Ibu Tua Berkerudung Abu-Abu

Jamaah perempuan di sebelahku sholat dengan duduk. Seorang ibu tua dengan kerudung berwarna abu-abu, setelah berwarna hitam, dan kaos kaki yang sudah termakan usia.

“Nama saya Renvil. Namamu siapa?”

Saya jawab dengan sambil menjabat tangannya yang penuh dengan kerut. Matanya tidak menggunakan kacamata tapi jelas kelopak matanya sudah kendur dengan lipatan muka yang tidak lagi sedikit.

“Ibu rumahnya di mana?” saya mencoba membuka percakapan.

“Pademangan, dekat PRJ. Kamu di mana?” jawabnya dengan suara yang parau tapi tegas.

“Pademangan? Jakarta Utara? Masya Allah jauh banget, Bu! Naik apa?” tanya saya kaget.

Bayangkan saja lokasi Masjid Daarut Tauhid itu di dekat Pasar Santa, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sedangkan Pademangan itu di Jakarta Utara, dekat Kelapa Gading! Ingatan saya melesat ke sebulan yang lalu saat saya ada janji temu dengan teman di Kelapa Gading. Ketika itu dari rumah saya di Jakarta Selatan ke Kelapa Gading, saya harus naik TransJakarta berkali-kali, menunggu bis dengan lama, jarak tempuh yang jauh, dan naik turun tangga berkali-kali. Saya, belum menginjak 30 tahun, sudah kelelahan menempuh perjalanan itu. Tapi Ibu Renvil? Masya Allah!

Melihat reaksi saya yang kaget, Ibu Renvil bercerita, “Saya naik bis 4 kali dari Blok M. Gak naik busway soalnya kaki gak kuat naik turun tangga. Kalau naik bis, gak perlu naik turun tangga. Ntar dari Blok M, naik 66, turun di depan sana (menunjuk ke arah jalan depan pintu Masjid). Tadi hujan, jadi saya naik bajaj supaya gak telat.”

“Saya lihat Ibu ikut kelas Tahsin juga ya di sini?” selidik saya demi memenuhi rasa penasaran saya dari minggu lalu saat kali pertama melihat Ibu Renvil sebagai peserta kelas Tahsin tertua.

“Iya, Nak. Ibu mau terus belajar baca Al-Qur’an meskipun sudah tua. Selama masih ada umur. Kamu juga ikut ya? Udah sering?,” jawabnya pelan.

“Baru ikut, Bu. Ibu udah sering?” tanya saya balik.

“Baru sekali kok,kemarin sekali. Sama ini dua kali.”

Saya mencoba bertanya lagi, “Bu, kelas kan dimulai jam 7 pagi. Ibu berangkat dari rumah jam berapa?”

“Jam 6 biasanya tapi karena tadi ada tamu, saya harus antar dulu. Jadi tadi sedikit terlambat,” nada suaranya terkesan menyesal sudah datang terlambat.

“Sendirian ya, Bu? Ibu hebat banget. Jauh-jauh dari Pademangan ke sini. Bahkan tadi pagi kan hujan.”

“Dibela-belain demi dapat ilmu.”

Nyes!

Ibu tua dari Pademangan berangkat jam 6 demi ilmu. Saya, yang masih lebih kuat, rumah dekat, berangkat dari rumah jam 7 kurang 15 menit. Hah!

Suara iqamat terdengar di telinga kami, yang menandakan saatnya sholat Dzuhur. Kami menghentikan percakapan dan merapikan shaf. Saya, merapatkan barisan ke sebelah kanan dan melihat Ibu Renvil di sebelah kiri saya berusaha untuk memperbaiki shafnya.

“Ibu duduk aja ya. Gak kuat kalau berdiri,” mata teduh Ibu Renvil menatap saya.

Dan saat itu terjadi, jangan tanya perasaan yang berkecamuk di hati saya.

***

Tulisan di atas saya tulis di akhir Januari 2015. Ada ketakjuban lain yang diberikan Ibu Renvil kepada saya di pertengahan Februari ini.

Dua minggu lalu, saya, Bu Renvil, dan teman-teman lainnya jalan-jalan ke daerah Puncak, Cilembar untuk ya…sebutlah bertafakur. Saya tak sangka Bu Renvil akan ikut juga ke acara ini. Tapi kenyataannya beliau ikut meski dengan langkah yang lebih lama dibandingkan anggota lainnya.

2015/02/img_6859.jpg

Jalan setapak ini yang harus dilalui Bu Renvil saat bertafakur.

Selalu tidak bisa berhenti takjub setiap kali melihat seseorang dengan semangat belajar yang tinggi.

2015/02/img_5947.jpg
Hidup memang bukan perlombaan tapi jika untuk kebaikan, kenapa tidak? Bukan untuk sebuah tropi kemenangan.

Terima kasih, Ibu Renvil. Semoga Allah selalu menjaga dan merahmati Ibu.

R.I

Advertisements

iTravel: Menuju Hutan Mati, Papandayan

Setelah merasa cukup puas dengan pemandangan di Tegal Panjang,  saya dan teman-teman pun melanjutkan perjalanan ke Hutan Mati, Papandayan. Tidak semua teman pergi ke Hutan Mati, Papandayan karena beberapa dari mereka sudah pernah ke sana sebelumnya. Berhubung saya belum pernah, saya pun ikut ke Hutan Mati tersebut.

Saya tidak punya bayangan sedikit pun mengenai bentuk dan rupa Hutan Mati di Papandayan. Yang saya tahu hanyalah banyak pasangan yang berfoto-foto di Papandayan karena tempatnya yang eksotik dan cukup mudah untuk dijangkau.

Dari Tegal Panjang ke Hutan Mati, Papandayan harus diakui jalannya tidak terlalu terjal. Tapi tetap harus berhati-hati. Kita akan melewati Pondok Salada dan menyeberangi sungai sebelum masuk ke area tracking Hutan Mati.

Kira-kira dibutuhkan perjalanan 15 menit untuk sampai ke Hutan Mati. Dan ekspresi saya pertama kali saat melihat tempat itu hanya diam. Lebih tepatnya diam karena terpukau dengan keindahannya.

Hutan Mati Papandayan

Bagaimana perasaanmu saat melihat tempat seperti itu?

Saya bertanya kepada seorang teman tentang penyebab matinya Hutan Papandayan. Sayangnya tidak ada jawaban yang jelas mengenai hal ini, selain: dulu letusannya gede banget. Tapi akhirnya saya menemukan cerita yang lebih lengkap di tulisan ini. Silahkan diklik. 🙂

Saat perjalanan pulang, saya melihat ada beberapa motor yang hilir mudik di area Papandayan.

Pengunjung Hutan Mati Papandayan

Karena area ini kental dengan bau belerang maka baiknya mempersiapkan masker agar tidak terlalu pusing dengan baunya, ya.

Oh ya, saat perjalanan pulang, cuaca mendadak gerimis yang lumayan deras. Jadi kalau ini terjadi dengan kamu, jangan terlalu jauh ya jaraknya dengan anggota tim yang lain. Karena jika hujan di sini, kabutnya lumayan tebal dan jalanan yang semula mudah dilewati, mendadak sangat licin. 😉

Ada yang sudah pernah ke Hutan Mati, Papandayan? Seru kan? 😀

R.I