[EF #8] The Letter for Younger Me

Dear Younger Me,

How are you? Still busy to keep your achievement in the class and join with the campus organization?

I know, sometimes you feeling sad because you have limited time to go to the mall with your friends. But it’s ok. You can see a few months or a year later, they will come to you. And after that, you will have much time to hang out with them. Yes, your best friends until 10 years after and still counting. Trust me!

7 years after you will take a short trip to Curug Nangka with them. :D
7 years after you will take a short trip to Curug Nangka with them. 😀

I write this letter because I want to say thank you to your effort to be the best student in the colleges. Thank you to keep your spirit as high as you can. If you not doing this, I do not know what going happen today.

Keep up your spirit because you are the one, who will receive all the result of your effort.

Bisous!

Isi Keraton Kasepuhan

Setiap kali saya mendengar kata Keraton, pikiran saya langsung melintas hal-hal spiritual, magis, dan ujung-ujungnya takut. Makanya sampai sekarang sudah bolak-balik Semarang, masih belum berani untuk ke Lawang Sewu. Lah padahal gak ada kata-kata Keraton, dep! *tepok jidat*

Balik lagi ke Keraton Kasepuhan.

Ketika memutuskan untuk berlibur sejenak di kota Cirebon, hampir semua keyword yang keluar dari Google adalah wisata religi dan wisata kuliner di Cirebon. Salah satu tempat wisata yang ngehits di Cirebon adalah Keraton Kasepuhan. Yawda deh kita ke sana. Untungnya siang hari. Ya…kalau malam, Keratonnya gak bukalah.

Setelah membayar tiket sebesar Rp 20 ribu, kami pun langsung mendapat guide (yang bayarannya terpisah dari tiket). Awal mula sebenarnya kaget kok tiba-tiba ada guide ya tapi setelah dipikir-pikir ya gak apa-apalah, justru dengan adanya guide para pengunjung makin tahu sejarah tempat tersebut. Lagian ya kalau lagi jalan-jalan udaaaah…jangan terlalu pusing sama ongkos. 😛 Pusingnya pas udah di rumah aja. 😛

[Foto: Tella] Yeay, selfie bareng Pak Satu, tour guide di Keraton Kasepuhan yang sudah bekerja selama 20 tahun
[Foto: Tella]
Yeay, selfie bareng Pak Satu, tour guide di Keraton Kasepuhan yang sudah bekerja selama 20 tahun
Pak Satu menjelaskan bahwa interior Keraton Kasepuhan sangat kental dengan suasana Islam dan Hindu. Dan pasti di setiap sudutnya mengandung berbagai macam makna. Contohnya, 5 buah tiang penyangga di Pandawa Lima diartikan sebagai jumlah rukun Islam.

Keraton Kasepuhan

Di sela-sela kunjungan kami di Keraton Kasepuhan, kami beristirahat sejenak di sebuah bangunan Keraton untuk sholat Dzuhur, yang dipimpin oleh Pak Satu. Di saat cuaca yang panasnya tidak reda-reda, air wudhu yang juga panas, eh…angin semilir datang di tempat kami sholat. Sejuknya! Berhasil bikin kami malas gerak.

Tapi tanggung juga kalau mau selesai di sini, akhirnya kami tetap mengikuti langkah Pak Satu ke Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan.

Nah, sesuai fungsi utama sebuah museum maka banyak benda bersejarah di dalam ruangan ini. Dari peninggalan negeri tetangga yang diberikan kepada pihak Keraton, sampai peninggalan VOC juga ada. Yang menarik adalah di beberapa benda terdapat uang yang sengaja diletakkan di sana. “Untuk tips kebersihan aja,” kata Pak Satu menjelaskan hal tersebut kepada kami.

Keraton Kasepuhan 2

Di dalam museum ini sebenarnya ada lukisan Prabu Siliwangi yang tatapan mata dan arah jari kakinya bisa mengikuti kemanapun kita pergi. Setelah saya dan teman-teman mencoba sih ya emang iya. Saya tidak mau memfoto lukisan ini. 😀

Lukisan ini mengingatkan saya kepada sebuah lukisan di Ullen Sentalu, yang matanya dibuat bisa melirik para pengunjung juga. Mmm…efek 3 dimensi kah?

Ternyata lukisan Prabu Siliwangi merupakan highlight terakhir dari Keraton Kasepuhan yang dapat kami lihat. Untuk kalian yang ingin tahu lebih lengkap tentang Keraton Kasepuhan bisa dibaca di sini, di website resmi mereka, dan juga ada akun twitternya, lho. Bagus ya. 😀

Sebagai penyuka jalan-jalan, rasanya senang euy kalau informasi tentang sebuah tempat/objek wisata lebih mudah diperoleh dan semoga kita semua bisa menjaga objek wisata, minimal niiiih gak buang sampah sembarangan. Yes?

R.I

iEat: 3 Masakan Makassar Terenak versi Ransel Ijo

Setelah beberapa minggu lalu saya menulis tentang deretan masakan Padang yang terenak versi saya, sekarang saatnya kita jalan-jalan ke Makassar.

Kali pertama saya ke Makassar adalah di pertengahan Agustus tahun 2013. Saat itu melakukan road trip sampai ke Toraja dengan berbekal tiket murah dari maskapai kesayangan yang itu tuh *bisikin*. 😀

Oke mari kita mulai.

Coto Makassar

Perlengkapan masaknya keliatan sederhana banget Tapi rasanya...enak banget! Bintang 5.
Perlengkapan masaknya keliatan sederhana banget Tapi rasanya…enak banget! Bintang 5.

 

Syukurlah ketika kaki saya baru melangkah di Makassar, ada seorang kenalan teman di Makassar yang langsung menjamu kita di restoran dekat kantornya, yaitu masakan Coto Makassar dengan menggunakan ketupat. Meski mangkuknya kecil tapi dagingnya banyak banget. 😛 Santannya itu lho juara!

Coto Makassar

Pallu Basa

Pallu Basa

Saya ingin coba Palu Basa karena kata seorang teman, rasanya nendang banget. Dan ternyata benar. Memang tidak jauh berbeda dengan Coto Makassar tapi rasanya lebih ‘berat’ dari Coto Makassar. Bingung euy jelasinnya gimana, kental dan sangraian kelapanya itu lho…juara! Dan yang pasti waktu itu mangkuk saya sampai bersih. Hahahaa!

Mie Titi

Nah ini saya coba saat mau makan malam sesaat sebelum lanjut ke Toraja. Diskusi sana-sini mau makan di mana sampai tibalah kami di restoran Jl Boulevard Ruko Rubi II, Panakkukang yang katanya terkenal banget dengan Mie Titinya. Full house tuh restoran. Begitu Mie Titi tiba saya bengong, rasanya unik. 😀

Mie Titi

Ciri khas masakan Makassar yang kentara banget adalah penggunaan rempahnya yang berlimpah. 11-12 lah ya sama Padang. Uhuk! Mungkin inilah penyebab lidah saya cukup cocok dengan ketiga masakan Makassar di atas.

Duh, abis nulis daftar ini saya jadi pengin ke Makassar lagi. Hahaha…

Pengin snorkeling sampai gosong di Tanjung Bira, sampai ke Pulau Kambing, dan Pulau Liukang.

IMG_2986Atau berenang cantik kayak gini:

IMG_3111

Atau sekedar ngeliat sunset di Ramang-Ramang kayak gini:

Ramang-Ramang

Nah, karena waktu itu full road trip, kalau saya ada kesempatan lagi ke Makassar, saya mau ah nyobain hotel-hotel di Kota Makassarnya, seperti Miko Hotel Makassar, Amaris Hotel, dan Tune Hotel Makassar, yang jaraknya tuh dekat banget sama Pantai Losari. Itu lho highlightnya Makassar. Biar bisa foto kayak gini. Uhuk!

Pantai Losari

Apalagi sekarang mah ya udah ada Traveloka, yang nyediain informasi lengkap tentang segala jenis hotel dan tiket ke mana aja. Sekali klik bisa tahu harga yang perlu kita bayar. Gak ada lagi deh kaget-kagetan pas di resepsionis, “Oh, yang biaya ini belum di-cover di pembayaran online kemarin.” Uhuk!

Kayaknya seru ya kalau ketika mau traveling semua akomodasi sudah siap tersedia. Sekalinya tiba di bandara, udah jelas mau nginap dimana dan mau ngabisin waktu kayak gimana. Ah…kakiku gatal mau jalan-jalan!

R.I

[EF #7] Enjoy the Moment

IMG_5947

The picture taken on December, 2014 in Cirebon when I and my friends went to Kasepuhan Palace. We used two pedicabs and pay Rp 10.000,- per each. When suddenly turned around, I saw those two pedicabs drivers chatting while driving the pedicabs. Mmm…maybe I just mellow at that time but when I saw those two drivers, I smile. And talk to myself, “Life is not competition to be won.”

Ah, suddenly I am thinking about Jakarta, a very crowded city and full of the competition and…anger.

Let me tell you the story.

When I want to go to the office this morning, I saw a woman screaming to the bus driver, who push her motorcycle until the woman fall down, mm…not really fall down actually but just shaky a little bit. After that, some people come to help the woman and the bus driver need to pay some compensation to the women.

And the incident like that happens a lot of time in Jakarta.

To be honest, I feel sad every time I saw the incident like this. I am sad some people need to be fighting in the public area and shout some harsh words.

Back to those two pedicabs drivers, I saw peace on their faces. They are not in hurry to do their job. They enjoy the moment.

Well, when is the last time you really enjoy YOUR moment and do you can handle your emotion when meet something out of your expectation?

R.I

Ibu Tua Berkerudung Abu-Abu

Jamaah perempuan di sebelahku sholat dengan duduk. Seorang ibu tua dengan kerudung berwarna abu-abu, setelah berwarna hitam, dan kaos kaki yang sudah termakan usia.

“Nama saya Renvil. Namamu siapa?”

Saya jawab dengan sambil menjabat tangannya yang penuh dengan kerut. Matanya tidak menggunakan kacamata tapi jelas kelopak matanya sudah kendur dengan lipatan muka yang tidak lagi sedikit.

“Ibu rumahnya di mana?” saya mencoba membuka percakapan.

“Pademangan, dekat PRJ. Kamu di mana?” jawabnya dengan suara yang parau tapi tegas.

“Pademangan? Jakarta Utara? Masya Allah jauh banget, Bu! Naik apa?” tanya saya kaget.

Bayangkan saja lokasi Masjid Daarut Tauhid itu di dekat Pasar Santa, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sedangkan Pademangan itu di Jakarta Utara, dekat Kelapa Gading! Ingatan saya melesat ke sebulan yang lalu saat saya ada janji temu dengan teman di Kelapa Gading. Ketika itu dari rumah saya di Jakarta Selatan ke Kelapa Gading, saya harus naik TransJakarta berkali-kali, menunggu bis dengan lama, jarak tempuh yang jauh, dan naik turun tangga berkali-kali. Saya, belum menginjak 30 tahun, sudah kelelahan menempuh perjalanan itu. Tapi Ibu Renvil? Masya Allah!

Melihat reaksi saya yang kaget, Ibu Renvil bercerita, “Saya naik bis 4 kali dari Blok M. Gak naik busway soalnya kaki gak kuat naik turun tangga. Kalau naik bis, gak perlu naik turun tangga. Ntar dari Blok M, naik 66, turun di depan sana (menunjuk ke arah jalan depan pintu Masjid). Tadi hujan, jadi saya naik bajaj supaya gak telat.”

“Saya lihat Ibu ikut kelas Tahsin juga ya di sini?” selidik saya demi memenuhi rasa penasaran saya dari minggu lalu saat kali pertama melihat Ibu Renvil sebagai peserta kelas Tahsin tertua.

“Iya, Nak. Ibu mau terus belajar baca Al-Qur’an meskipun sudah tua. Selama masih ada umur. Kamu juga ikut ya? Udah sering?,” jawabnya pelan.

“Baru ikut, Bu. Ibu udah sering?” tanya saya balik.

“Baru sekali kok,kemarin sekali. Sama ini dua kali.”

Saya mencoba bertanya lagi, “Bu, kelas kan dimulai jam 7 pagi. Ibu berangkat dari rumah jam berapa?”

“Jam 6 biasanya tapi karena tadi ada tamu, saya harus antar dulu. Jadi tadi sedikit terlambat,” nada suaranya terkesan menyesal sudah datang terlambat.

“Sendirian ya, Bu? Ibu hebat banget. Jauh-jauh dari Pademangan ke sini. Bahkan tadi pagi kan hujan.”

“Dibela-belain demi dapat ilmu.”

Nyes!

Ibu tua dari Pademangan berangkat jam 6 demi ilmu. Saya, yang masih lebih kuat, rumah dekat, berangkat dari rumah jam 7 kurang 15 menit. Hah!

Suara iqamat terdengar di telinga kami, yang menandakan saatnya sholat Dzuhur. Kami menghentikan percakapan dan merapikan shaf. Saya, merapatkan barisan ke sebelah kanan dan melihat Ibu Renvil di sebelah kiri saya berusaha untuk memperbaiki shafnya.

“Ibu duduk aja ya. Gak kuat kalau berdiri,” mata teduh Ibu Renvil menatap saya.

Dan saat itu terjadi, jangan tanya perasaan yang berkecamuk di hati saya.

***

Tulisan di atas saya tulis di akhir Januari 2015. Ada ketakjuban lain yang diberikan Ibu Renvil kepada saya di pertengahan Februari ini.

Dua minggu lalu, saya, Bu Renvil, dan teman-teman lainnya jalan-jalan ke daerah Puncak, Cilembar untuk ya…sebutlah bertafakur. Saya tak sangka Bu Renvil akan ikut juga ke acara ini. Tapi kenyataannya beliau ikut meski dengan langkah yang lebih lama dibandingkan anggota lainnya.

2015/02/img_6859.jpg

Jalan setapak ini yang harus dilalui Bu Renvil saat bertafakur.

Selalu tidak bisa berhenti takjub setiap kali melihat seseorang dengan semangat belajar yang tinggi.

2015/02/img_5947.jpg
Hidup memang bukan perlombaan tapi jika untuk kebaikan, kenapa tidak? Bukan untuk sebuah tropi kemenangan.

Terima kasih, Ibu Renvil. Semoga Allah selalu menjaga dan merahmati Ibu.

R.I