyamanan atau Kelezatan?

Selera saya ini selera orang Indonesia kebanyakan. Suka masakan yang pedas, porsi masakan yang cukup di perut, ada nasinya, dan yang paling penting bisa ngobrol dengan lama.

Tapi sekarang untuk mendapatkan hal-hal di atas, harus dibarengi dengan harga yang mahal. Karena…iya, harga dolar lagi naik gila-gilaan. Merembet ke kenaikan harga beras, harga bawang juga. Apalagi…cabe. Wajar juga kalau semua pihak yang terkait makan-makanan kayak pemilik restoran dan pedagang kaki lima menaikkan harga dagangannya mereka.

Sedihnya, kenaikan harga ini gak serta merta menaikkan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus pintar-pintar banget jika mau membuat keputusan yang terkait sama uang. Kayak misalnya mau makan di luar. Harus banget tuh tanya ke diri sendiri: cari tempat yang nyaman banget dengan risiko harga menu yang (sering banget) di luar nalar dan rasa masakannya yang mungkin biasa-biasa aja. Atau mau makan di kaki lima dengan rasa masakan yang biasanya cocok dengan lidah, tapi gak bisa ngobrol lama dan kadang lokasinya harus di pinggir jalan, yang mana debu dan asap berebutan minta disapa.

Ya, perbedaan sederhananya gini deh: mau makan di restoran yang mengutamakan kenyamanan tapi rasa biasa atau kaki lima yang mengutamakan rasa tapi kita makan harus buru-buru?

Malah ya, yang saya dengar dari Ryan semalam bahwa restoran di bilangan Jakarta sonoan dikit, setiap 2-3 bulan sekali, silih datang berganti. Dekorasi oke banget tapi rasa masakan yang biasa banget sehingga gak ada customer yang setia untuk datang berkali-kali. Dan teman-teman, pernah dengan ZMOT? Zero Moment of Truth. Biasanya istilah ini dipakai dalam bidang marketing, di mana jaman sekarang orang-orang gampang banget bikin keputusan jadi makan di restoran A atau gak, hanya dengan cari referensi di media sosial, tanpa merasa perlu untuk mencobanya sendiri dulu.

Kebayang ya, betapa keras usaha para pelaku usaha restoran atau kaki lima untuk mempertahankan bisnis mereka.

Sembari nulis ini, hati kecil saya kayak ngomong: “Masih mending kita punya pilihan mau makan di mana? Coba liat bapak yang jualan tissue di lampu merah, apa beliau punya pilihan mau makan di mana? Mereka (kemungkinan besar) lebih berpikir mau makan apa hari ini!”

Gak tau sih, ini perasaan saya aja atau memang kenyataannya di lapangan seperti ini. Tapi yang ingin saya tulis, harga memang udah gila-gilaan naik. Dan beberapa kali menerima laporan klien tentang pendapatan mereka, pada bilang lesu. Padahal mereka bergerak di bidang yang sering kita bilang “basah banget kalau kerja di situ”.

Maaf ya kalau pembahasannya ruwet. Kalau dolar terus naik, saya rasa semakin banyak lagi konsumen yang lebih mementingkan rasa daripada kenyamanan di sebuah restoran. Dan para pelaku usaha restoran harus benar-benar membuat strategi yang tepat agar para konsumen tetap mau datang ke restoran mereka berkali-kali meski harga yang mereka tetapkan jauh lebih tinggi dibandingkan di kaki lima.

R.I