Isi Keraton Kasepuhan

Setiap kali saya mendengar kata Keraton, pikiran saya langsung melintas hal-hal spiritual, magis, dan ujung-ujungnya takut. Makanya sampai sekarang sudah bolak-balik Semarang, masih belum berani untuk ke Lawang Sewu. Lah padahal gak ada kata-kata Keraton, dep! *tepok jidat*

Balik lagi ke Keraton Kasepuhan.

Ketika memutuskan untuk berlibur sejenak di kota Cirebon, hampir semua keyword yang keluar dari Google adalah wisata religi dan wisata kuliner di Cirebon. Salah satu tempat wisata yang ngehits di Cirebon adalah Keraton Kasepuhan. Yawda deh kita ke sana. Untungnya siang hari. Ya…kalau malam, Keratonnya gak bukalah.

Setelah membayar tiket sebesar Rp 20 ribu, kami pun langsung mendapat guide (yang bayarannya terpisah dari tiket). Awal mula sebenarnya kaget kok tiba-tiba ada guide ya tapi setelah dipikir-pikir ya gak apa-apalah, justru dengan adanya guide para pengunjung makin tahu sejarah tempat tersebut. Lagian ya kalau lagi jalan-jalan udaaaah…jangan terlalu pusing sama ongkos. 😛 Pusingnya pas udah di rumah aja. 😛

[Foto: Tella] Yeay, selfie bareng Pak Satu, tour guide di Keraton Kasepuhan yang sudah bekerja selama 20 tahun
[Foto: Tella]
Yeay, selfie bareng Pak Satu, tour guide di Keraton Kasepuhan yang sudah bekerja selama 20 tahun
Pak Satu menjelaskan bahwa interior Keraton Kasepuhan sangat kental dengan suasana Islam dan Hindu. Dan pasti di setiap sudutnya mengandung berbagai macam makna. Contohnya, 5 buah tiang penyangga di Pandawa Lima diartikan sebagai jumlah rukun Islam.

Keraton Kasepuhan

Di sela-sela kunjungan kami di Keraton Kasepuhan, kami beristirahat sejenak di sebuah bangunan Keraton untuk sholat Dzuhur, yang dipimpin oleh Pak Satu. Di saat cuaca yang panasnya tidak reda-reda, air wudhu yang juga panas, eh…angin semilir datang di tempat kami sholat. Sejuknya! Berhasil bikin kami malas gerak.

Tapi tanggung juga kalau mau selesai di sini, akhirnya kami tetap mengikuti langkah Pak Satu ke Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan.

Nah, sesuai fungsi utama sebuah museum maka banyak benda bersejarah di dalam ruangan ini. Dari peninggalan negeri tetangga yang diberikan kepada pihak Keraton, sampai peninggalan VOC juga ada. Yang menarik adalah di beberapa benda terdapat uang yang sengaja diletakkan di sana. “Untuk tips kebersihan aja,” kata Pak Satu menjelaskan hal tersebut kepada kami.

Keraton Kasepuhan 2

Di dalam museum ini sebenarnya ada lukisan Prabu Siliwangi yang tatapan mata dan arah jari kakinya bisa mengikuti kemanapun kita pergi. Setelah saya dan teman-teman mencoba sih ya emang iya. Saya tidak mau memfoto lukisan ini. 😀

Lukisan ini mengingatkan saya kepada sebuah lukisan di Ullen Sentalu, yang matanya dibuat bisa melirik para pengunjung juga. Mmm…efek 3 dimensi kah?

Ternyata lukisan Prabu Siliwangi merupakan highlight terakhir dari Keraton Kasepuhan yang dapat kami lihat. Untuk kalian yang ingin tahu lebih lengkap tentang Keraton Kasepuhan bisa dibaca di sini, di website resmi mereka, dan juga ada akun twitternya, lho. Bagus ya. 😀

Sebagai penyuka jalan-jalan, rasanya senang euy kalau informasi tentang sebuah tempat/objek wisata lebih mudah diperoleh dan semoga kita semua bisa menjaga objek wisata, minimal niiiih gak buang sampah sembarangan. Yes?

R.I